Sonaf Tamkesi, Ruang Belajar Sejarah yang Tak Tergantikan

Berita Nasional. Id – Sejarah tidak selalu harus dibaca dari lembaran buku, dipahami melalui teori di ruang kuliah, atau dihafalkan dari catatan masa lalu. Ada kalanya sejarah harus didatangi, disaksikan, dirasakan, dan didengarkan langsung dari tempat di mana peradaban itu tumbuh dan diwariskan.
Itulah pengalaman berharga yang diperoleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Nusa Cendana (Undana), ketika melakukan kuliah lapangan di Sonaf Tamkesi, pusat Kerajaan Biboki, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Jumat (30/10/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan akademik biasa. Lebih dari itu, perjalanan menuju Sonaf Tamkesi menjadi sebuah pengalaman intelektual dan kultural yang mempertemukan dunia pendidikan tinggi dengan warisan peradaban masyarakat adat Timor yang masih hidup hingga saat ini.
Ratusan mahasiswa dari semester I, III, dan V mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias. Mereka didampingi langsung oleh Dekan FKIP Undana, Prof. Dr. Drs. Malkisedek Taneo, M.Si., serta Koordinator Kuliah Lapangan, Silvanus Jefrino Mali, S.Pd., M.Pd.
Rombongan tiba di kawasan Sonaf Tamkesi sekitar pukul 10.00 WITA. Sejak memasuki kawasan tersebut, mahasiswa seolah diajak menelusuri lorong waktu menuju masa lalu.
Pepohonan yang tumbuh subur di atas gunung batu, bebatuan yang diselimuti lumut, serta suasana alam yang masih terjaga menghadirkan nuansa historis yang begitu kuat.
Di tempat ini, alam, sejarah, dan kebudayaan seakan menyatu. Setiap sudut kawasan menyimpan cerita yang patut ditelusuri, sementara setiap peninggalan menjadi pengingat bahwa sebuah peradaban pernah tumbuh dan berkembang dengan sistem nilai, aturan, serta tradisinya sendiri.
Perjalanan mahasiswa menuju pusat kerajaan dimulai melalui pintu selatan yang ditandai sebuah tugu batu bertuliskan “Tatamok Temen Teu Sonaf Tamkesi ‘Eno Belsikone’.”
Tulisan tersebut menjadi penanda sekaligus bagian dari identitas kawasan Sonaf Tamkesi.
Namun, perjalanan menuju pusat kerajaan tidak berhenti di sana. Mahasiswa harus melewati tiga benteng yang memiliki makna tersendiri dalam tatanan Kerajaan Biboki, yakni Benteng Amfotis, Benteng Tkafun, dan Benteng Taslulu.
Keberadaan ketiga benteng tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa bahwa sebuah kerajaan pada masa lalu tidak hanya dibangun melalui kepemimpinan seorang raja, tetapi juga memiliki sistem pertahanan, pembagian peran, serta struktur sosial yang menopang keberlangsungan pemerintahannya.
Di sinilah pembelajaran sejarah menjadi menarik. Mahasiswa tidak hanya mendengar nama-nama tempat dari sebuah cerita, tetapi berkesempatan melihat langsung ruang-ruang historis yang menjadi bagian dari perjalanan kerajaan.
Setiap benteng, batu, dan kawasan kerajaan menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat masa lalu membangun kehidupan, mempertahankan wilayah, serta menjaga identitas kolektifnya.
Setibanya di pusat kerajaan, mahasiswa disambut pihak Kerajaan Biboki di sebuah lopo atau lumbung adat yang dikenal dengan nama Lopo Tain Lasi.
Dari tempat inilah rangkaian kegiatan berlanjut menuju kediaman Kaisar Biboki, Thimoteus Tabesi Usboko.
Kaisar didampingi Petrus Subani Uskenat yang dalam tatanan kerajaan berkedudukan sebagai A’aat Neno Biboki, serta Dominggus Tahaf sebagai Tsiom Lasi Neno Biboki.
Dalam rangkaian tersebut, perwakilan mahasiswa bersama Dekan FKIP Undana, Prof. Malkisedek Taneo, mengikuti prosesi persembahan adat atau Tateot yang dilakukan oleh Usi Koko di Sonaf, didampingi para Usif dan Amaf.
Prosesi tersebut menjadi salah satu pengalaman penting bagi mahasiswa. Mereka dapat menyaksikan secara langsung bagaimana tradisi adat dijalankan dan bagaimana nilai-nilai leluhur tetap memperoleh tempat dalam kehidupan masyarakat kerajaan.
Setelah prosesi selesai, dosen dan perwakilan mahasiswa mengikuti acara makan adat di dalam Sonaf.
Selama kurang lebih tiga jam, rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana penuh penghormatan terhadap tradisi dan tatanan adat Kerajaan Biboki.
