Nusa Tenggara Timur

Kuliah Lapangan di Sonaf Tamkesi, Undana Perkuat Pembelajaran Sejarah Berbasis Budaya Lokal

 

BeritaNasional.ID, KEFAMENANU – Ratusan mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Nusa Cendana (Undana), mengikuti kuliah lapangan di Sonaf Tamkesi, pusat Kerajaan Biboki, Desa Tautpah, Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 29–31 Oktober 2026.

Kegiatan akademik yang melibatkan mahasiswa semester I, III, dan V ini menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk mempelajari sejarah, kebudayaan, tradisi, serta kearifan lokal masyarakat adat Biboki secara langsung dari sumber sejarah dan para pemangku adat.

Rombongan mahasiswa berangkat menuju lokasi kegiatan menggunakan bus dengan didampingi sejumlah dosen Prodi Sejarah, di antaranya Dekan FKIP Undana, Prof. Dr. Drs. Malkisedek Taneo, M.Si.; Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah, Dr. Djakariah, M.Pd.; Koordinator Kuliah Lapangan, Silvanus Jefrino Mali, S.Pd., M.Pd.; Esry Defriana Tosi, S.Pd., M.Pd.; Saswal Ukba, S.Sos., M.Hum.; serta Ayu Febrianti Akbar, S.Pd., M.Pd.

Dekan FKIP Undana, Prof. Malkisedek Taneo, dalam wawancara menjelaskan bahwa kuliah lapangan merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran sejarah. Menurutnya, ilmu sejarah harus dibangun berdasarkan data, bukti, dan fakta, yang sebagian besar dapat ditemukan melalui pengamatan langsung di lapangan dan kehidupan masyarakat.

Ia menegaskan, pembelajaran sejarah tidak cukup hanya dilakukan melalui teori dan diskusi di ruang perkuliahan. Mahasiswa perlu diberikan kesempatan untuk melihat kondisi riil masyarakat, menemukan bukti sejarah, serta memahami fakta-fakta kebudayaan melalui observasi, wawancara, studi dokumen, dan berbagai pendekatan ilmiah lainnya.

“Pembelajaran dan perkuliahan sejarah harus didasarkan atas data, bukti, dan fakta. Semua itu dapat ditemukan di lapangan dan di tengah masyarakat. Karena itu, pembelajaran sejarah harus berbasis bukti dan fakta,” jelas Prof. Taneo.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga bertujuan memperdalam pemahaman mahasiswa dan dosen mengenai berbagai peristiwa sejarah, peninggalan sejarah, serta kebudayaan masyarakat yang menjadi pemilik dan pewaris sejarah tersebut.

Melalui interaksi langsung dengan para narasumber yang berkompeten, khususnya para Usif, Amaf, dan tokoh adat, mahasiswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang tidak selalu bisa didapatkan melalui pembelajaran di dalam kelas.

Prof. Taneo juga menekankan bahwa sejarah dan kebudayaan merupakan dua unsur yang saling berkaitan erat serta terus tumbuh dan berkembang bersama masyarakat.

Karena itu, keberadaan para pemangku adat dan masyarakat setempat memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa memahami sejarah secara kontekstual, sekaligus memperkuat kesadaran mengenai pentingnya budaya sebagai identitas dan jati diri masyarakat.

Selain memperdalam pengetahuan sejarah, kuliah lapangan tersebut juga menjadi ruang pembelajaran nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, persatuan, kerja sama, dan gotong royong.

Mahasiswa dan dosen tidak hanya belajar mengenai peninggalan masa lalu, tetapi juga menghayati nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur dan masih relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Sebelum melaksanakan kuliah lapangan, mahasiswa yang memprogramkan sejumlah mata kuliah terkait terlebih dahulu dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan tema yang diberikan dosen.

Setiap kelompok diberikan tanggung jawab untuk menggali data, bukti, dan fakta sejarah melalui wawancara, observasi, studi dokumen, serta analisis terhadap berbagai informasi yang diperoleh di lapangan.

Hasil pengumpulan data tersebut selanjutnya akan disusun menjadi laporan kuliah lapangan sebagai tugas proyek dari beberapa mata kuliah yang diprogramkan.

Laporan masing-masing kelompok nantinya dipresentasikan di kampus dan dinilai oleh dosen pengampu mata kuliah.

Melalui proses tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar, tetapi juga dilatih mengembangkan keterampilan akademik, seperti melakukan wawancara, observasi, mengajukan pertanyaan, melakukan kritik sumber, menganalisis data, mempelajari dokumen, serta membandingkan berbagai bukti dan fakta sejarah.

Prof. Taneo berharap kegiatan kuliah lapangan seperti ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap berbagai kelemahan yang ditemukan selama pelaksanaan.

Ia menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat teoretis maupun praktis bagi mahasiswa dan dosen dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah.

Sementara itu, Koordinator Kuliah Lapangan, Silvanus Jefrino Mali, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan di Kampung Adat Tamkesi bertujuan memperkaya wawasan mahasiswa Pendidikan Sejarah melalui pengalaman belajar secara langsung.

Menurutnya, mahasiswa perlu mengenal dan memahami nilai-nilai budaya, sejarah lokal, serta kearifan masyarakat adat melalui interaksi langsung dengan lingkungan dan para pemangku adat.

Selain itu, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh data empiris yang dapat menjadi dasar pengembangan penelitian ilmiah pada masa mendatang.

