Lumajang

Pelestarian Budaya: Tosan Aji Pati Nambi & Ponpes Nurul Hasan Gelar Edukasi Pusaka Ilmiah

BeritaNasional.ID, LUMAJANG JATIM – Upaya melestarikan budaya pusaka dan mengenalkannya kepada generasi muda dari sudut pandang ilmiah dan edukatif terus digencarkan di Lumajang. Kali ini, Yayasan Tosan Aji Pati Nambi Lumajang berkolaborasi dengan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hasan Duren Klakah Lumajang menyelenggarakan kegiatan Edukasi Pusaka Secara Ilmiah pada hari , Senin (01/12/2025) di Komplek Pondok Pesantren Nurul Hasan.

​Acara yang diikuti oleh puluhan santri, dewan guru, dan masyarakat sekitar ini bertujuan untuk menghilangkan mitos-mitos yang tidak berdasar serta memberikan pemahaman yang benar mengenai nilai-nilai budaya, sejarah, dan teknologi di balik benda-benda pusaka, khususnya Tosan Aji (seperti keris dan tombak).

​Ketua Yayasan Tosan Aji Pati Nambi Lumajang, Adin Malik dalam sambutannya menyampaikan pentingnya edukasi ini. “Pusaka seperti keris adalah warisan budaya adiluhung bangsa Indonesia yang telah diakui UNESCO. Namun, pemahamannya harus berimbang. Kami hadir untuk menjelaskan aspek metalurgi, sejarah pembuatan, hingga filosofi yang terkandung di dalamnya secara ilmiah, bukan hanya dari sisi mistis,” ujarnya.

​Materi edukasi disampaikan oleh para pakar dan praktisi Tosan Aji yang fokus pada identifikasi dhapur (bentuk), pamor (motif), dan tangguh (era pembuatan) keris. Para santri diajak untuk memahami keris sebagai sebuah karya seni teknologi tinggi pada masanya.

​Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hasan Duren Klakah, Kyai Nur Kholis Salim yang akrab dengan panggilan Kyai Salim , menyambut baik kolaborasi ini. Beliau menekankan bahwa budaya dan agama dapat berjalan beriringan dalam membentuk karakter bangsa.

​”Kami berterima kasih kepada Yayasan Tosan Aji Pati Nambi. Di lingkungan pesantren, kami tidak hanya mendidik ilmu agama, tetapi juga mengenalkan santri pada budaya bangsanya. Pusaka adalah peninggalan leluhur yang mencerminkan ketekunan, keindahan, dan sejarah. Memahaminya secara ilmiah adalah bagian dari rasa syukur kita atas kekayaan intelektual bangsa,” terang Kyai Salim.

​Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif dan praktik singkat cara perawatan pusaka yang benar (jamasan kering), menekankan bahwa perawatan adalah bagian dari upaya konservasi benda bersejarah.

​Melalui kegiatan ini, kedua yayasan berharap para santri dan generasi muda di Lumajang dapat menjadi pelopor dalam pelestarian budaya. Mereka diharapkan memiliki pemahaman yang utuh bahwa pusaka adalah artefak sejarah bernilai tinggi yang wajib dijaga, dipelajari, dan diwariskan dengan akal sehat serta cinta tanah air.

​Kolaborasi ini menjadi contoh nyata sinergi antara lembaga pelestari budaya dan institusi pendidikan keagamaan dalam menjaga dan memperkenalkan warisan budaya Indonesia.

( Tim)

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button