BPBD Aceh Tamiang Berpacu dengan Waktu; 876 Tenda Tersalurkan, Ribuan Lagi Menyusul

Beritanasionl.id | ACEH TAMIANG — Air bah ekologi yang meluluhlantakkan kabupaten itu meninggalkan jejak perkampungan yang patah, akses-akses darat yang runtuh, serta ribuan warga yang masih menggigil dalam ketidakpastian.
Di tengah keletihan yang membalut hari-hari darurat ini, satu unit kecil terus bekerja dalam senyap—BPBD Aceh Tamiang.
Di posko induk yang berdiri di belakang Kantor Sekdakab, Pelaksana Kepala Pelaksana (Kalaks) BPBD Aceh Tamiang, Iman Suhery, SSTP, MSP, menjadi titik koordinasi seluruh gerak penanganan.
Di ruangan yang penuh peta, radio komunikasi, dan tumpukan laporan situasi, ia menyampaikan kabar yang setidaknya memberikan sedikit ruang bernapas bagi warga terdampak.
“Tenda keluarga yang dikirimkan BNPB sebanyak 876 unit sudah kita distribusikan ke kampung-kampung terdampak,” ujar Suhery dengan suara serak.
Distribusi yang Berpacu dengan Bencana
TENDA-TENDA itu telah menyebar ke empat kecamatan: Kota Kualasimpang, Karang Baru, Rantau, dan Sekerak—terutama ke Kampung Sekumur dan Lubuk Sidup, dua wilayah yang terpukul paling keras.
Setiap tenda berdiri menjadi harapan baru; tempat tidur sementara bagi keluarga yang kehilangan rumah, tempat anak-anak bisa berlindung dari hujan malam, tempat perempuan tua bisa merebahkan badan tanpa takut tanah bergetar karena arus sungai.
“Semua yang diberikan BNPB sudah kita distribusikan sesuai penempatan dan arahan. Kita prioritaskan kampung yang betul-betul sangat terdampak,” jelasnya.
Distribusi baru dapat bergerak cepat setelah akses darat Medan–Kualasimpang kembali terbuka pada 2 Desember 2025. Jalan nasional yang sebelumnya tersumbat lumpur dan runtuhan kini bisa dilewati truk-truk logistik, menghidupkan kembali arteri utama bantuan bencana.
“Itu sudah normal akses Medan–Kualasimpang,” katanya. Kalimat itu mungkin terdengar teknis, tetapi bagi ribuan warga, ia berarti makanan, selimut, obat-obatan, dan harapan.
1000 Tenda Tambahan Sedang dalam Perjalanan
NAMUN kabar yang lebih besar datang tak lama setelahnya. BNPB pusat kini mengirimkan 1000 tenda keluarga tambahan ke Aceh Tamiang. Tenda-tenda ini akan menjadi penyangga kehidupan bagi wilayah-wilayah yang hingga kini masih terputus aksesnya.
“Kita sedang fokus untuk kampung yang belum terjangkau. Meski jalur darat belum bisa ditembus, kita upayakan lewat jalur sungai. Itu satu-satunya jalur yang memungkinkan menjangkau wilayah terisolir,” ungkap Suhery.
Kata upayakan di kalimat itu mengandung makna yang jauh lebih berat daripada yang terdengar. Sungai-sungai Aceh Tamiang masih liar.
Arusnya membawa lumpur, batang pohon tumbang, dan puing-puing kebun sawit yang hanyut. Namun para petugas BPBD tetap berangkat, dengan perahu yang sesekali harus berhenti karena ranting besar menutup jalur.
Mereka membawa tenda, air bersih, beras, dan pakaian, sementara di sisi sungai, ratusan warga masih menunggu tanda-tanda bantuan.
Posko yang Hidup 24 Jam
DI POSKO INDUK, jam sudah lama kehilangan makna. Lampu-lampu menyala sepanjang malam, radio komunikasi tak pernah benar-benar sunyi, dan peta situasi selalu diperbarui setiap beberapa jam.
“BPBD Aceh Tamiang bekerja 24 jam. Semua dikendalikan dari posko induk ini,” kata Suhery, memperlihatkan betapa beratnya operasi ini.
Petugas-petugas muda BPBD, sebagian masih belia, bekerja dengan wajah yang pucat oleh kurang tidur. Ada yang baru kembali dari distribusi ke Sekerak, ada pula yang bersiap mengarungi jalur sungai menuju pedalaman.
Di meja koordinasi, nama-nama kampung yang terputus dicatat satu per satu. Yang sudah mendapat tenda ditandai biru, yang belum dicoret merah. Dan selalu, selalu ada satu titik merah yang harus segera berubah warna.
Kenyataan Lapangan yang Tak Mudah
MENDISTRIBUSIKAN tenda bukan sekadar menghidupkan mesin truk atau mengisi bensin boat. Ada kampung yang hanya bisa dijangkau setelah jalanan berlumpur dikeruk manual oleh warga. Ada perahu yang harus ditarik melawan arus. Ada jembatan gantung yang hanya tinggal setengah badan.
“Kalau ada jalur darat terbuka, kita masuk. Kalau tidak, kita paksa cari jalur lain. Yang penting bantuan sampai,” kata salah satu petugas BPBD di posko.
Tenda; Simbol Bertahannya Sebuah Keluarga
DI BAWAH sinar matahari sore, beberapa tenda yang sudah berdiri tampak seperti pulau-pulau kain biru di tengah daratan yang basah. Di dalamnya, ibu-ibu menyalakan kompor portable, anak-anak merebah di tikar, dan para ayah merapikan pakaian seadanya.
Bagi mereka, tenda bukan kemewahan. Itu adalah pernyataan bahwa mereka masih punya tempat untuk pulang, meski sementara.
Sebuah Kerja Kemanusiaan yang Tidak Selesai Hari Ini
BENCANA ini belum selesai. Sungai masih naik-turun dengan murka yang tidak bisa ditebak. Tanah masih retak. Kampung-kampung di hulu masih terputus.
Namun di tengah kekalutan itu, upaya BPBD dan BNPB memberi sedikit ruang untuk kembali berdiri.
Iman Suhery menutup pembicaraan dengan kalimat yang menggambarkan seluruh denyut kerja kemanusiaan yang sedang berlangsung;
“Selama masih ada warga yang belum tersentuh bantuan, BPBD tidak punya istilah istirahat.”
Ia kemudian kembali ke meja koordinasi, membuka peta baru, dan mengangkat radio komunikasi.
Di luar, sirene kecil ambulans melintas. Malam belum benar-benar gelap, tetapi Aceh Tamiang sudah kembali bekerja menyambung hidup. [].