Dengan demikian, kuliah lapangan tidak hanya menjadi kegiatan kunjungan akademik, tetapi juga bagian dari proses membangun kemampuan mahasiswa dalam memahami, meneliti, dan mendokumentasikan kekayaan sejarah serta kebudayaan daerah.

Hal senada disampaikan Ketua Panitia Kuliah Lapangan, Anggita Usfinit. Ia menegaskan bahwa pengalaman langsung di lapangan memberikan makna yang berbeda dibandingkan pembelajaran sejarah yang hanya mengandalkan buku dan hafalan.

“Tanpa turun lapangan sejarah hanya hafalan, tetapi dengan turun lapangan sejarah jadi pengalaman,” ungkap Anggita.

Selama berada di Sonaf Tamkesi, mahasiswa mendapatkan pengalaman untuk mengenal lebih dekat kawasan pusat Kerajaan Biboki yang memiliki kekayaan sejarah dan tradisi adat.

Rombongan tiba di kawasan Sonaf Tamkesi sekitar pukul 10.00 WITA. Sejak memasuki kawasan tersebut, mahasiswa disuguhkan suasana alam yang masih terjaga, dengan pepohonan yang tumbuh di atas gunung batu serta bebatuan yang diselimuti lumut.

Perjalanan menuju pusat kerajaan dimulai melalui pintu selatan yang ditandai sebuah tugu batu bertuliskan “Tatamok Temen Teu Sonaf Tamkesi ‘Eno Belsikone’.

Dalam perjalanan tersebut, mahasiswa melewati tiga benteng yang memiliki makna tersendiri dalam tatanan Kerajaan Biboki, yakni Benteng Amfotis, Benteng Tkafun, dan Benteng Taslulu.

Keberadaan ketiga benteng tersebut memberikan gambaran mengenai sistem pertahanan dan struktur kehidupan Kerajaan Biboki pada masa lalu.

Setibanya di pusat kerajaan, rombongan mahasiswa disambut oleh pihak Kerajaan Biboki di sebuah lopo atau lumbung adat yang dikenal dengan nama Lopo Tain Lasi.

Selanjutnya, rombongan menuju kediaman Kaisar Biboki, Thimoteus Tabesi Usboko, yang didampingi Petrus Subani Uskenat selaku A’aat Neno Biboki dan Dominggus Tahaf sebagai Tsiom Lasi Neno Biboki.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, perwakilan mahasiswa bersama Dekan FKIP Undana, Prof. Malkisedek Taneo, mengikuti prosesi persembahan adat atau Tateot yang dilakukan oleh Usi Koko di Sonaf, didampingi para Usif dan Amaf.

Prosesi adat tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa untuk menyaksikan secara langsung bagaimana tradisi leluhur tetap dijaga dan diwariskan dalam kehidupan masyarakat adat Biboki.

Setelah prosesi selesai, dosen dan perwakilan mahasiswa mengikuti acara makan adat di dalam Sonaf.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan bersama Kaisar Biboki, permaisuri, Usif Uskenat, dan Usif Tahaf di Lopo Tain Lasi yang telah dipenuhi ratusan mahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa mendapatkan ruang untuk berdialog dan mengajukan berbagai pertanyaan secara langsung kepada Kaisar Biboki mengenai sejarah kerajaan, adat istiadat, sistem kepemimpinan, serta kehidupan masyarakat adat.

Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran karena mahasiswa dapat memperoleh informasi langsung dari para pemangku adat yang memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai sejarah serta kebudayaan Kerajaan Biboki.

Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan plakat dari Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Undana kepada Kaisar Biboki, Thimoteus Tabesi Usboko, serta penyerahan sejumlah selendang sebagai bentuk penghormatan dan kenang-kenangan.

Kuliah lapangan di Sonaf Tamkesi menjadi gambaran bahwa pembelajaran sejarah dapat dilakukan secara lebih kontekstual dengan mempertemukan pengetahuan akademik dan sumber sejarah yang hidup di tengah masyarakat.

Kerajaan Biboki dengan Sonaf Tamkesi, benteng-benteng bersejarah, tradisi adat, serta sistem kepemimpinan masyarakatnya merupakan kekayaan sejarah dan kebudayaan NTT yang perlu terus dipelajari, diteliti, dan didokumentasikan.

Di tengah perkembangan zaman, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk turut mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan warisan sejarah dan budaya daerah.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas adat juga menjadi langkah penting agar pengetahuan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun tidak hilang, tetapi dapat didokumentasikan dan dikembangkan menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP Undana tidak hanya belajar mengenal sebuah kerajaan dan peninggalan sejarahnya, tetapi juga memahami nilai-nilai kehidupan, menghargai identitas budaya, serta menyadari pentingnya menjaga warisan leluhur.

Kuliah lapangan tersebut diharapkan menjadi agenda akademik berkelanjutan yang semakin memperkuat hubungan antara dunia pendidikan tinggi dan masyarakat adat.

Sebab, sejarah bukan hanya cerita tentang masa lalu yang tertulis dalam buku. Sejarah juga hidup dalam tradisi, peninggalan, nilai-nilai, dan ingatan kolektif masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari Sonaf Tamkesi, mahasiswa Undana mendapatkan pelajaran bahwa untuk memahami sejarah secara utuh, mereka tidak cukup hanya membaca dan menghafalnya. Mereka juga harus hadir, melihat, mendengar, meneliti, dan belajar langsung dari masyarakat pemilik sejarah dan kebudayaan tersebut.*

Alberto

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button