Prof. Taneo Bawa FKIP Undana Jadi Mercusuar Pendidikan Global

BeritaNasional.ID, KUPANG — Di tengah derasnya arus transformasi pendidikan tinggi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) tampil sebagai pionir perubahan.
Fakultas ini bukan lagi sekadar pencetak guru, melainkan mercusuar pendidikan yang bersinar hingga ke panggung internasional.
Semua ini tak lepas dari sentuhan kepemimpinan Prof. Malkisedek Taneo, yang sejak 2019 menakhodai FKIP dengan visi besar dan langkah konkret.
“Kalau kita melihat dari kepemimpinan beliau sebagai Dekan FKIP, sudah banyak hal yang dihasilkan. Prof. Taneo telah mengubah wajah FKIP, bahkan ikut mengubah wajah Undana. Kalau Undana unggul, itu juga karena kontribusi signifikan dari FKIP di bawah kepemimpinannya,” tegas Prof. Petrus Ly, Guru Besar PPKn Undana, saat diwawancarai Bernas Network.
Menurutnya, sosok dengan kinerja nyata seperti Prof. Taneo harus diberi ruang untuk membawa perubahan yang lebih luas.
“Kalau ada pemimpin yang sudah terbukti, kenapa kita tidak dorong? Memang masih ada dosen-dosen lain, tapi yang sudah memenuhi syarat dan punya prestasi harus kita dukung. Ini saatnya,” ujarnya.
Prestasi spektakuler FKIP menembus batas geografis ketika pada 6 Juni 2025, tiga program studinya resmi meraih akreditasi internasional dari Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA), sebuah lembaga akreditasi bergengsi yang berbasis di Bonn, Jerman, dan diakui oleh European Quality Assurance Register (EQAR).
Tiga prodi yang meraih pengakuan internasional itu adalah:
1. Pendidikan Bahasa Inggris.
2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
3. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Pencapaian ini menegaskan bahwa FKIP tidak sekadar unggul di tingkat nasional, tetapi juga telah diakui dalam standar mutu pendidikan global.
“Ini bukan hanya sertifikat, tetapi paspor untuk kolaborasi internasional,” ungkap Prof. Ly.
Selain pengakuan internasional, FKIP juga berhasil mengantongi akreditasi “Unggul” untuk tujuh program studi dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (Lamdik), yakni:
1. Bimbingan dan Konseling
2. Pendidikan Kimia
3. Pendidikan Matematika
4. Pendidikan Sejarah
5. Pendidikan Teknik Bangunan
6. Pendidikan Geografi
7. Pendidikan Ekonomi
Dengan capaian ini, dari total 18 prodi FKIP, sebagian besar telah mencapai standar tertinggi. Prof. Ly optimistis, dalam dua hingga tiga tahun ke depan, seluruh prodi akan menyandang predikat “Unggul”.
“Tahun ini atau tahun depan, kita akan mengikis jumlah prodi yang belum unggul. Ini keberlanjutan yang harus kita dorong,” katanya.
Keberhasilan FKIP menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong Undana meraih akreditasi institusi “Unggul” dari BAN-PT berdasarkan SK No. 2288/SK/BAN-PT/AK/PT/II/2025 yang berlaku sejak 11 Februari 2025. Sebelumnya, Undana hanya berstatus “Baik Sekali” sejak 2023.
FKIP bukan hanya sibuk mengurus akreditasi. Di bawah kepemimpinan Prof. Taneo, fakultas ini terus memodernisasi kurikulum agar selaras dengan Revolusi Industri 4.0 dan digitalisasi pendidikan.
Program pertukaran pelajar, magang profesional, riset kolaboratif, hingga pelatihan kewirausahaan menjadi menu wajib bagi mahasiswa FKIP untuk mengasah kompetensi global.
Di balik semua gemerlap prestasi internasional, FKIP tidak melupakan misinya di akar rumput. Program studi seperti PGSD, PAUD, Pendidikan Jasmani, dan Pendidikan Luar Sekolah tetap menjadi ujung tombak dalam melayani pendidikan dasar, terutama di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).
Pendekatan ini menegaskan bahwa FKIP adalah agen perubahan sosial, bukan sekadar institusi akademik.
“Kami ingin melahirkan pendidik yang bukan hanya pintar, tetapi juga humanis, transformatif, dan peka terhadap realitas sosial,” jelas Prof. Taneo.
Prof. Taneo menekankan bahwa seluruh capaian ini adalah hasil kerja kolektif.
“Semua capaian luar biasa ini bukan hasil kerja individu semata, tetapi buah kebersamaan, keseriusan, dan kerja keras seluruh elemen fakultas,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa setiap proses akreditasi dijalankan secara sistematis, mulai dari simulasi dua hingga tiga kali sebelum pengajuan, pendampingan intensif, hingga keterbukaan komunikasi. Semua itu dilandasi oleh prinsip yang dirangkum dalam tagline: “FKIP, rumah kita bersama.”
“Rumah adalah tempat yang dibangun dengan cinta, dijaga dengan komitmen, dan dirawat dengan tanggung jawab bersama. Karena itu, kami mengajak seluruh warga FKIP untuk menjadikannya ruang tumbuh yang saling menguatkan,” ujarnya.
Dengan kerja keras, kerja cerdas, gotong royong, serta landasan spiritual, FKIP Undana terus melaju, membentuk pendidik profesional, berintegritas, dan berdaya saing global.
Di era disrupsi ini, FKIP bukan hanya fakultas, tetapi kawah candradimuka bagi para pejuang pendidikan yang siap menyalakan obor peradaban bangsa.*
(Alberto)



