tasikmalaya

Suasana Ricuh Warnai Aksi PMII di Depan Gedung DPRD Tasikmalaya

 

Beritanaaional.id – Jawa Barat,- Suasana di depan Gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya kembali memanas. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi unjuk rasa pada Kamis (22/1), menuntut audiensi langsung dengan Ketua DPRD. Ketegangan meningkat setelah tuntutan tersebut tak kunjung dipenuhi, hingga berujung ricuh.

Ketua PMII Tasikmalaya, Mujid Tasela, meluapkan kekecewaannya di tengah kerumunan massa. Ia menuding DPRD kerap melakukan “pergantian pemain” setiap kali mahasiswa meminta pertemuan resmi. “Melihat hal itu, jelas saya sudah tidak percaya lagi kepada DPRD,” tegas Mujid.

Tiga Isu Panas Jadi Sorotan

Dalam aksinya, PMII menyoroti tiga persoalan krusial yang dinilai merugikan masyarakat, yakni; Fiber optik yang marak namun dianggap belum jelas izin dan legalitasnya, Proyek MBG yang dinilai tidak transparan dan Pinjaman Rp230 miliar oleh pemerintah daerah untuk pembangunan infrastruktur jalan.

Mujid menekankan kualitas jalan hasil proyek pinjaman tersebut jauh dari layak. Ironisnya, pinjaman yang akan diangsur selama lima tahun itu justru berpotensi membebani masyarakat lewat pajak. “Jangan sampai pinjaman masih berjalan, tapi jalan sudah rusak. Ini uang rakyat, harus efektif, jangan ada monopoli!” seru Mujid lantang.

Kemarahan mahasiswa semakin memuncak. Mereka menegaskan, bila Ketua DPRD tidak hadir dan kembali diganti oleh “pemain baru”, maka massa akan menginap dan menyegel kantor Ketua DPRD. PMII menilai DPRD telah kehilangan “taring” sebagai lembaga pengawasan. “Tugas DPRD adalah mengawasi, bukan mengabaikan suara masyarakat. Kalau Ketua Dewan tidak muncul, kami akan duduki gedung ini!” ancam Mujid.

Ketua DPRD Angkat Bicara

Menanggapi aksi tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Budi Ahdiat, akhirnya memberikan penjelasan. Ia menegaskan bahwa pinjaman daerah sebesar Rp230 miliar bukan berbentuk uang tunai, melainkan berupa pengerjaan infrastruktur jalan.
“Pinjaman itu tidak langsung diberikan dalam bentuk uang cash. Bupati hanya menandatangani kontrak dengan perusahaan di bawah BUMN. Yang diberikan bukan uang, tapi aspal dan infrastruktur yang dikerjakan secara bertahap,” jelas Budi.

Menurutnya, proyek tersebut dilaksanakan melalui lelang di tingkat pusat. Masyarakat Tasikmalaya hanya menerima manfaat dari hasil pembangunan. Budi juga mengakui bahwa pembahasan pinjaman sempat menimbulkan polemik di DPR, khususnya di Badan Anggaran (Banggar).
“Awalnya memang banyak yang menolak, tapi setelah dijelaskan bahwa bentuknya bukan uang melainkan pekerjaan infrastruktur, akhirnya bisa dipahami,” tambahnya.

Terkait tuntutan mahasiswa mengenai proyek fiber optik, Budi mengaku belum mengetahui detail persoalan tersebut.
“Kalau masalah fiber optik, nanti kita bicarakan lebih lanjut. Saya kurang begitu tahu detailnya,” katanya singkat.

Budi menutup keterangannya dengan menegaskan bahwa masyarakat Tasikmalaya tidak menerima uang dari pinjaman tersebut, melainkan hasil pembangunan jalan yang dilakukan bertahap. “Semua lelangnya di pusat, barangnya dari pusat, kita hanya menerima manfaatnya,” tutupnya.

Laporan : Chandra Foetra S.

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button