Metro

Mangrove dan Konservasi Jadi Isu Penting Dalam Perayaan HPN Kendari

BERITANASIONAL.ID, KENDARI, SULAWESI TENGGARA – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Kendari mengemas 2 (dua) isu penting global yakni mangrove dan konservasi alam. Hal ini disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang di wakilkan oleh Direktur Jendral Perhutanan sosial dan Kemitraan lingkungan, Dr Bambang Supriyanto dalam acara gala dinner di legend resto hotel Claro Kendari, Selasa (08/02/2022) malam.

Bambang Supriyanto mengatakan bahwa isu yang dibangun atas kolaborasi antara BRGM (Badan Restorasi Gambut), PWI, KLHK dan pemerintah daerah Sulawesi Tenggara (Sultra).

Dalam 2 isu tersebut, menurut Bambang Supriyanto kalau saat ini bapak Presiden menaruh perhatian penting terhadap konservasi.

“Soal konservasi bapak Presiden menaruh perhatian penting yakni, pelepas liaran Anoa sebagai notif spesies di Sultra,” ucap Bambang Supriyanto.

Setelahnya, isu yang dikembangkan selanjutnya adalah percepatan mangrove. Hal itu dilakukan karena mangrove dianggap dapat meningkatkan karbon stock lima (5) bahkan sepuluh (10) kali lebih besar di bandingan dengan yang terestrial.

“Artinya era industrialisasi yang dilakukan di dunia mengakibatkan emisi yang begitu tinggi sehingga kutub utara dan selatan akan ikut mencair yang mengakibatkan naiknya volume permukaan air laut,” katanya.

“Jika itu terjadi maka ini sangat rentan terhadap negara kepulauan seperti Indonesia,” sambungnya.

Olehnya itu upaya yang terus dilakukan dalam pertemuan internasional Paris agreetment tahun 2015 silam meminta agar pembangunan tidak mengakibatkan kenaikan suhu hingga tahun 2030.

“Paling tidak 2 derajat. Jadi sekarang minimal berapa emisi yang kita keluarkan harus setara dengan apa yang kita tanam,” terangnya.

Sehingga saat ini, masih kata Bambang, mangrove akan menjadi sangat penting untuk dilakukan rehabilitasi.

Apalagi hingga kini mangrove di Sultra masih sangat banyak dengan luasan berkisar pada angka 94 ribu hektar.

Sebelum menutup, Bambang berharap agar setiap upaya rehabilitasi harus dapat melibatkan masyarakat.

“Kuncinya kelembagaan itu adalah eksis strategi dalam konteks suksesnya tehabilitasi mangrove. Kalau masyarakat telah memperoleh manfaat tentunya hutan akan terus terjaga (hijau),” tandasnya.

Diketahui, percepatan rehabilitasi mangrove yang menjadi pembahasan gala dinner semala di lakukan oleh sembilan (9) provinsi yang ada di Indonesia termaksud Sultra.

Turut hadir dalam pertemuan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang diwakilkan oleh Direktur Jendral Perhutanan sosial dan kemitraan lingkungan, Dr Bambang Supriyanto.

Selain itu hadir pula Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, Ir Hantono (Win)

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button