Peringati 24 Tahun, STIPAS Kupang Fokus pada Ancaman HIV/AIDS Lewat Seminar Edukatif

BeritaNasional.ID, KUPANG — Menyongsong usia ke-24, Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) Keuskupan Agung Kupang kembali menunjukkan komitmennya terhadap isu sosial dan kesehatan publik yang tengah menjadi perhatian serius di Kota Kupang.
Bertempat di Aula St. Petrus STIPAS, panitia pelaksana menghadirkan sebuah seminar inspiratif dengan tema “Kesehatan Reproduksi dalam Bayang-Bayang HIV/AIDS”, yang mendapat antusiasme luar biasa dari ratusan mahasiswa, tenaga kesehatan, dosen, dan pegawai.
Dalam suasana yang penuh perhatian, Wakil Ketua II STIPAS Keuskupan Agung Kupang, RD. Emanuel I.D Je’e Mally, mengawali kegiatan dengan paparan mengenai situasi terkini penyebaran HIV/AIDS di Kota Kupang.
Ia mengungkapkan bahwa hingga September 2025, tercatat 2.539 kasus yang tersebar di berbagai kelompok usia, namun yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya kasus pada anak-anak SMP, SMA, hingga mahasiswa.
RD. Jega menegaskan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius semua pihak, terlebih bagi lembaga pendidikan Katolik seperti STIPAS yang merasa terpanggil untuk mengambil bagian dalam upaya memerangi HIV/AIDS dan memberikan teladan gaya hidup sehat bagi kaum muda.
Menurutnya, langkah memerangi penyebaran HIV/AIDS bukanlah hal mudah, tetapi dengan semangat, niat dan kesadaran bersama, perubahan besar dapat dimulai dari diri sendiri.
Kegiatan ini semakin bermakna dengan kehadiran Sekretaris Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, yang membuka seminar secara resmi.
Dalam sambutannya, Jeffry Pelt menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang tinggi kepada seluruh Civitas Akademika STIPAS Keuskupan Agung Kupang karena telah turut membantu Pemerintah Kota Kupang dalam upaya menekan angka penyebaran HIV/AIDS.
Ia menyebut bahwa HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es yang tampak kecil di permukaan, namun menyimpan persoalan yang jauh lebih besar di bawahnya, sehingga membutuhkan kerja sama lintas sektor dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, gereja, keluarga, serta seluruh elemen masyarakat.
Jeffry Pelt juga menegaskan bahwa dalam perjalanan menuju Kota Kupang sebagai kota besar, masyarakat perlu menunjukkan sikap bertanggung jawab dan kesadaran yang tinggi terhadap isu kesehatan.
Ia menyampaikan bahwa kampus, rumah, dan imam memiliki peran penting sebagai pilar utama edukasi yang efektif dalam memerangi penyebaran HIV/AIDS.
Lebih jauh, Jeffry berharap agar kegiatan akademik di perguruan tinggi tidak hanya fokus pada ilmu pengetahuan, tetapi turut memperluas edukasi mengenai penyebab, pencegahan, serta bahaya HIV/AIDS.
Seminar ini menghadirkan dua pemateri kompeten, yakni R. Pasifikus Christa Wijaya, akademisi dari Universitas Nusa Cendana (Undana), dan Tiurmasari E. Saragih, perwakilan dari Tim Penanganan HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Kupang.
Dalam ruang pemaparan materi, kedua narasumber memberikan sudut pandang yang memperkaya pemahaman peserta mengenai kompleksitas kesehatan reproduksi dan tantangan penanggulangan HIV/AIDS di lapangan.
Mereka menyoroti betapa pentingnya edukasi kesehatan reproduksi yang menyeluruh dan berkelanjutan, terutama bagi remaja dan dewasa muda, di tengah kondisi di mana stigma terhadap HIV/AIDS masih sangat tinggi.
Paparan data dan hasil kajian menunjukkan bahwa misinformasi yang beredar di masyarakat kerap menjadi hambatan utama dalam upaya pencegahan, sehingga menuntut adanya edukasi yang lebih tepat, terbuka, dan konsisten.*
Alberto/Bernas



