Pelanggan Keluhkan Mahalnya Tarif PDAM

BeritaNasional.ID, BONDOWOSO JATIM – Tarif PDAM setiap tahun terus naik, hingga saat ini kenaikannya mencapai Rp150-Rp200 ribu. Tentu saja kondisi seperti ini, membuat pelanggan kelas menengah ke bawah mengeluh.
Apalagi saat ini, Pemerintah Pusat menaikkan harga BBM, hususnya jenis pertamax hingga Rp16 ribu. Kenaikan harga BBM ini membuat masyarakat semakin hawatir, jangan-jangan kebutuhan pokok seperti air, tarifnya akan juga ikut naik.
Seperti yang terjadi di Desa Wonokusumo Kecamatan Tapen. Pelanggan kelas bawah saja, tariff PDAM-nya antara Rp150 sampai Rp200 ribu. Apalagi kelas atas, tarifnya lebih mahal lagi, Rp400 ribu.
Kusnadi, Warga Desa Wonokusumo membenarkan informasi tersebut. Tetangganya, persis didepan rumahnya, pekerja serabutan, tariff PDAM-nya mencapai Rp150 ribu. Padahal sebelumnya hanya Rp60-Rp80 ribu.
“Padahal air tersebut hanya digunakan untuk masak saja, tidak untuk mencuci dan tidak menyemprot halaman saat matahari sagat panas. Tarif sebesar itu bagi pelanggan sangat membenarkan,” keluhnya.
Yang menjadi pertanyaan pelanggan, modal PDAM hanya paralon, itupun tidak ada peremajaan hingga bertahun-tahun. Bahan bakunya, air, tidak usah membeli, karena sudah disediakan oleh alam, kok tarifnya bisa mahal.
Berbeda dengan PLN. Bahan bakunya harus beli, misalnya batu bara atau yang lainnya. Masih membutuhkan tiang, kabel, perbaikan ketika listrik mati, dan peralatan lainnya. Jadi wajar kalau tarifnya seperti saat ini.
Yang dihawatirkan pelanggan, petugas PDAM Sumber Wringin yang membawahi pelanggan Wonokusumo, memark-up tarif. Maksudnya, tarif yang dikenakan pada pelanggan tidak sama dengan yang dilaporkan ke PDAM Pusat –Bondowoso, red-.
“Kalau kenaikan tarif PDAM ini terus dibiarkan, tidak ada gunanya kita punya Sumber Daya Air –SDA- melimpah,” kata H. Kus, sapaannya. Memang informasi dilapangan, seluruh petugas PDAM Sumber Wringin, minimal punya mobil Xenia. –Syamsul Arifin/Bernas-
