Nusa Tenggara Timur

Rektor Sederhana Itu Pamit, Terima Kasih Profesor Maxs Urias Ebenhaezar Sanam

BeritaNasional.ID, KUPANG – Langit Kupang seakan ikut menunduk pada 6 Desember 2025. Hari itu bukan sekadar penanda berakhirnya masa jabatan seorang rektor, tetapi juga menjadi momen perpisahan yang menggetarkan hati bagi Universitas Nusa Cendana dan seluruh masyarakat Flobamorata.

Profesor Maxs Urias Ebenhaezar Sanam, resmi menutup masa pengabdiannya setelah empat tahun memimpin Undana dengan ketulusan, kesederhanaan, dan cinta yang sunyi namun dalam.

Sejak dilantik pada 6 Desember 2021, Prof. Maxs tidak pernah datang sebagai penguasa. Ia hadir sebagai pelayan. Ia tidak membangun jarak dengan kemewahan, tetapi mendekat dengan keteladanan.

Di tengah jabatan yang prestisius, ia justru memilih hidup apa adanya. Total kekayaannya yang hanya Rp1.749.391.832, tanpa utang sepeser pun, menjadi saksi bahwa ia benar-benar menjaga marwah amanah.

Bahkan rumah yang ia tempati hingga hari ini masih bersertifikat atas nama orang tuanya. Sebuah kejujuran yang menggugah, di saat banyak orang berlomba membangun kemapanan atas nama jabatan.

Kesederhanaan itu bukan sekadar data di atas kertas. Ia hidup di dalam keseharian Prof. Maxs. Setiap kali harus meninggalkan pulau untuk tugas luar daerah, ia selalu memilih duduk di kelas ekonomi.

Padahal, ia berhak atas fasilitas kelas bisnis. Namun baginya, kedudukan tidak boleh memisahkan dirinya dari rakyat biasa.

“Kalau saya tiba bersamaan dengan penumpang kelas ekonomi, lebih baik saya duduk bersama mereka,” ungkapnya. Ia ingin memimpin dengan contoh, bukan dengan hak istimewa.

Di rumah, Prof. Maxs bukanlah seorang pejabat. Ia adalah suami bagi Hembang Murni Pancasilawati Sanam dan ayah bagi dua orang putri yang dibesarkan dalam nilai-nilai kesederhanaan.

Tak jarang, civitas akademika melihat beliau berjalan kaki mengelilingi kampus pada sore hari bersama sang istri.

Mereka tidak sedang berbincang tentang jabatan, tetapi memungut sampah yang tercecer di jalan-jalan kampus.

Dalam diam, mereka mengajarkan bahwa mencintai kampus adalah dengan merawatnya, bukan hanya memerintahkannya.

Hatinya pun terpaut erat pada alam Undana. Di lahan hampir 100 hektare itu, Prof. Maxs menanam ratusan pohon dengan tangannya sendiri.

Ia menyiram, merawat, dan memastikan tanaman-tanaman itu hidup. Bahkan, ia tak segan mengeluarkan biaya pribadi untuk memberi insentif kepada para petugas kebersihan agar membantu merawat tanaman-tanaman tersebut.

Ia tak ingin Undana menjadi kampus beton yang gersang, melainkan ruang hidup yang menumbuhkan harapan.

Di Laker II Undana, sepasang rusa yang ia pelihara kini telah berkembang menjadi tujuh ekor. Hewan-hewan itu kini bukan sekadar penghias kampus, tetapi menjadi sahabat belajar bagi anak-anak TK dan SD, sekaligus menjadi objek riset bagi mahasiswa.

Bagi Prof. Maxs, pendidikan tidak selalu harus di ruang kelas. Ia bisa tumbuh di antara pepohonan, di rerumputan, bahkan di sorot mata seekor rusa.

Namun di balik kelembutannya, Prof. Maxs adalah pemimpin yang sangat tegas ketika menyangkut martabat manusia.

Ia tidak pernah memberi ruang bagi perundungan. Setiap laporan tentang mahasiswa yang dibully atau diintimidasi, baik oleh teman maupun oleh dosen, selalu ditangani dengan sikap keras yang berpihak kepada korban.

Kampus, baginya, harus menjadi rumah yang aman bagi setiap anak bangsa yang datang untuk belajar.

Visi pendidikannya sederhana, tetapi mengakar kuat: membentuk manusia cerdas yang juga humanis. Ia selalu berkata bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Mahasiswa harus memiliki empati, kepekaan nurani, dan kecerdasan sosial.

Ia ingin Undana melahirkan manusia-manusia yang bukan hanya pandai berpikir, tetapi juga mampu merasakan penderitaan sesamanya.

Pengalaman badai Seroja pada 4 April 2021 menjadi pelajaran besar yang terus ia bawa dalam kepemimpinannya.

Saat NTT berduka, daerah-daerah lain mengulurkan tangan. Sejak itu, ia selalu menanamkan pesan bahwa Undana harus selalu hadir ketika orang lain mengalami luka yang sama. Kepedulian, baginya, adalah inti dari dunia pendidikan.

Di bawah kepemimpinannya, Undana tidak hanya tumbuh dalam nilai, tetapi juga melesat dalam prestasi.

Sebanyak 13 program studi meraih akreditasi unggul, empat program studi menembus akreditasi internasional ASIIN dari Jerman, dan 36 dosen berhasil meraih jabatan guru besar.

Fasilitas riset diperkuat, laboratorium diperbarui, sertifikasi ISO diraih oleh mayoritas fakultas dan unit kerja, serta jejaring kerja sama nasional dan internasional semakin kokoh.

Puncak kejayaan Undana datang pada 11 Februari 2025. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Undana resmi menyandang status “Unggul” dari BAN-PT.

Undana menjadi kampus pertama di Flobamorata yang meraih predikat tertinggi tersebut. Sebuah mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan.

Slogan “Undana Berdampak” yang ia gaungkan sejak awal tidak berhenti sebagai jargon.

Ia menjelma dalam program pengabdian berbasis riset, pendampingan UMKM, transformasi digital gereja, hingga penguatan sumber daya manusia di berbagai pelosok NTT. Undana benar-benar hadir sebagai bagian dari denyut hidup masyarakat.

“Pendidikan tinggi tidak boleh berhenti di ruang kuliah. Ia harus hadir dan berdampak di tengah masyarakat,” jelas Prof. Maxs suatu waktu. Kalimat itu kini terasa seperti pesan perpisahan yang paling jujur tentang siapa dirinya.

Kini, setelah 6 Desember 2025, Prof. Maxs kembali menjadi rakyat biasa. Ia kembali pada hidup yang sudah ia latih sejak awal: hidup tanpa gemerlap jabatan.

Namun dari pohon-pohon yang ia tanam, dari rusa-rusa yang kini hidup damai, dari mahasiswa-mahasiswa yang dibentuk dengan nilai humanis, hingga dari status unggul yang kini melekat pada Undana, jejak langkahnya tak akan pernah benar-benar pergi.

Ia mungkin telah turun dari kursi rektor, tetapi ia akan selalu tinggal di hati Undana.

Terimakasih! Profesor Maxs Urias Ebenhaezar Sanam.

‘Engkau mengajar bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan seluruh hidupmu’.

Alberto Linbes Kuluantuan

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button