Nusa Tenggara Timur

Rektor UPG 1945 NTT Soroti Tingginya Angka Anak Putus Sekolah, Kolaborasi Jadi Solusi

BeritaNasional.ID, KUPANG – Kepedulian terhadap masih tingginya angka anak yang tidak melanjutkan pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong Rektor Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT, Uly Jonathan Riwu Kaho, untuk membangun kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, salah satunya melalui audiensi bersama Persatuan Mahasiswa Kabupaten Kupang (Permasku).

Dalam pertemuan tersebut, Rektor UPG 1945 NTT mengungkapkan bahwa persoalan pendidikan di NTT masih menjadi tantangan serius. Berdasarkan data hasil Bimbingan Teknis (Bimtek) Nasional yang digagas Komisi X DPR RI terkait pelaksanaan program wajib belajar 13 tahun, angka anak usia sekolah yang belum mendapatkan akses pendidikan di NTT masih sangat tinggi.

“Bayangkan, dari sekitar 365 ribu anak usia sekolah di NTT, hanya sekitar 155 hingga 156 ribu yang bersekolah. Sisanya belum mengenyam pendidikan dengan berbagai alasan, dan faktor ekonomi menjadi penyebab paling dominan,” ungkap Uly.

Menurutnya, sejumlah daerah seperti Kabupaten Kupang, Sumba, dan Timor Tengah Selatan (TTS) menjadi wilayah yang memiliki angka anak tidak sekolah cukup tinggi. Bahkan, pada tingkat pendidikan menengah, angka anak yang melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi masih sangat rendah.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTT. Oleh karena itu, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai penyelenggara pendidikan, tetapi juga harus hadir mencari solusi nyata agar semakin banyak anak-anak daerah memperoleh kesempatan untuk berkuliah.

UPG 1945 NTT kemudian mengambil langkah strategis dengan menggandeng organisasi mahasiswa dan kelompok pemuda dari berbagai daerah. Model kolaborasi ini sebelumnya telah berhasil dilakukan bersama mahasiswa asal Sabu, di mana saat ini tercatat sekitar 300 mahasiswa asal Sabu menempuh pendidikan di kampus tersebut.

Hal yang sama juga dilakukan bersama organisasi mahasiswa dari Rote serta daerah lainnya. Tahun ini, Uly memberikan apresiasi khusus kepada Permasku yang dinilai mampu bekerja secara aktif dalam memberikan informasi, pendampingan, dan motivasi kepada generasi muda Kabupaten Kupang untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Tujuan kami bukan sekadar mendapatkan mahasiswa baru bagi UPG, tetapi bagaimana kita memiliki visi dan misi yang sama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama anak-anak Kabupaten Kupang agar bisa memperoleh pendidikan yang lebih baik,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kupang yang telah memberikan dukungan melalui berbagai kebijakan, seperti penyediaan beasiswa dan dukungan terhadap penambahan kuota Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Kolaborasi antara UPG 1945 NTT, Permasku, dan Pemerintah Kabupaten Kupang mulai menunjukkan hasil positif. Dari sekitar seribu calon mahasiswa baru yang mengikuti proses seleksi masuk UPG 1945 NTT, sebagian besar merupakan anak-anak yang mendapat informasi dan pendampingan dari jaringan mahasiswa daerah.

Uly menilai bahwa saat ini terjadi perubahan pola pikir di tengah masyarakat. Jika sebelumnya banyak lulusan SMA yang lebih memilih langsung bekerja atau mengikuti seleksi penerimaan TNI dan Polri, kini semakin banyak yang mulai melihat pendidikan tinggi sebagai jalan untuk meningkatkan masa depan mereka.

Melalui kolaborasi yang terus diperkuat, UPG 1945 NTT berharap semakin banyak anak-anak NTT, khususnya dari Kabupaten Kupang, dapat mengakses pendidikan tinggi dan menjadi generasi yang mampu membawa perubahan bagi daerahnya.

“Ketika semakin banyak anak muda yang kuliah, maka kualitas sumber daya manusia NTT akan meningkat. Inilah tanggung jawab kita bersama untuk membuka jalan bagi masa depan yang lebih baik,” tutup Rektor UPG 1945 NTT.

Kolaborasi kampus, organisasi mahasiswa, dan pemerintah menjadi langkah nyata dalam menekan angka anak tidak sekolah serta mewujudkan generasi NTT yang unggul, cerdas, dan berdaya saing.*

Alberto/Bernas

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button