FEB Undana dan OJK NTT Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan, Waspadai Pinjol Ilegal hingga Investasi Bodong

BeritaNasional.ID, KUPANG – Menghadapi perkembangan transaksi digital dan maraknya berbagai modus kejahatan keuangan, mahasiswa dituntut tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara bijak.
Kesadaran inilah yang menjadi fokus diskusi literasi keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusa Cendana (Undana) bertema “Atur Keuanganmu, Amankan Masa Depanmu”.
Kegiatan yang berlangsung di Aula FEB Undana, Kamis (22/10/2026), ini menghadirkan perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai narasumber untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang perencanaan keuangan, investasi yang aman, serta bahaya pinjaman online ilegal, perjudian online, dan penipuan digital.
Diskusi tersebut menghadirkan Dr. Bambang Purwogandi Dito Ari Legowo, S.E., M.M., M.H., C.A., Certified Lead Auditor, CFP, selaku Asisten Direktur Senior Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Kantor OJK NTT. Sementara itu, Dekan FEB Undana, Dr. Rolland E. Fanggidae, S.Si., M.M., diwakili Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Paulina Y. Amtiran, S.E., M.M., karena sedang mengikuti kegiatan di luar daerah.
Kegiatan ini turut dihadiri jajaran pimpinan FEB Undana, perwakilan OJK NTT, serta puluhan mahasiswa FEB Undana. Pelaksanaan diskusi merupakan hasil kolaborasi FEB Undana, OJK NTT, dan Timor TV dalam memperluas edukasi keuangan bagi generasi muda dan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.
Dalam sambutannya, Dr. Paulina Y. Amtiran menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara FEB Undana, OJK NTT, dan Timor TV dalam menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan tersebut.
Menurut Paulina, literasi keuangan merupakan pengetahuan penting yang harus dimiliki mahasiswa agar mampu memahami cara mengelola keuangan secara bijak sekaligus mengenali produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai dengan kebutuhan.
Ia menjelaskan, kegiatan ini juga menjadi momentum yang tepat karena Oktober diperingati sebagai Bulan Inklusi Keuangan, yang mendorong peningkatan pemahaman dan akses masyarakat terhadap produk serta layanan jasa keuangan.
Namun, menurutnya, pemahaman tentang keuangan tidak cukup hanya sebatas mengetahui cara menggunakan layanan perbankan atau melakukan transaksi digital. Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan untuk menilai risiko, mengendalikan pengeluaran, dan mengambil keputusan keuangan secara bertanggung jawab.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap seluruh peserta, terutama mahasiswa yang merupakan bagian dari Generasi Z, memiliki kecakapan dalam mengelola keuangan dengan baik dan tidak terjebak dalam kegiatan-kegiatan yang merugikan,” demikian pesan Paulina dalam sambutannya.
Ia juga menyoroti meningkatnya ancaman kejahatan keuangan digital, seperti investasi ilegal, pinjaman online ilegal, hingga penipuan berbasis teknologi. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian bersama, terutama karena generasi muda semakin dekat dengan berbagai platform digital yang menyediakan kemudahan transaksi.
Paulina berharap, melalui edukasi yang diberikan OJK NTT, mahasiswa dapat memahami risiko tersebut dan lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan keuangan.
Lebih dari itu, mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menyebarluaskan informasi dan edukasi keuangan yang benar kepada keluarga, teman, serta masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan Timor TV yang diharapkan dapat membantu memperluas jangkauan pesan literasi keuangan kepada masyarakat NTT.
Dalam pemaparannya, Paulina turut mengulas karakteristik Generasi Z yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan media sosial.
Ia menjelaskan, Generasi Z umumnya merujuk pada kelompok kelahiran 1997 hingga 2012. Generasi ini dikenal dekat dengan teknologi, aktif menggunakan media sosial, cepat memperoleh informasi, kreatif, dan relatif terbuka terhadap hal-hal baru.
Meski demikian, kemudahan akses informasi dan transaksi digital perlu diimbangi dengan kemampuan memilah informasi serta memahami konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.
Paulina menyoroti sejumlah kebiasaan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, mulai dari belanja online, penggunaan dompet digital dan mobile banking, hingga ketertarikan terhadap berbagai promosi serta diskon di platform digital.
Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak selalu bermasalah selama dilakukan secara terukur dan sesuai kemampuan finansial. Persoalan muncul ketika seseorang lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan atau melakukan pembelian hanya karena mengikuti tren.
