kupang

Pakar ITB: Geothermal Tak Merusak Lingkungan, Justru Dorong Ekonomi Masyarakat

BeritaNasional.ID, KUPANG — Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan panas bumi (geothermal) terbesar di dunia.

Namun, potensi luar biasa itu dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini diungkapkan oleh Koordinator Program Pascasarjana Geothermal Institut Teknologi Bandung (ITB), Dedy Irawan, saat menghadiri kegiatan sharing knowledge dan kolaborasi pendidikan antara Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB dan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Kamis, 30 Oktober 2025.

Dalam wawancaranya dengan Bernas, Dedy menggarisbawahi pentingnya memahami geothermal bukan hanya sebagai sumber energi alternatif, tetapi juga sebagai peluang besar dalam transisi menuju energi bersih nasional.

“Potensi geothermal kita sangat besar, namun pemanfaatannya masih relatif rendah. Padahal, dibandingkan sumber energi lain, dampak lingkungan dari geothermal justru sangat kecil,” ujarnya.

Dedy menyoroti Mataloko, salah satu wilayah di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sejak lama dikenal sebagai lokasi manifestasi panas bumi aktif.

Fenomena uap yang keluar di permukaan tanah, menurutnya, merupakan proses alamiah dari sistem geothermal dangkal yang mengalami perubahan tekanan di bawah permukaan.

“Konsentrasi manifestasi di Mataloko itu bukan karena kerusakan lingkungan, tetapi akibat dari pergerakan uap panas yang naik ke permukaan. Ini hal yang wajar secara geologi,” jelas Dedy.

Ia menekankan, pengelolaan panas bumi di Mataloko harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, agar eksplorasi dan operasionalnya tidak menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.

“Mataloko itu luas, dan yang terpapar hanya area tertentu saja. Ini bisa menjadi pelajaran penting agar eksplorasi dilakukan dengan benar. Bahkan saya usulkan agar dibangun monumen geothermal di Mataloko, sebagai simbol sekaligus pengingat bagaimana kita bisa mengelola energi panas bumi secara baik dan bertanggung jawab,” ungkapnya.

Lebih jauh, Dedy menjelaskan bahwa panas bumi bukan hanya soal energi listrik, tetapi juga membuka peluang besar bagi pembangunan ekonomi lokal.

Kehadiran proyek geothermal biasanya diikuti dengan peningkatan infrastruktur dan akses ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Kalau geothermal hadir, akses jalan membaik, aktivitas ekonomi meningkat, dan komoditas pertanian di sekitar wilayah itu juga ikut berkembang. Ini efek berantai yang sangat positif,” katanya.

Menurut Dedy, geothermal seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai energi baru dan terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan dan mendukung ketahanan energi nasional.

Negara-negara seperti Italia, Islandia, dan Selandia Baru, lanjut Dedy, telah memanfaatkan panas bumi selama puluhan tahun tanpa menimbulkan kerusakan berarti.

“Sampai sekarang, belum ada bukti ilmiah yang menyebutkan bahwa geothermal merusak lingkungan. Yang perlu kita lakukan adalah memperkuat riset, melakukan kajian yang matang, dan memastikan setiap langkahnya berbasis data ilmiah,” tegasnya.

Dalam konteks itu, Dedy menilai kolaborasi antara ITB dan Undana menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas akademik di bidang energi terbarukan, khususnya geothermal.

“Pemahaman masyarakat dan akademisi lokal sangat penting. Dengan edukasi yang tepat, kita bisa mengubah paradigma bahwa geothermal itu berbahaya. Justru ini adalah energi bersih yang bisa menyejahterakan,” tandasnya.

Dedy juga menekankan bahwa pengelolaan geothermal harus berorientasi pada keberlanjutan dan keseimbangan antara kebutuhan energi, kelestarian lingkungan, dan peningkatan ekonomi masyarakat.

“Bagaimanapun, setiap aktivitas pasti punya dampak. Tapi kalau dikelola secara baik, geothermal bisa menjadi berkah besar bagi daerah seperti NTT,” pungkasnya.

Kegiatan kolaborasi ini menjadi momentum penting bagi Undana dan ITB dalam memperkuat kerja sama di bidang pendidikan dan penelitian energi terbarukan.

Dedy berharap, melalui kolaborasi tersebut, NTT dengan kekayaan alam panas buminya bisa menjadi laboratorium alam energi bersih Indonesia yang berkontribusi terhadap target net-zero emission nasional.*

Alberto

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button