Nusa Tenggara Timur

Rektor Undana Dukung Kuliah Lapangan Mahasiswa Sejarah di Istana Amarasi

BeritaNasional.ID, KUPANG – Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Maxs U. E. Sanam, memberikan apresiasi tinggi sekaligus dukungan penuh terhadap kegiatan kuliah lapangan yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Istana Amarasi, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 23 hingga 25 Oktober 2025, menjadi bagian dari upaya FKIP Undana mendorong pembelajaran kontekstual dan pengalaman langsung di lapangan bagi mahasiswa.

Melalui kegiatan ini, para mahasiswa diajak untuk mempelajari sejarah bukan hanya dari buku, tetapi juga dari sumber-sumber nyata yang masih hidup hingga kini.

Dalam keterangannya kepada Bernas, Jumat (24/10/2025), Prof. Maxs menegaskan pentingnya mahasiswa untuk belajar tidak hanya di dalam ruang kuliah, tetapi juga di tengah masyarakat.

“Pada prinsipnya, mahasiswa itu tidak hanya belajar di dalam kampus. Mereka harus memverifikasi dan memvalidasi dengan kondisi riil di lapangan,” ujarnya.

Menurut Rektor, kuliah lapangan memiliki nilai strategis dalam membentuk karakter, kepekaan, dan pemahaman mahasiswa terhadap sejarah yang sesungguhnya.

Prof. Maxs menilai, pembelajaran langsung di lapangan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaitkan teori dengan realitas serta merasakan secara emosional nilai-nilai yang terkandung di dalam kisah sejarah.

“Mahasiswa Prodi Sejarah tidak hanya larut dalam pengetahuan teoritis, tetapi mereka juga dibentuk secara emosional. Mereka bisa merasakan cerita sejarah, memahami semangat orang-orang masa lalu dalam merawat warisan itu hingga saat ini, dan melihat langsung aktivitas yang masih berlangsung di Istana Amarasi,” jelas Rektor.

Lebih lanjut, Prof. Maxs menjelaskan bahwa mempelajari sejarah bukan sekadar menghafal peristiwa, melainkan menumbuhkan rasa ingin tahu dan kebanggaan terhadap nilai-nilai praktis dan moral masa lalu yang bisa menjadi pedoman bagi generasi muda.

“Kita bicara sejarah, berarti kita bicara keingintahuan terhadap hal-hal yang dilakukan di masa lalu — sesuatu yang bisa membawa kebanggaan bagi kita dan menjadi pengalaman berharga untuk bergerak di masa kini dan masa yang akan datang,” urainya.

Rektor juga menilai kegiatan kuliah lapangan sebagai proses validasi ilmiah terhadap teori dan data yang diperoleh di kelas.

Dengan turun langsung ke situs sejarah, mahasiswa dapat membandingkan apa yang mereka baca dengan kenyataan di lapangan serta melakukan wawancara langsung dengan narasumber atau penjaga tradisi setempat.

“Kita berupaya untuk larut secara emosional, menanyakan hal langsung kepada testimoni dan narasumber yang relevan, sehingga mahasiswa benar-benar memahami konteks sejarah yang sedang mereka pelajari,” kata Prof. Maxs.

Kuliah lapangan di Istana Amarasi, sambung Rektor, bukan hanya memperkaya pengetahuan sejarah mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya lokal sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat NTT.*

Alberto

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button