Nusa Tenggara Timur

Profesor Maxs Sanam Kembali ke Kesederhanaan yang Tak Pernah Ia Tinggalkan

 

BeritaNasional.ID, KUPANG – Hari itu, 6 Desember 2025, bukan sekadar tanggal di kalender. Ia menjadi penanda sebuah akhir dari pengabdian panjang seorang pemimpin yang memimpin dengan hati.

Profesor Maxs Urias Ebenhaizar Sanam, resmi menutup masa jabatannya sebagai Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), setelah empat tahun mengabdi sejak 6 Desember 2021.

Namun yang berakhir hanyalah masa jabatan, bukan keteladanan. Di balik toga kebesaran rektor dan ruang kerja bergengsi, Prof. Maxs menjalani hidup dengan cara yang sangat sederhana.

Ia pulang ke rumah yang juga sederhana, bersama sang istri tercinta, Hembang Murni Pancasilawati Sanam, dan dua putri yang menjadi sumber kekuatannya.

Tak ada kehidupan mewah yang ia pertontonkan. Tak ada jarak yang ia ciptakan dengan siapa pun. Ia memilih berjalan sejajar, bukan berdiri lebih tinggi.

Dalam keseharian, ia dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, membumi, dan selalu menempatkan jabatan sebagai amanah, bukan sebagai sarana untuk memperkaya diri.

Komitmen terhadap integritas itu tercermin jelas dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tahun 2024 yang secara resmi ia sampaikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 18 Maret 2025.

Laporan tersebut telah dinyatakan verifikasi administratif lengkap. Dalam laporan itu, Prof. Maxs tercatat sebagai penyelenggara negara di bidang eksekutif di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi dengan unit kerja Universitas Nusa Cendana.

Total kekayaan yang dilaporkan Prof. Maxs mencapai Rp1.749.391.832. Seluruh harta tersebut merupakan hasil perolehan pribadi yang terdiri dari kepemilikan kendaraan, harta bergerak lainnya, serta kas dan setara kas.

Yang mencolok, dalam laporan tersebut tidak tercantum kepemilikan tanah dan bangunan, surat berharga, maupun harta lainnya, serta tidak memiliki utang sama sekali, sehingga seluruh nilai tersebut merupakan kekayaan bersih.

Prof. Maxs sendiri secara terbuka mengungkapkan bahwa hingga saat ini ia memang belum memiliki tanah maupun rumah atas nama pribadi.

Rumah yang ia tempati selama ini masih bersertifikat atas nama orang tuanya.

“Rumah saya sederhana saja. Jabatan ini hanya titipan dan amanah. Saya harus melatih diri saya supaya saat tidak lagi menjabat, saya bisa kembali hidup seperti orang biasa,” ungkap Prof. Maxs kepada Bernas.

Kesederhanaan itu bukan hanya terlihat dari laporan kekayaan, tetapi juga dari kebiasaan hidupnya sehari-hari.

Dalam setiap perjalanan dinas ke luar pulau, Prof. Maxs selalu memilih kelas ekonomi, meskipun secara aturan ia berhak menggunakan kelas bisnis.

Baginya, tidak ada alasan untuk mencari kenyamanan berlebihan jika waktu tempuh tetap sama.

“Kalau di kelas bisnis tiba lebih cepat tidak masalah, tapi kalau tibanya sama dengan yang duduk di kelas ekonomi, biar saya di kelas biasa saja. Saya ingin menjadi pemimpin yang memimpin dengan contoh, bukan berpura-pura miskin,” tuturnya.

Hal serupa juga berlaku saat ia menginap di hotel dalam tugas dinas. Ketika tersedia hotel dengan tarif tinggi hingga jutaan rupiah, ia tetap memilih penginapan sederhana.

Bahkan jika terdapat selisih anggaran, sisa dana tersebut selalu ia kembalikan ke pihak Undana.

Ia pernah bercerita bahwa saat dalam perjalanan hanya tersedia makanan dengan harga mahal sekalipun, ia tetap menjaga agar penggunaan uang negara tidak berlebihan. Bagi Prof. Maxs, setiap rupiah harus dipertanggungjawabkan.

Sebelum menjabat sebagai rektor, Prof. Maxs telah lama mengabdikan diri di Universitas Nusa Cendana.

Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) selama delapan tahun, kemudian dipercaya menjadi Wakil Rektor, sebelum akhirnya pada tahun 2021 terpilih sebagai Rektor Undana hingga 2025.

Rekam jejak panjang itu membentuk karakter kepemimpinannya yang matang, tenang, dan mengedepankan nilai tanggung jawab.

Empat tahun memimpin Undana, Prof. Maxs tidak hanya meninggalkan jejak pembangunan akademik dan kelembagaan, tetapi juga warisan nilai moral yang kuat tentang arti kepemimpinan sejati.

Di tengah realitas dunia yang kerap memuja jabatan dan kekayaan, ia justru menunjukkan bahwa jabatan tinggi tidak harus berjalan seiring dengan kemewahan.

Kini, saat masa jabatannya resmi berakhir, Prof. Maxs kembali pada prinsip awal yang selalu ia pegang teguh: jabatan hanyalah titipan.

Ia siap kembali hidup sebagai warga biasa, dengan kesederhanaan yang selama ini telah ia latih bahkan sejak masih menjadi rektor.

Sosoknya dikenang bukan hanya sebagai pemimpin akademik, tetapi juga sebagai teladan integritas di tengah dunia pendidikan tinggi.*

Alberto/Bernas

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button