Daerah

Pernyataan Kajari Bisa Menjadi Preseden Buruk

Pengusaha Lain Akan Memanfaatkan Gakin Untuk Mendapatkan Pinjaman KUR

BeritaNasional.ID, BONDOWOSO JATIM – Kasus KUR Bank Jatim Cabang Bondowoso menjadi viral karena yang menjadi korban adalah Warga miskin (Gakin) bahkan ada yang berkategori sebagai Gakin extreme.

Yang lebih menyakitkan para kaum duafa’ adalah pernyataan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Dzakiyul Fikri yang mengatakan tidak ada kerugian Negara atas kasus KUR yang mencatut nama sekitar 20 orang Gakin tersebut.

“Tidak ada kerugian Negara atas KUR Bank Jatim Cabang Bondowoso, karena kredit pinjaman tersebut sudah dilunasi. Pertnyataan ini kami sampaikan setelah Penyidik kami melakukan pemeriksaan kepada semua pihak terkait,” kata Fikri, sapaannya.

Alasan saya, lanjutnya, mengatakan tidak ada kerugian Negara dalam kasus KUR Bank Jatim, karena kasus ini kasus korupsi. Dalam korupsi, harus ada kerugian negara, siapa pelakunya, apa motivasinya dan apakah ada aturan yang dilanggar.

Banyak pihak yang mempertanyakan keputusan Kajari ini, karena yang dijadikan obyek hanya kerugian Negara, padahal dalam kasus ini ada aturan yang dilanggar seperti yang disampaikan Kajari. Tidak mempertimbangkan kerugian pihak lain dalam kasus ini. Sudah jelas, korbannya pengangguran.

Aturan yang dilanggar, korban adalah pengangguran dan mendapatkan SKU padahal dia tidak punya usaha. Lalu mendapat pinjaman tanpa agunan Rp 100 juta. Kalau Kajari tetap berpegang pada prinsipnya, maka jangan salahkan kalau ada pengusaha lain yang berkongkalikong dengan pegawai Bank, memanfaatkan kebodohan Gakin untuk mendapatkan pinjaman ratusan juta di Bank.

Dalam pernyataannya, Dzakiyul Fikri mengaku mempunyai bukti pelunasan KUR 6 pemuda dari berbagai desa di Kecamatan Sumber Wringin. Kajari dinilai tidak mempunyai kepekaan social terhadap korban yang diperalat oleh oknom pengusaha dan oknom Bank Jatim.

“Saya sudah menyampaikan pada penyidik ketika memeriksa klien kami. Bahwa yang melunasi angsuran kreditnya adalah RAZ. Karena kliennya tidak menerima KUR secara utuh dan tidak mampu membayar cicilan,” jelasnya.

Jangankan membayar cicilan kerdit, lanjutnya, hingga jutaan rupiah. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja tidak cukup. Yang akan dimakan hari ini, mencari hari ini pula. Itupun diperoleh dari bekerja serabutan. (Syamsul Arifin/BeritaNasional.ID)

 

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button