Nasional

PLTU Ekspor Wood Pellet Dipertanyakan

BeritaNasional.ID, JAMBI.- Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Provinsi Jambi meminta, Aparat Kepolisian dan Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, untuk melakukan penelitian atas Fungsi Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Biomasa di Selincah, Kota Jambi. Diduga ada praktek terselubung, dalam pemenfaatan kayu hasil hutan.

Contoh-mesin-untuk-mengelolah-kayu-limbah-menjadi-industri-Wood-Pelet

Contoh-mesin-untuk-mengelolah-kayu-limbah-menjadi-industri-Wood-Pelet. Foto-Istimewa

“ Pantas Diduga, Surat Izin yang diberikan oleh Permerintah Kota Jambi sejak tahun 2016, untuk kegiatan PLTU yang dikelolah oleh PT RPSL, group ELL Environment, asal negara Hongkong itu sudah beralih fuksi. Dari semula perizinannya untuk PLTU, faktanya, merencanakan untuk mengeksfor kayu primer ke negara Korea,” jelas Feri Irawan. Direktur Eksekutif Perkumpulan Hijau, Provinsi Jambi.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dikelolah oleh PT Rimba Palma Sejahtera Lestari (RPSL), dengan memanfaatkan kayu Primer yang ada dihutan Jambi, untuk dibuat serbuk kayu (Wood Pellet), sebagai salah satu bahan bakar alternatif pengganti batubara. Maksud tujuannya, keberadaan PLTU ini untuk menunjang kebutuhan Pembangkit Listrik di Jambi.  

 

Alat-berat,-digunakan,-untuk-merangkai mesin-pabrik-wood-pelet.Foto-Istimewa

Alat-berat,-digunakan,-untuk-merangkai mesin-pabrik-wood-pelet.Foto-Istimewa

Namun karena sesuatu-hal, menurut sumber. PLTU ini sejak lama sudah tidak digunakan sebagai PLTU. Tetapi, masih tetap mengumpulkan dan memanfaatkan Kayu Primer yang ada dikawasan hutan Jambi. Menurut sumber, kayu- kayu primer itu untuk dibuat Pelleting Wood, sebagai bahan bakar dan akan diekspor ke negara Korea.  

Sebagian besar negara maju di dunia, saat ini berupaya untuk dapat mengatasi dari dampak terjadinya emisi rumah kaca. Untuk mengurangi ketergantungan dari bahan bakar fosil tersebut, sejumlah negara melakukan pengembangan energi alternatif, diantaranya bersumber dari energi berbasis biomassa. Seperti pelet kayu (wood pellet), sebagai pengganti bahan bakar padat, seperti batu bara, minyak, dan gas alam.  

Terkai dengan pemanfaatan Kayu Limbah Hutan (KLH), Pemerintah telah menetapkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten/Kota, ataupun Provinsi di Indonesia, untuk melakukan pengawasan secara ketat. Terhadap setiap kegiatan Industri Primer Hasil Hutan Kayu (IPHHK) atau Industri Pengolahan Kayu Terpadu (IPKT) berupa kayu gergajian, kayu yang diserut, kayu lapis, termasuk block board dan barecore, veneer, serpih/chip, termasuk wood pellet.

Sehubungan dengan penggunaan industry kayu primer (Pelleting Wood) harus jelas asal-usul bahan bakunya dari mana, dari hutan alam atau dari hutan tanaman. “ Kalau tanpa kejelasan dari mana kayu- kayu tersebut didapat, maka dikawatirkan adanya pratek illegal loging dengan berbagai modus, yang dapat mengancam Kerusakan hutan di Indonesia, khususnya di Provinsi Jambi,” ungkap Feri Irawan. Direktur Eksekutif Perkumpulan Hijau, Provinsi Jambi.

Dari itu Feri Irawan meminta dan menghimbau Aparat Kepolisian dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jambi, untuk dapat mempertanyakan Dokumen Surat keterangan sahnya kayu yang diperoleh oleh PT RPSL, untuk industry kayu primer (Pelleting Wood) yang akan di ekspornya ke sejumlah negara, diantaranya negara Korea.

“ Semula PT RPSL menggunakan izin mengelolah Pelleting Wood, hanya untuk kepentingan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Payo Selincah, Kota Jambi. Tetapi, PLTU itu sudah tidak berfungsi lagi, namun  PT RPSL tetap memproduksi kayu primer dari hutan Jambi, untuk Pelleting Wood,” jelas sumber.   

Contoh yang perlu dipertanyakan itu diantaranya tentang Faktur Angkutan Kayu Bulat (FA-KB) dan/atau Daftar Kayu Bulat Faktur Angkutan (DKB-FA). Faktur Angkutan Kayu Olahan (FA-KO) dan/atau Daftar Kayu Olahan (DKO), dan Kayu Hasil Pemanenan (KHP), pada petak/blok yang ditetapkan, dan lokasi Tempat Pengumpulan Kayu (TPK) lokasinya di luar areal pemegang izin, atau berada pada hutan produksi dan/atau di luar kawasan hutan mana. 

Pelet kayu, adalah hasil pengolahan dari kayu bulat, atau limbah kayu menjadi serbuk yang dipadatkan, sehingga berbentuk silindris. Dengan diameter 6-10 mm, dan panjang 1-3 cm. Dengan kepadatan rata-rata 650 kg/m3, atau 1,5 m3/ton. Pelet kayu banyak digunakan di Eropa dan Amerika, sebagai sumber energi untuk pemanas ruangan pada musim dingin dan energi penghasil listrik (carbon for electricity).

Sumber energi dari Pelet kayu, menghasilkan rasio panas yang relatif tinggi, output dan input-nya 19:1 hingga 20:1, dan mengandung energi sekitar 4,7 kWh/kg. Penggunaan energi dari Pelet kayu ini semangkin meningkat, hingga 50 persen, dalam dekade tahun 2000 hingga 2010. karena Produksi minyak kian menurun, dari 1,6 juta barel per hari, menjadi 861.000 barel per hari, di tahun 2012, terutama di negara Asia.

Untuk itu, sejumlah negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa lainnya, bahkan Korea, cendrung untuk menggunakan energi dari Pelet kayu, guna mengurangi subsidi bahan bakar minyak. Dari itu, Indonesia juga perlu memperhatikan faktor kelestarian lingkungan hidup.

Merusak lingkungan hidup sama dengan menghilangkan kesempatan hidup bagi generasi berikutnya. Untuk itu, Lingkungan hidup suatu negara perlu diperhatikan, dari perubahan iklim yang suaktu- waktu bisa datang dan mengancam kehidupan manusia. Karenanya, penggunaan energi dari biomassa di Indonesia, juga harus tetap menjangga Kelestarian Lingkungan dan berkelanjutan.  

Sehubungan dengan adanya dugaan praktek alih fungsi, dari penggunaan industry kayu primer (Pelleting Wood) untuk PLTU, akan dijadikan komoditi Ekspor ke sejumlah negara. Direktur PT RPSL, Benny Bastaman tidak bisa memberikan penjelasan. Saat dihubungi melalui telpon selulernya tidak menjawab. Bahkan, saat dihubungi melalui pesan whatsapp, hanya dibaca dan tidak memberikan tanggapan apapun. (Djohan Chaniago). 

Show More

Related Articles

Back to top button