Sulbar

Aliansi Mahasiswa Seruduk RSUD, Bupati Polman : Saya Yang Salah

Polman.Sulbar.Beritanasional.id –Aliansi Mahasiswa Polewali Mandar kembali menggelar aksi unjuk rasa di RSUD Polman , terkait meninggalnya bayi dari Ibu A yang diduga tepapar Covid-19 , karena lambat tertangani oleh pihak RSUD Polman. Kamis 2 Juli.

Plt RSUD Polman .dr. Emy Purnama Natsir yang menerima langsung aksi Aliansi Mahasiswa , mengarahkan para pengunjuk rasa untuk melakukan aksinya di kantor Bupati Polman sebagai penentu kebijakan .

Aliansi Mahasiswa akhirnya bergeser ke kantor Bupati Polman kembali meneriakkan tuntutannya , Meminta agar mencopot Plt RSUD Polman , RSUD harus bertanggung jawab atas kematian bayi salah satu warga lamasariang. dan Membuka secara rinci anggaran covid 19 yang masuk di RSUD Polman, serta Berikan sanksi kepada dokter yang menolak pasien untuk ditangani .

Aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Polman ,Jalan Manunggal Pekkabata Polman diwarnai Pbakaran Ban dan aksi saling dorong antara para pengunjuk rasa dengan para perugas keamanan , karrna para aksi mendesak untuk masuk bertemu dengan Bupati Polman A.Ibrahim Masdar .

Di hadapan ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Polman, Andi Ibrahim menyampaikan bukan pelaksana Direktur RSUD yang salah dalam persoalan tersebut namun dirinyalah yang harus disalahkan karena telah membuat kekeliruan tidak memikirkan membuat ruang operasi khusus bagi ibu hamil yang terjangkit covid 19.

“yang salah saya karena sudah keliru, selaku pemilik RSUD yang tidak menyiapkan tempat operasi bagi ibu hamil yang terinfeksi covid,” terang Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar.

Lanjutnya, kita lambat dalam mengantisipasi. Ia juga menyampaikan dalam waktu dekat akan menyiapkan ruang operasi khusus penanganan pasien covid di RS Pratama Wonomulyo dengan anggaran Rp. 5 milyar.

“kita akan jadikan rumah sakit pratama Wonomulyo menjadi rumah sakit khusus penanganan covid 19 di Polman sehingga semua kasus covid dibawa kesana termasuk ruang operasi khusus akan dibuat disana,” terang AIM.

Ia juga menyampaikan, meski anggaran di Polman banyak namun untuk berbuat sesuatu perlu perencanaan yang matang dan cermat karena kita tidak dapat memprediksi kapan pandemik ini berakhir untuk itu kita harus cermat. Ia juga mengatakan, selama covid tenaga medis yang menangani pasien covid itu mendapat honor setiap hari Rp. 150 ribu

Kami juga meindungi tenaga kami, konsekuensi kami terima tenaga kesehatan kami berkorban karena virus itu bisa membahayakan tenaga medis kami dan untuk itu habis operasi semua di swabb. Terang AIM

Ditempat yang sama, Direktur RSUD juga menjelaskan jika pihaknya sudah menjalankan prosedur pelayanan pasien dan sudah berani mengambil resiko kemungkinan dokter dan tenaga medis terpapar covid 19, “kami merujuk ke Regional Mamuju karena disana rujukan RS covid dari Kemenkes namun saat tiba disana RS tidak punya ruangan standar sehingga pasien memilih untuk kembali bersama kami dan kami mengambil resiko membahayakan tenaga medis kami.” terangnya.

Sementara itu salah satu anggota Aliansi Mahasiswa Polman Ridwan mengatakan, tuntutan yang disampaikan sudah diterima oleh Bupati Polman, “tapi kami tetap menunggu jawaban tuntutan kami dan Bupati akan mengirim surat jawaban yang kepada kami dalam waktu dekat ini.” terangnya.

Show More

Related Articles

Back to top button
Close
Close