Jejak Sejarah: Pekalongan Catat 100 Potensi Cagar Budaya
Dari bangunan kolonial hingga situs keagamaan, Pekalongan menyiapkan 100 titik bersejarah untuk dilestarikan sebagai cagar budaya kota

Berita Nasional.ID | Kota Pekalongan – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dinparbudpora) mencatat terdapat sekitar 100 objek yang berpotensi menjadi cagar budaya di wilayahnya. Dari jumlah tersebut, baru 19 objek yang telah resmi ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Wali Kota Pekalongan.
Kepala Dinparbudpora Kota Pekalongan, Sabaryo Pramono, menyampaikan bahwa proses penetapan cagar budaya memerlukan waktu panjang dan tahapan ketat. Mulai dari identifikasi lapangan, kajian bersama tim budaya, hingga verifikasi oleh tim ahli dari tingkat kota, provinsi, hingga pusat. “Tahapan awal dimulai dari survei lapangan, kemudian dilakukan kajian mendalam oleh tim lintas instansi,” ujarnya, Selasa (14/10/2025).
Hasil identifikasi menunjukkan sekitar 100 objek memenuhi kriteria awal cagar budaya. Namun, baru sebagian yang lolos proses verifikasi dan mendapatkan penetapan resmi. Beberapa di antaranya adalah Kawasan Budaya Jatayu, Kantor Residen Pekalongan, Gedung SMP Negeri 1 dan 13, serta sejumlah benda bersejarah seperti arca di Museum Batik dan brankas kuno yang masih dalam tahap kajian lanjutan.
Sabaryo menegaskan, penetapan cagar budaya tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga diikuti dengan langkah perlindungan dan pelestarian. Pemerintah berkomitmen menjaga keaslian bentuk, arsitektur, serta nilai sejarah bangunan. “Bangunan yang telah ditetapkan tidak boleh diubah bentuknya. Bahkan, tersedia insentif berupa pengurangan atau pembebasan pajak bagi pemilik bangunan cagar budaya,” jelasnya.
Selain upaya pelestarian, Pemkot Pekalongan juga menggencarkan edukasi publik melalui festival budaya, pameran sejarah, dan lomba pelestarian warisan budaya. Langkah ini diharapkan menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menjaga warisan sejarah kota. “Melestarikan cagar budaya bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap jati diri Kota Pekalongan,” pungkas Sabaryo. (mflh)



