Mbah Dragon Bekali Guru Sekolah Minggu GBI Darmawangsa dengan Gospel Magic, Hadirkan Cara Kreatif Menyampaikan Injil kepada Anak-anak

BeritaNasional.ID, JAKARTA – Komitmen untuk menjangkau lebih banyak pelayan anak melalui metode penginjilan yang kreatif kembali ditunjukkan oleh praktisi Gospel Magic Indonesia, Herry Budijanto Drahono atau yang akrab disapa Mbah Dragon.
Di sela-sela lawatan pelayanannya ke Indonesia bagian barat, Mbah Dragon menyempatkan diri memberikan pelatihan Gospel Magic kepada para guru Sekolah Minggu GBI Darmawangsa, Blok M, Jakarta, pada Minggu (19/7/2026).
Pelatihan yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 16.15 WIB itu awalnya direncanakan diikuti oleh 20 guru Sekolah Minggu. Namun, karena adanya kabar duka yang mengharuskan beberapa peserta menghadiri prosesi pemakaman, jumlah peserta yang hadir menjadi 12 orang, dan seluruhnya merupakan guru Sekolah Minggu perempuan.
Di sela-sela pelatihan, muncul diskusi menarik mengenai minimnya keterlibatan kaum pria dalam pelayanan Sekolah Minggu. Menurut para peserta, padatnya aktivitas dan tuntutan pekerjaan di Jakarta membuat banyak pria lebih memilih beristirahat pada hari Minggu setelah enam hari bekerja, sehingga pelayanan anak lebih banyak dijalankan oleh kaum perempuan.
Kegiatan ini terselenggara atas prakarsa Armenia Widiastuti, seorang trainer sekaligus guru Sekolah Minggu di GBI Darmawangsa.
Mengetahui Mbah Dragon sedang melakukan perjalanan pelayanan ke wilayah barat Indonesia—yang selama ini lebih sering melayani di kawasan timur—Armenia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghadirkan pelatihan yang dinilai sangat bermanfaat bagi para pelayan anak.
Sejak sesi pertama dimulai, suasana pelatihan berlangsung penuh antusias. Gelak tawa, tepuk tangan, dan rasa penasaran mewarnai ruangan ketika Mbah Dragon memperagakan berbagai atraksi sulap yang ternyata sarat dengan pesan-pesan Alkitab.
Para peserta dibuat takjub melihat berbagai “keajaiban” yang terjadi, namun semakin bersemangat ketika rahasia di balik setiap trik dibuka dan ternyata dapat dipelajari dengan mudah.
Meski demikian, beberapa teknik tetap membutuhkan latihan dan ketelitian. Salah satu yang cukup menantang bagi peserta adalah trik tali yang dipotong lalu kembali tersambung.
Mbah Dragon menjelaskan bahwa trik tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan ilustrasi tentang hubungan manusia dengan Allah yang terputus akibat dosa.
Melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib, hubungan yang telah terputus itu dipulihkan kembali oleh kasih karunia Allah.
Trik lainnya yang juga mendapat perhatian adalah tali hitam yang melilit leher namun dapat terlepas ketika ditarik.
Ilustrasi ini menggambarkan pembebasan manusia dari belenggu dosa dan ikatan dunia seperti narkoba, pornografi, mabuk, serta berbagai bentuk perbudakan lainnya ketika seseorang menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Pelatihan diawali dengan trik-trik sederhana agar mudah dipahami peserta, seperti trik tongkat yang mengeluarkan bunga, yang digunakan untuk menjelaskan karya penciptaan Tuhan.
Setelah menguasai dasar-dasarnya, peserta diajak mempelajari berbagai trik yang lebih kompleks, termasuk kartu King of Hearts (Raja Hati) yang berubah menjadi gambar Tuhan Yesus sebagai media untuk menyampaikan pesan keselamatan kepada anak-anak.
Secara keseluruhan, Mbah Dragon membagikan sembilan materi Gospel Magic lengkap dengan alat peraganya. Seluruh peserta memperoleh seperangkat perlengkapan sehingga dapat langsung mempraktikkan metode tersebut dalam pelayanan Sekolah Minggu di gereja masing-masing.
Hanya satu alat yang tidak dibagikan karena menjadi inventaris bersama, yakni trik perubahan gambar lima roti dan dua ikan menjadi roti sungguhan.
Trik ini digunakan untuk menggambarkan mukjizat Tuhan Yesus saat memberi makan lima ribu orang, sehingga menjadi media visual yang efektif untuk membantu anak-anak memahami kisah Alkitab.
Bagi Mbah Dragon, Gospel Magic bukanlah pertunjukan sulap semata, melainkan sarana kreatif untuk menjelaskan firman Tuhan dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh anak-anak.
Melalui pendekatan visual, pesan Injil diharapkan lebih mudah diingat dan mampu membangun iman sejak usia dini.
Pelatihan ditutup dengan doa bersama serta penyerahan cendera mata berupa kopi Ganoderma kepada Mbah Dragon sebagai ungkapan terima kasih sekaligus doa agar beliau senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan untuk terus melayani di berbagai daerah.
Dengan semangat “Menjelajah, Melayani, Menginspirasi,” Mbah Dragon terus membuktikan bahwa pelayanan dapat dilakukan melalui berbagai cara yang kreatif dan relevan, sehingga semakin banyak guru Sekolah Minggu diperlengkapi untuk membawa anak-anak mengenal kasih Tuhan Yesus dengan sukacita dan penuh makna.*
Bernas



