Kedung Mayit, Oase Liar di Tempurejo Jember yang Menyimpan Pesona Sungai Perawan

BeritaNasional, JEMBER – Di ujung selatan Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, aliran sungai membelah rimbun pepohonan yang masih lebat. Batu-batu besar tersusun alami di sepanjang tepian, sementara air bening mengalir tanpa banyak jejak aktivitas manusia.
Lanskap itu membentuk suasana liar dan sunyi yang belakangan mulai dikenal wisatawan lokal sebagai Kedung Mayit. Sebuah oase tersembunyi di Dusun Mandilis, Desa Sanenrejo.
Nama “Kedung Mayit” mungkin terdengar ganjil bagi sebagian orang. Namun, siapa pun yang tiba di lokasi ini akan menemukan panorama yang jauh dari kesan menyeramkan. Yang tampak justru bentang alam yang masih perawan. Sungai jernih, udara sejuk, dan kanopi pepohonan hijau yang menaungi aliran air sepanjang kawasan.
Selama ini wisatawan lebih mengenal Dam BDR Sanenrejo sebagai tujuan wisata alam di desa tersebut. Padahal, jika menyusuri aliran sungai lebih jauh ke arah selatan, tersimpan kawasan yang menawarkan pengalaman berbeda. Lebih sunyi, lebih alami, dan terasa seperti belum tersentuh modernisasi wisata.
Kedung Mayit menghadirkan daya tarik yang tidak bergantung pada bangunan buatan atau wahana artifisial. Pesonanya justru lahir dari alam yang dibiarkan tetap hidup dalam bentuk aslinya.
Gemericik air yang memantul di sela bebatuan, akar-akar pohon yang menjuntai di tepian sungai, hingga jalur berlumpur menuju lokasi menjadi bagian dari pengalaman petualangan itu sendiri.
Tak heran jika kawasan ini mulai dilirik pencinta wisata alam dan adventure. Akses yang masih menantang dianggap memberi sensasi tersendiri bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana alam liar tanpa keramaian.
Musim kemarau menjadi waktu yang paling direkomendasikan untuk datang ke Kedung Mayit. Selain debit air lebih stabil, jalur menuju lokasi juga lebih aman dilalui dibanding saat musim hujan ketika jalan berubah licin dan berlumpur.
Aqib, salah seorang pengelola kawasan, menilai Kedung Mayit memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai wisata alam berbasis petualangan. Karakter sungainya dinilai memungkinkan untuk pengembangan aktivitas wisata air ringan.
“Kalau potensi sungai ini dikembangkan, mungkin bisa ditambah fasilitas seperti ban atau perahu karet untuk arung jeram ringan. Tempat ini sangat bagus untuk wisata alam,” ujarnya, Minggu (10/5/2026).
Meski demikian, ia berharap pengembangan wisata tetap dibarengi dengan perhatian terhadap akses menuju lokasi. Menurut dia, kondisi jalan masih menjadi tantangan utama, terutama ketika musim hujan tiba.
“Kalau musim hujan jalan menuju sini berlumpur dan sulit dilewati. Kami berharap aksesnya bisa diperbaiki supaya wisatawan lebih mudah datang,” katanya.
Dukungan pengembangan kawasan wisata ini juga mulai mendapat perhatian pemerintah setempat. Camat Tempurejo Muhammad Najmul Huda mengatakan pihak kecamatan akan berkoordinasi dengan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Jember untuk mendukung pengembangan wisata alam Kedung Mayit.
Menurut dia, potensi wisata di kawasan tersebut cukup besar untuk dikembangkan tanpa menghilangkan karakter alaminya.
“Kami akan berupaya berkoordinasi dengan Disporabudpar agar nantinya bisa ada bantuan seperti perahu karet atau fasilitas pendukung lainnya, sehingga ada tambahan wahana wisata di sini,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sanenrejo, Sutikno, juga menegaskan komitmen pemerintah desa untuk menjaga kelestarian lingkungan di kawasan tersebut di tengah rencana pengembangan wisata.
“Pemerintah desa akan selalu mendukung bagaimana caranya kawasan ini bisa berkembang menjadi wisata alam unggulan, namun tetap menjaga keasrian dan kelestarian lingkungan di sini,” katanya.
Di tengah maraknya destinasi wisata yang dipoles serba artifisial, Kedung Mayit menawarkan pengalaman berbeda: menikmati alam yang masih tumbuh apa adanya. Sebuah sungai perawan yang mengalir tenang di balik rimbun hutan selatan Jember, sekaligus menyimpan kemungkinan besar menjadi magnet wisata baru di Tempurejo. (rus)



