PKM Undana Ubah Pisang Tak Laku Jadi Selai Bernilai Ekonomi di Buraen

BeritaNasional.ID, KUPANG – Pisang yang terlalu matang dan selama ini berpotensi berakhir sebagai sampah atau pakan ternak mulai dilirik sebagai peluang usaha baru oleh masyarakat Kelurahan Buraen, Kabupaten Kupang.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Universitas Nusa Cendana (Undana) memperkenalkan inovasi pengolahan pisang menjadi selai pisang sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi komoditas pertanian sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Kegiatan bertajuk “Disrupsi Pisang Salai Desa Buraen” itu dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026, di Gedung Serba Guna Kelurahan Buraen yang berada di samping Kantor Lurah Buraen.
Tim PKM Undana dipimpin Dr. Anthon S. Y. Kerihi, SE., M.Si., bersama anggota tim Dr. Markus AKB Hallan, SE., M.Si., M.Acc., Ak., CA dan Dr. Fransiskus Geroda Mado, SKM., M.Kes., serta dua mahasiswa sebagai pendamping.
Kedatangan tim diterima langsung oleh Lurah Buraen, Hendra V. Nenobahan, S.STP, bersama sejumlah pegawai Kantor Lurah Buraen.
Kegiatan diawali dengan sambutan Lurah Buraen, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan arahan Ketua Tim PKM Undana. Sekitar tujuh ibu-ibu Kelurahan Buraen mengikuti kegiatan tersebut sebagai kelompok sasaran.
Dalam pemaparan materi, Dr. Markus AKB Hallan menjelaskan berbagai hal yang perlu dipersiapkan untuk mengolah pisang menjadi produk selai, mulai dari bahan baku hingga peralatan yang diperlukan.
Namun, kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada teknis pembuatan selai.
Tim PKM Undana juga menjelaskan alasan pemilihan Kelurahan Buraen sebagai lokasi kegiatan, terutama karena adanya persoalan hilirisasi komoditas pisang yang selama ini belum maksimal.
Kabupaten Kupang, khususnya Kecamatan Amarasi Selatan, memiliki produksi pisang yang cukup melimpah. Persoalannya, komoditas tersebut sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah tanpa pengolahan lebih lanjut.
Pisang yang dijual dalam bentuk tandan, misalnya, rata-rata hanya dihargai sekitar Rp30 ribu.
Masalah muncul ketika pisang tidak segera terjual dan memasuki kondisi terlalu matang. Pisang yang sudah ranum dan tidak laku di pasar dapat mengalami penurunan nilai ekonomi secara drastis. Tidak jarang pisang tersebut akhirnya dibuang menjadi sampah atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak babi.
Sementara pisang yang masih setengah matang biasanya dijual untuk kebutuhan produk seperti pisang goreng dan pisang molen. Di pasar Kupang, harga pisang tersebut dapat mencapai sekitar Rp20 ribu per sisir.
Namun, ketika pisang semakin matang, harganya dapat turun drastis hingga sekitar Rp5 ribu per sisir, bahkan bisa tidak laku dan akhirnya dibuang.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Tim PKM Undana.
Tim PKM melihat persoalan tersebut bukan semata-mata sebagai masalah produksi, tetapi juga sebagai peluang untuk menciptakan model bisnis baru.
Konsep disrupsi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut diarahkan pada upaya mengubah pola lama dalam pemanfaatan pisang.
Jika sebelumnya pisang hanya dijual sebagai komoditas mentah, masyarakat didorong untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
Salah satunya melalui pembuatan selai pisang.
Tim menilai produk hilirisasi pisang di Nusa Tenggara Timur masih lebih banyak ditemukan dalam bentuk keripik pisang yang dipasarkan melalui etalase pasar modern.
Sementara produk selai pisang dalam kemasan yang berasal dari NTT masih relatif jarang ditemukan. Produk selai pisang yang beredar di pasar modern umumnya masih dipasok dari luar NTT.
Karena itu, Tim PKM Undana melihat peluang untuk mengembangkan produk selai berbahan baku pisang lokal sebagai alternatif usaha masyarakat.
“Disrupsi” dalam konteks kegiatan tersebut diarahkan sebagai model bisnis baru yang mampu menggantikan atau mengubah pola konvensional melalui inovasi produk.
Kelompok ibu-ibu muda menjadi sasaran utama kegiatan karena mereka memiliki peran penting dalam menopang perekonomian keluarga.
Tim PKM tidak hanya memberikan penjelasan secara teori, tetapi langsung mengajak peserta mempraktikkan proses pembuatan selai pisang.
Para peserta menyaksikan tahapan pengolahan secara langsung dan kemudian mencoba membuat produk tersebut.
Setelah proses pengolahan selesai, peserta diberi kesempatan mencicipi selai pisang hasil praktik. Mereka juga membandingkannya dengan produk selai pisang kemasan yang sebelumnya telah dibeli dari pasar modern dan dibawa dalam kegiatan tersebut.
Perbandingan tersebut menjadi bagian menarik dari kegiatan karena peserta dapat melihat bahwa bahan baku lokal yang sederhana dapat diolah menjadi produk yang memiliki bentuk dan nilai jual berbeda.
Antusiasme ibu-ibu peserta pun terlihat selama kegiatan berlangsung.
Meskipun teknik pembuatan selai pisang relatif sederhana, inovasi tersebut memberikan pengalaman baru bagi masyarakat Kelurahan Buraen. Pasalnya, masyarakat setempat sebelumnya belum pernah mengolah pisang menjadi produk selai.
Bagi Tim PKM Undana, kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk mendorong masyarakat melihat potensi pisang dari perspektif yang berbeda.
Pisang tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas yang harus segera dijual setelah panen. Ketika pengolahan dilakukan, pisang yang memiliki nilai jual rendah karena terlalu matang masih dapat dimanfaatkan menjadi produk baru.
Dengan hilirisasi, nilai ekonomi komoditas diharapkan tidak berhenti pada tingkat petani atau pedagang bahan mentah, tetapi dapat berkembang hingga menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.
Inovasi tersebut juga membuka peluang bagi ibu-ibu untuk mengembangkan aktivitas ekonomi berbasis potensi lokal, terutama apabila produk selai pisang nantinya dapat dikembangkan dalam bentuk kemasan, diberi merek, memiliki standar produksi dan dipasarkan secara lebih luas.
Kegiatan PKM Undana di Kelurahan Buraen berlangsung lancar dari awal hingga selesai.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan silaturahmi antara Tim PKM Undana dan masyarakat serta santap siang bersama.
Melalui kegiatan tersebut, Tim PKM Undana berharap masyarakat semakin terbuka terhadap peluang hilirisasi komoditas lokal, sehingga persoalan pisang yang sebelumnya mudah terbuang dapat diubah menjadi peluang ekonomi baru bagi keluarga dan masyarakat Kelurahan Buraen.(*)
Alberto



