PKM FKKH Undana Ajarkan Warga Kuimasi Budidaya Lele dan Sayuran di Pekarangan

BeritaNasional.ID, KUPANG – Pemanfaatan lahan pekarangan rumah menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan keluarga untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus memenuhi kebutuhan gizi.
Hal inilah yang didorong tim dosen Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Kuimasi, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Pemanfaatan Pekarangan Produktif Melalui Sistem Terpadu Budidaya Lele dan Sayuran untuk Pemenuhan Gizi Keluarga.”
Program ini diketuai drh. Tri Utami, M.Sc, dengan anggota tim terdiri atas Prof. Dr. drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc, drh. Diana Agustiani Wuri, M.Si, dan drh. Antin Y.N. Widi, M.Trop.V.Sc, Ph.D.
Pemilihan Desa Kuimasi sebagai lokasi pengabdian tidak terlepas dari kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah masih adanya kasus stunting pada anak-anak, sementara potensi pekarangan rumah sebagai sumber pangan bernutrisi belum dimanfaatkan secara optimal.
Kegiatan diawali pada 3 Juli 2026 melalui koordinasi tim pelaksana dengan Kepala Desa Kuimasi, Maksen A.F. Lifu. Koordinasi tersebut menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi persoalan yang dihadapi masyarakat sekaligus merumuskan solusi yang dapat diterapkan sesuai potensi lingkungan dan kebutuhan keluarga.
Dari proses tersebut, tim melihat bahwa pemanfaatan pekarangan secara produktif dapat menjadi salah satu pendekatan yang aplikatif.
Masyarakat tidak hanya diarahkan untuk menanam sayuran, tetapi juga mengembangkan budidaya ikan lele secara terpadu sehingga satu pekarangan dapat menghasilkan lebih dari satu sumber pangan.
Tahap berikutnya dilaksanakan pada 20 Agustus 2026 melalui kegiatan edukasi dan penyuluhan. Sebanyak 25 orang yang terdiri dari kader Posyandu dan masyarakat Desa Kuimasi mengikuti kegiatan tersebut.
Ketua Tim PKM, drh. Tri Utami, M.Sc, menyampaikan laporan kegiatan sekaligus menjelaskan latar belakang pelaksanaan program. Ia menekankan bahwa pekarangan rumah memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ruang produktif yang dapat memberikan manfaat langsung bagi keluarga.
Melalui program tersebut, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan pekarangan untuk membudidayakan ikan lele dan sayuran sebagai sumber pangan keluarga.
Dalam konteks pemenuhan gizi, keterlibatan keluarga menjadi sangat penting. Para orang tua, terutama ibu, memiliki peran strategis dalam menentukan pola konsumsi dan pemenuhan kebutuhan gizi anggota keluarga.
Sementara itu, Kepala Desa Kuimasi, Maksen A.F. Lifu, memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan penyuluhan. Kehadiran pemerintah desa menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan program yang diarahkan untuk memberikan manfaat praktis bagi masyarakat.
Materi utama penyuluhan disampaikan Rifka Liling Palinggi, M.Si, dosen dengan bidang kepakaran Budidaya Perairan pada Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan (FPKP) Undana.
Rifka memperkenalkan sistem aquaponik Budikdamber, yakni konsep budidaya ikan dalam ember yang dipadukan dengan budidaya sayuran. Sistem ini memungkinkan masyarakat memanfaatkan ruang terbatas di sekitar rumah untuk menghasilkan ikan dan sayuran secara bersamaan.
Dalam penyuluhan, masyarakat mendapatkan penjelasan mengenai berbagai aspek teknis, mulai dari pemberian pakan ikan lele, pengelolaan limbah ikan, proses biologis yang berlangsung di dalam media pemeliharaan ikan, hingga pemanfaatan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Konsep aquaponik tersebut memanfaatkan hubungan antara budidaya ikan dan tanaman. Limbah atau sisa metabolisme ikan yang terdapat dalam air dapat melalui proses biologis tertentu sehingga unsur-unsurnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Sebaliknya, keberadaan tanaman menjadi bagian dari sistem yang membantu menjaga kualitas lingkungan pemeliharaan. Dengan pendekatan tersebut, budidaya ikan dan sayuran dapat dilakukan dalam satu sistem yang lebih efisien.
Bagi masyarakat Desa Kuimasi, teknologi ini memiliki keunggulan karena dapat diterapkan pada lahan yang relatif sempit. Sistem Budikdamber juga dinilai hemat penggunaan air, ekonomis dan relatif mudah diterapkan sebagai bagian dari pemanfaatan pekarangan rumah.
Program PKM Undana tersebut tidak hanya berorientasi pada pemberian pengetahuan melalui penyuluhan. Tim pelaksana juga memberikan bantuan berupa bibit ikan lele, bibit sayuran, perlengkapan budidaya ikan dan sayuran, serta melakukan pendampingan kepada masyarakat mitra.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat masyarakat tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat langsung mempraktikkan teknologi yang diperkenalkan.
Pendampingan menjadi bagian penting karena keberhasilan pemanfaatan pekarangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam merawat ikan dan tanaman secara berkelanjutan.
Melalui program ini, masyarakat diarahkan untuk melihat pekarangan bukan sekadar ruang kosong di sekitar rumah, melainkan sebagai sumber pangan yang dapat dikelola secara produktif.
Jika diterapkan secara konsisten, budidaya ikan lele dan sayuran di pekarangan dapat memberikan alternatif sumber protein dan sayuran bagi keluarga sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar rumah.
Program PKM FKKH Undana di Desa Kuimasi pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai teknologi budidaya. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diarahkan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Penyuluhan, pelatihan teknis, bantuan sarana produksi dan pendampingan menjadi satu rangkaian yang diharapkan mampu membangun kebiasaan baru dalam mengelola pekarangan.
Dengan sistem terpadu budidaya lele dan sayuran, satu ruang pekarangan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sumber pangan yang beragam. Konsep ini sekaligus memperkenalkan cara sederhana untuk mengintegrasikan aspek produksi pangan dengan pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.
Tim pelaksana berharap program tersebut dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Kuimasi dan menjadi bagian dari upaya pemanfaatan pekarangan secara produktif dan berkelanjutan.
Bagi keluarga, pekarangan yang dikelola dengan baik bukan hanya dapat menjadi sumber pangan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi anggota keluarga mengenai pentingnya kemandirian pangan, pola konsumsi bergizi dan pemanfaatan sumber daya secara bijaksana.
Melalui kegiatan ini, Undana menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat diwujudkan melalui teknologi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari sebuah pekarangan rumah, masyarakat dapat mulai membangun sumber pangan sendiri sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan pemenuhan gizi keluarga.(*)
Alberto