Kehadiran mahasiswa di dalam Sonaf memberikan pesan penting bahwa sejarah bukan hanya tentang siapa yang pernah berkuasa, tetapi juga tentang bagaimana nilai, identitas, dan tradisi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di kediaman kaisar, para mahasiswa, dosen, dan tetua adat kembali menuju Lopo Tain Lasi yang telah dipenuhi ratusan mahasiswa.
Tidak berselang lama, Kaisar Biboki bersama permaisuri, Usif Uskenat, dan Usif Tahaf turut bergabung bersama rombongan.
Momen yang paling menarik kemudian berlangsung ketika mahasiswa mendapatkan kesempatan berdialog dan mengajukan berbagai pertanyaan secara langsung kepada Kaisar Biboki.
Di Lopo Tain Lasi, mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat aktif dalam menggali pengetahuan mengenai sejarah, adat istiadat, dan kehidupan Kerajaan Biboki.
Pertemuan tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang tidak mudah diperoleh hanya melalui perkuliahan di dalam kelas.
Sebab, ada perbedaan mendasar antara membaca sejarah kerajaan melalui buku dengan mendengarkan kisahnya secara langsung dari orang-orang yang menjadi bagian dari pewarisan tradisi tersebut.
Dalam konteks pendidikan sejarah, pengalaman seperti ini memiliki nilai akademik yang sangat penting. Sejarah tidak hanya dipahami sebagai peristiwa masa lampau, tetapi juga sebagai identitas dan realitas sosial yang masih memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekarang.
Setelah berlangsung sekitar dua jam, kegiatan tersebut ditutup dengan penyerahan plakat dari pihak Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Undana kepada Kaisar Biboki, Thimoteus Tabesi Usboko, serta penyerahan sejumlah selendang sebagai bentuk penghormatan dan kenang-kenangan.
Kuliah lapangan di Sonaf Tamkesi seharusnya menjadi pengingat bahwa kekayaan sejarah dan kebudayaan Nusa Tenggara Timur merupakan aset intelektual yang sangat berharga.
Kerajaan Biboki bukan sekadar bagian dari cerita masa lalu masyarakat Timor. Keberadaan Sonaf Tamkesi, struktur kerajaan, benteng-benteng, tradisi persembahan, hingga sistem kepemimpinan adat merupakan kekayaan sejarah dan budaya yang perlu terus dipelajari, didokumentasikan, serta diwariskan.
Di tengah perkembangan zaman dan perubahan pola kehidupan generasi muda, pelestarian warisan budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat adat. Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab besar untuk mengambil bagian.
Universitas, khususnya program studi yang bergerak dalam bidang pendidikan sejarah, perlu menjadikan situs-situs bersejarah sebagai ruang pembelajaran, penelitian, dan pengembangan pengetahuan.
Mahasiswa harus didorong untuk tidak sekadar mengenal nama kerajaan, tetapi juga memahami sistem sosial, nilai kepemimpinan, tradisi, serta dinamika sejarah yang membentuk identitas masyarakat setempat.
Lebih jauh, perjumpaan antara mahasiswa dan pemangku adat seperti yang berlangsung di Sonaf Tamkesi perlu terus dibangun. Sebab, pengetahuan sejarah yang diwariskan secara lisan berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan dan diteliti secara serius.
Para tetua adat, pemangku kerajaan, dan masyarakat yang masih menyimpan pengetahuan tentang sejarah leluhur merupakan sumber pengetahuan penting bagi dunia akademik.
Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas adat menjadi langkah strategis untuk menjaga agar warisan sejarah tidak hanya bertahan sebagai simbol, tetapi juga terus hidup dalam pengetahuan dan kesadaran generasi penerus.
Apa yang dilakukan Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Undana di Sonaf Tamkesi merupakan contoh bahwa pembelajaran sejarah dapat berlangsung secara lebih kontekstual dan bermakna.
Mahasiswa datang bukan sekadar melihat bangunan kerajaan, melewati benteng, atau bertemu seorang kaisar. Mereka sedang belajar memahami peradaban, menghargai tradisi, dan menyadari bahwa identitas sebuah daerah dibangun melalui perjalanan panjang sejarah.
Sonaf Tamkesi memberikan pelajaran bahwa kemajuan suatu bangsa tidak seharusnya membuat generasi mudanya melupakan akar sejarah dan kebudayaan sendiri.
Justru, semakin modern sebuah masyarakat, semakin penting pula kesadaran untuk menjaga warisan masa lalunya.
Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu melangkah maju, tetapi juga bangsa yang mengenal asal-usul, menghargai perjuangan leluhur, dan menjaga identitas budayanya.
Dari Sonaf Tamkesi, mahasiswa Undana mendapatkan satu pelajaran penting: sejarah bukan hanya untuk dikenang, melainkan untuk dipahami, dijaga, dan diwariskan.
Sebab, ketika generasi muda berhenti mengenal sejarahnya, perlahan-lahan mereka juga akan kehilangan sebagian dari identitasnya.*



