Nusa Tenggara Timur

Dari Kupang untuk Indonesia, FKIP Undana Gelar Final Lomba Nasional Tiga Bidang Pendidikan

 

BeritaNasional.ID, KUPANG — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas calon pendidik Indonesia melalui penyelenggaraan Final Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), Desain Media Pembelajaran, dan Microteaching Tingkat Nasional yang berlangsung di Sotis Hotel Kupang, Kamis (25/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya FKIP Undana membangun budaya akademik, kreativitas, dan inovasi mahasiswa di bidang pendidikan.

Babak final berlangsung secara hybrid, menggabungkan kehadiran peserta secara langsung di Kupang dan secara daring. Sistem ini diterapkan agar seluruh finalis dari berbagai daerah tetap dapat mengikuti kompetisi meski menghadapi kendala teknis maupun jarak.

Dekan FKIP Undana, Prof. Malkisedek Taneo, selaku penanggung jawab kegiatan, mengatakan antusiasme mahasiswa dari seluruh Indonesia sangat tinggi. Hal tersebut terlihat dari jumlah peserta pada masing-masing kategori lomba yang mencapai lebih dari 40 orang, bahkan salah satu kategori diikuti lebih dari 50 peserta.

“Besarnya jumlah peserta menunjukkan bahwa semangat mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mengikuti kompetisi akademik seperti ini sangat tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan lomba diawali dengan masa pendaftaran selama sekitar satu bulan. Informasi lomba disebarluaskan kepada berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Setelah mendaftar, peserta mengirimkan karya sesuai kategori yang diikuti.

Peserta LKTI mengirimkan naskah ilmiah, peserta Microteaching melengkapi perangkat pembelajaran, sedangkan peserta Desain Media Pembelajaran mengirimkan produk media beserta video demonstrasi penggunaannya.

Seluruh dokumen kemudian dinilai secara daring oleh dewan juri pada tahap penyisihan. Dari hasil seleksi tersebut dipilih enam peserta atau tim terbaik pada masing-masing kategori untuk melaju ke babak final tingkat nasional.

“Pada tahap final ini setiap kategori dinilai oleh tiga orang juri. Total ada sembilan juri yang berasal dari berbagai perguruan tinggi sehingga penilaian dilakukan secara profesional dan objektif,” jelas Prof. Malkisedek.

Menurutnya, dewan juri telah berkomitmen memberikan penilaian secara adil dan objektif. Karena itu, seluruh peserta diharapkan dapat menerima hasil lomba sebagai keputusan terbaik.

Lebih dari sekadar menentukan juara, Prof. Malkisedek menegaskan bahwa tujuan utama kompetisi ini adalah membangun kompetensi mahasiswa sebagai calon guru yang kreatif, inovatif, dan profesional.

“Kami ingin peserta mampu mempertahankan karya ilmiahnya, menunjukkan kreativitas, inovasi, kemampuan mengajar, serta komitmen mereka sebagai calon pendidik. Yang tidak kalah penting adalah mereka saling belajar, memperkuat jejaring antarmahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia,” katanya.

Selain memperoleh pengalaman akademik, para pemenang juga akan menerima berbagai bentuk apresiasi berupa piala, sertifikat, dan hadiah yang telah disiapkan panitia.

Prof. Malkisedek berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan kualitas yang semakin baik.

“Kami akan terus mengevaluasi pelaksanaan kegiatan ini agar tahun depan semakin baik dan peserta yang berpartisipasi semakin banyak,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, mulai dari pimpinan perguruan tinggi, para peserta, dewan juri, hingga panitia pelaksana.

Salah seorang finalis kategori Microteaching, Irena Christin Sembiring, mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Maritim Raja Ali Haji, Kepulauan Riau, mengaku bangga dapat masuk enam besar tingkat nasional.

Ia mengungkapkan bahwa selama berada di Kupang, panitia FKIP Undana memberikan pelayanan yang sangat baik dengan menyediakan konsumsi dan penginapan bagi peserta, sementara biaya transportasi ditanggung oleh universitas asalnya.

“Saya baru pertama kali datang ke Kupang. Kami sempat kaget karena waktu di sini satu jam lebih cepat dibanding daerah kami. Jam lima sore matahari sudah mulai terbenam,” katanya.

Irena juga mengaku terkesan dengan kuliner khas Kupang yang dikenalkannya selama berada di Nusa Tenggara Timur.

“Kami mencoba makanan di sini, termasuk jagung dengan sambal. Awalnya kami kaget karena belum terbiasa, tetapi ternyata rasanya enak sekali,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal budaya daerah lain serta membangun jejaring nasional.

“Saya berharap lomba ini semakin dikenal sehingga lebih banyak universitas di Indonesia yang ikut berpartisipasi. Lewat kegiatan ini kami bisa belajar, bertemu teman-teman baru, sekaligus mengenal Kota Kupang,” tutupnya.(*)

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button