Artikel/OpiniHeadlineNasionalRagam

Perjalanan Tengkar KH Miftahul Akhyar

BeritaNasional.com, JAKARTA — Dinamika internal Nahdlatul Ulama kembali menjadi sorotan. Di tengah harapan besar publik terhadap stabilitas organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini, konflik antar-elite di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama justru dinilai masih terus berlanjut.
<span;>Sejumlah kalangan menyebut kondisi ini sebagai fase “ambyar”, bahkan “mudyar” istilah yang menggambarkan situasi yang kian sulit dipersatukan.

Dua Kubu, Satu Organisasi
Peta konflik di internal PBNU disebut-sebut mengerucut pada dua poros utama. Di satu sisi, terdapat kelompok yang dikaitkan dengan Rais Aam Miftahul Akhyar, bersama Sekjen Saifullah Yusuf dan Bendahara Umum Gudfan Arif Ghofur.

Di sisi lain, berdiri Ketua Umum Yahya Cholil Staquf, Katib Aam KH Ahmad Said Asrori, serta Waketum KH Amin Said Husni.

Ironisnya, figur-figur ini secara struktur justru diharapkan saling menopang. Rais Aam dan Katib Aam semestinya menjadi poros keulamaan, sementara Ketua Umum dan Sekjen menjadi penggerak organisasi. Namun realitas di lapangan menunjukkan relasi yang kerap memanas.

Islah Belum Tuntas
<span;>Upaya rekonsiliasi sempat mencuat melalui momentum Islah Lirboyo yang memberi harapan baru. Namun hingga kini, ketegangan dinilai belum sepenuhnya reda.

Sebagian pihak menilai konflik hanya berkutat pada relasi personal antara Ketua Umum dan Sekjen. Namun, analisis yang berkembang di kalangan internal NU menunjukkan persoalan lebih kompleks, mencakup perbedaan visi, komunikasi, hingga distribusi kewenangan.

Jejak Panjang Dinamika

Nama Miftahul Akhyar menjadi salah satu figur yang kerap muncul dalam berbagai fase dinamika NU.
Karier organisasinya tercatat mulai dari Rais Syuriah PCNU Surabaya, lalu naik ke tingkat wilayah Jawa Timur mendampingi Mutawakkil Alallah. Di fase ini, sejumlah sumber menyebut adanya perbedaan pandangan terkait batas kewenangan antara struktur Syuriah dan Tanfidziyah.

Kariernya kemudian berlanjut ke tingkat nasional sebagai Wakil Rais Aam mendampingi Ma’ruf Amin dalam kepengurusan yang dipimpin Said Aqil Siradj.

Puncaknya, setelah Muktamar NU ke-34, ia menjabat Rais Aam berpasangan dengan Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum.
<span;>Namun, alih-alih meredakan konflik, ketegangan justru kembali mengemuka dan kali ini lebih terbuka ke publik.

Lebih dari Sekadar Personal
Pengamat menilai konflik di tubuh NU tidak bisa disederhanakan sebagai persoalan individu. Organisasi sebesar NU memiliki kompleksitas tinggi mulai dari perbedaan visi keagamaan, kepentingan politik, hingga perebutan pengaruh di lingkar elite.

Meski demikian, pola konflik yang berulang dinilai menjadi alarm serius bagi masa depan organisasi.

Ujian Kepemimpinan
NU selama ini dikenal sebagai organisasi yang menjunjung tinggi nilai moderasi, persatuan, dan keteduhan. Figur-figur seperti Ahmad Siddiq dan Sahal Mahfudz kerap dijadikan rujukan kepemimpinan yang mampu meredam konflik internal.

Kini, menjelang agenda besar organisasi berikutnya, publik menaruh harapan agar NU mampu menghadirkan kepemimpinan yang lebih solid dan inklusif.

Pasalnya, sebagai organisasi dengan jutaan pengikut, stabilitas NU dinilai tidak hanya penting bagi internal, tetapi juga bagi keseimbangan sosial dan keagamaan di Indonesia. NU terlalu besar untuk terus berada dalam pusaran konflik elite.

Salam Amar Ma’ruf Nahi Munkar
HRM Khalilur R Abdullah SahlawiyWarga NU, Kiai Kampung

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button