Daerah

Soal Tebang Pilih Liputan Jurnalis, KPU Banyuwangi Tuai Kecaman dan Ancaman Demo FKW Mahkota

Karena Dianggap Mengkotak-Kotakkan Jurnalis

Imam Ashari, Penasehat FKW Mahkota Banyuwangi (paling kiri depan)

BeritaNasional.ID, BANYUWANGI – Pmbatasan peliputan tentang pengambilan nomor urut pasangan calon (paslon) oleh KPU kepada beberapa awak media menjadi polemik. Karena hal semacam ini seharusnya tidak boleh terjadi. Mengingat jurnalis wajib meliput rangkaian pilkada, moment penting pesta 5 tahunan yang harus dipublikasikan di khalayak luas.

Penasehat Forum Komunikasi Wartawan (FKW) Mahkota, Imam Ashari, saat di wawancarai terkait permasalahan pembatasan peliputan di KPU Banyuwangi, dirinya sangat menyayangkan sekali adanya pembatasan terhadap awak media. Dia mengatakan, bahwa wartawan itu sudah dilindungi oleh Undang Undang (UU) pers nomor 40 tahun 1999. Jika ada yang melakukan pembatasan, berarti pihak KPU sudah melawan regulasi sebagaimana diamanahkan didalam UU pers.

“Seharusnya hal semacam ini tidak boleh terjadi, karena ini sudah merenggut hak-hak jurnalis. Saya minta pimpinan KPU harus meminta maaf kepada awak media seluruh Banyuwangi yang telah di batasi tugas peliputannya,” sergah Imam Ashari, Sabtu (26-9-20).

Dikatakan Imam, seandainya KPU tidak mau meminta maaf kepada jurnalis yang di batasi peliputanya, dia bersama FKW Mahkota akan mengerahkan para jurnalis untuk berdemo di depan KPU  atau meminta hearing di DPRD Banyuwangi agar KPU Banyuwangi bisa menjelaskan kenapa ada batasan batasan antara media yang satu dengan lainnya.

“Saya anggap kejadian seperti ini sudah tebang pilih dan mengkotak-kotak-kan insan pers yang ada di Banyuwangi. Situasi kondusif yang ada di Banyuwangi jangan sampai tercoreng oleh sikap KPU,” tegas Imam. (red)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
Close