Empat Dekade Setelah Khittah 1926, Situbondo Kembali Masuk Bursa Tuan Rumah Muktamar NU

BeritaNasional.id, SITUBONDO – Empat dekade setelah menjadi saksi salah satu titik balik paling penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU), Kabupaten Situbondo kembali disebut-sebut sebagai kandidat tuan rumah Muktamar NU ke-35. Wacana ini mengemuka seiring dukungan sejumlah tokoh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang menilai Situbondo memiliki legitimasi historis dan kesiapan sosial-kultural yang kuat.
Situbondo bukan nama baru dalam peta besar NU. Pada 1984, daerah ini menjadi lokasi Muktamar NU ke-27 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Dari forum itulah lahir keputusan monumental: NU kembali ke Khittah 1926, menegaskan diri sebagai organisasi sosial-keagamaan dan secara resmi menerima Pancasila sebagai asas berbangsa dan bernegara.
Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, Prof. Dr. Suparto Wijoyo, menyebut Muktamar 1984 di Situbondo sebagai “muktamar transisi besar” yang menentukan arah NU hingga hari ini. Ia mengaku memiliki memori kuat terhadap peristiwa tersebut, termasuk terpilihnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Umum PBNU dan KH Ahmad Shiddiq sebagai Rais Aam.
“Apa yang terjadi di Situbondo saat itu bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi penataan ulang posisi NU dalam kehidupan kebangsaan Indonesia,” kata Prof. Suparto saat bersilaturahmi ke Situbondo, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, Situbondo saat itu mampu menjadi ruang yang relatif tenang di tengah dinamika internal NU yang cukup tajam. Kondisi sosial dan kultural masyarakatnya dinilai memberi kontribusi pada lahirnya keputusan-keputusan strategis yang berdampak nasional.
Kini, ketika NU bersiap menggelar Muktamar ke-35 yang direncanakan berlangsung setelah Idul Adha 2026, sejumlah pihak melihat adanya kemiripan konteks dengan situasi menjelang Muktamar 1984. NU kembali berada pada fase konsolidasi, penguatan peran keumatan, serta peneguhan komitmen kebangsaan di tengah perubahan sosial dan politik yang cepat.
“Kalau berkaca pada sejarah dan karakter masyarakatnya, Situbondo sebenarnya sangat siap. Ini masih tahap komunikasi awal, tetapi sinyal positifnya kuat,” ujar Prof. Suparto.
Di tingkat pemerintah daerah, wacana tersebut disambut antusias. Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyatakan kesiapan penuh jika daerahnya kembali dipercaya menjadi tuan rumah agenda tertinggi NU tersebut.
“Ini bukan hanya soal kehormatan, tetapi bentuk khidmat kami kepada NU dan para kiai,” kata Bupati yang akrab disapa Mas Rio. Ia menegaskan pemerintah daerah siap berkolaborasi dengan struktur NU, pesantren, serta aparat keamanan untuk memastikan muktamar berjalan aman dan bermartabat.
Situbondo dikenal memiliki jaringan pesantren yang kuat dan basis warga NU yang solid. Keterlibatan pesantren dan kiai lokal disebut sebagai modal utama, sebagaimana yang terjadi pada Muktamar 1984.
Bagi sebagian kalangan NU, kembalinya Muktamar ke Situbondo bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia dipandang sebagai upaya menghadirkan kembali ruang dialog yang menyejukkan di tengah tantangan internal dan eksternal organisasi.
Jika akhirnya dipercaya, Muktamar NU ke-35 di Situbondo diharapkan tidak hanya menjadi forum pengambilan keputusan organisasi, tetapi juga momentum memperkuat peran NU sebagai penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat dan berakar pada tradisi kebangsaan Indonesia.



