Sejarah Baru PC ISNU Bondowoso Dipimpin Wabup

BeritaNasional.ID, BONDOWOSO JATIM – Untuk yang pertama kalinya Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Bondowoso dipercayakan pada Wakil Bupati Bondowoso, Lora As’ad Yahya Safi’i.
Yaitu PC ISNU masa khidmat 2025–2029. Pelantikan dilakukan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) ISNU, H. Wardi Taufik, S.Ag., M.Si. Musyawarah kali ini mengusung tema “Akselerasi Sarjana NU: Merawat Tradisi, Menggerakkan Inovasi”,
Terpilihnya Wabup sebagai Ketua PC ISNU dijadikan momentum untuk menegaskan menegaskan peran strategis kaum intelektual NU dalam menjawab tantangan sosial dan mengakselerasi pembangunan daerah melalui pendekatan berbasis keilmuan.
Hadir dalam Pemilihan Ketua PC ISNU, Sekretaris Daerah, Dr. H. Fathur Rozi, M.Fil.I, Ketua PW ISNU Jawa Timur, Rois Syuriyah PCNU Bondowoso, dan jajaran pengurus badan otonom serta lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama Bondowoso.
Dalam sambutan perdananya sebagai Ketua PC ISNU, Lora As’ad, sapaannya menyampaikan komitmen kuat untuk menjadikan organisasi ini sebagai laboratorium pengabdian. ISNU Bondowoso harus menjadi ruang bagi para sarjana NU untuk tidak sekadar berteori.
“Tapi memberikan kontribusi nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Kami siap bersinergi untuk mengawal pembangunan daerah dengan semangat merawat tradisi dan menciptakan inovasi,” jelasnya.
Mewakili Bupati Bondowoso, Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., Sekretaris Daerah Dr. H. Fathur Rozi memberikan tantangan khusus bagi kepengurusan baru ini. Ia menekankan bahwa ISNU sebagai wadah teknokrat dan akademisi harus mampu melahirkan solusi konkret.
“Ada dua masalah krusial di Bondowoso, pertama Pengentasan Kemiskinan. Angka kemiskinan di Bondowoso masih tinggi. ISNU diharapkan mengambil peran strategis melalui pemberdayaan ekonomi dan pemikiran yang solutif,” jelasnya.
Kedua Manajemen Sampah. Produksi sampah di Bondowoso mencapai 60 ton per hari. Sekda mendorong ISNU melakukan edukasi masif mengenai pemilahan sampah dari tingkat keluarga. ISNU harus menjadi wadah berhimpunnya kaum intelektual yang tidak berhenti pada gagasan, tetapi mampu menghadirkan kerja nyata di lapangan. (Syamsul Arifin/Bernas)