Tekanan sosial di media sosial juga dapat memengaruhi perilaku konsumsi mahasiswa. Keinginan untuk memiliki barang yang sama dengan teman sebaya, mengikuti gaya hidup populer, atau terlihat mengikuti perkembangan tren dapat mendorong seseorang mengeluarkan uang di luar kemampuannya.
Akibatnya, seseorang berpotensi mengalami kesulitan keuangan karena berusaha memenuhi standar gaya hidup yang sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi finansialnya.
Karena itu, Paulina mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terbawa arus tren digital. Kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun prioritas pengeluaran, serta mengendalikan diri menjadi bagian penting dari kecakapan finansial.
Ia menekankan bahwa generasi muda perlu membangun kebiasaan mengatur keuangan sejak masih berada di bangku kuliah agar lebih siap menghadapi kebutuhan yang semakin kompleks ketika memasuki dunia kerja.
Sementara itu, Dr. Bambang Purwogandi Dito Ari Legowo mengajak mahasiswa memahami pentingnya perencanaan keuangan sebagai langkah awal membangun masa depan finansial yang lebih aman.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pembahasan mengenai investasi tidak dapat dipisahkan dari sistem keuangan Indonesia dan pentingnya memahami peran OJK dalam pengawasan sektor jasa keuangan sesuai kewenangannya.
Bambang menegaskan, perencanaan keuangan sebaiknya tidak baru dilakukan setelah seseorang memperoleh pekerjaan atau memiliki penghasilan tetap. Mahasiswa pun dapat mulai belajar mengelola uang saku, menetapkan prioritas kebutuhan, serta menyisihkan sebagian uang untuk tujuan tertentu.
Menurutnya, kebiasaan mengelola keuangan sejak dini akan membantu seseorang lebih siap menghadapi perubahan kebutuhan dan tanggung jawab finansial pada masa mendatang.
Ia juga menyinggung pengalaman anaknya yang telah mengenal instrumen investasi sejak semester pertama perkuliahan, termasuk reksa dana, saham, dan valuta asing. Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa pemahaman mengenai keuangan dan investasi dapat mulai dibangun sejak mahasiswa.
Namun, Bambang mengingatkan bahwa mahasiswa tidak boleh asal mencoba instrumen investasi tanpa memahami cara kerja, risiko, dan kemampuan finansial masing-masing.
Keputusan investasi perlu dilakukan berdasarkan pengetahuan yang memadai, bukan sekadar mengikuti teman atau tergiur oleh janji keuntungan dalam waktu singkat.
Dengan perencanaan yang baik, mahasiswa diharapkan mampu mengatur pengeluaran, mengenali risiko, serta membuat keputusan finansial secara lebih terukur.
Selain perencanaan keuangan, Bambang menyoroti sejumlah persoalan yang berpotensi mengganggu kestabilan finansial generasi muda, terutama pinjaman online ilegal, perjudian online, investasi ilegal, dan penipuan digital.
Keinginan memperoleh uang secara cepat dan instan dapat membuat seseorang mengabaikan risiko yang menyertai suatu tawaran keuangan. Padahal, keputusan yang diambil tanpa pertimbangan matang dapat menimbulkan kerugian dan persoalan finansial berkepanjangan.
Pinjaman online ilegal, misalnya, perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan risiko terkait biaya pinjaman, penyalahgunaan data pribadi, maupun praktik penagihan yang merugikan. Demikian pula perjudian online yang berpotensi menguras uang dan mengganggu kondisi ekonomi seseorang.
Mahasiswa juga diingatkan agar tidak mudah percaya terhadap penawaran investasi yang menjanjikan keuntungan besar tanpa risiko yang jelas. Legalitas penyelenggara, karakteristik produk, serta mekanisme investasi perlu diperiksa sebelum seseorang memutuskan untuk menanamkan uangnya.
Bambang turut membahas pentingnya mengetahui langkah penanganan ketika seseorang mengalami penipuan keuangan digital, termasuk saat dana terlanjur ditransfer kepada pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pemahaman mengenai langkah penanganan yang tepat menjadi penting agar korban dapat segera mengambil tindakan dan mengurangi potensi kerugian lebih lanjut.
Diskusi literasi keuangan ini menjadi salah satu upaya FEB Undana untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.*
Alberto



