Tomycho Olviana Resmi Pimpin Faperta Undana

BeritaNasional.ID, KUPANG – Rektor Universitas Nusa Cendana, Jefri Samuel Bale, resmi melantik Tomycho Olviana,sebagai Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) pada Senin, 20 April 2026.
Pelantikan tersebut berlangsung bersama 20 pejabat lainnya di lingkungan Undana, menandai langkah konsolidasi kepemimpinan akademik sekaligus penguatan arah kebijakan institusi ke depan.
Kepada media ini, Tomycho menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjalankan tridharma perguruan tinggi, tetapi juga mendukung program prioritas pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menyebutkan bahwa pihaknya akan membangun koordinasi dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia serta menyiapkan sumber daya akademisi agar mampu berkontribusi secara konkret dalam menyukseskan program tersebut.
Dalam kepemimpinannya, Tomycho membawa visi besar melalui gagasan “Cetak Biru Transformasi Faperta Undana 2026–2030” yang menjadi arah baru pengembangan fakultas.
Visi ini dirancang untuk menjawab tantangan nyata sektor pertanian di wilayah kepulauan, khususnya Nusa Tenggara Timur yang didominasi lahan kering dengan karakteristik geografis yang kompleks.
Ia menegaskan bahwa Faperta tidak boleh lagi sekadar menjadi institusi pencetak lulusan, tetapi harus bertransformasi menjadi pusat unggulan global atau Center of Excellence di bidang pertanian lahan kering tropis berbasis inovasi dan agroindustri.
Menurut Tomycho, transformasi tersebut berangkat dari evaluasi kondisi eksisting yang masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kurikulum yang cenderung konvensional, riset yang belum sepenuhnya terhubung dengan kebutuhan industri, hingga ketergantungan pada pendanaan dari UKT.
Selain itu, profil lulusan yang lebih berorientasi sebagai pencari kerja juga dinilai perlu diubah agar lebih adaptif dan mampu menciptakan peluang usaha di sektor pertanian.
Melalui cetak biru ini, Faperta Undana menargetkan perubahan menyeluruh, termasuk penerapan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang terintegrasi dengan teknologi digital, pertanian cerdas, dan kecerdasan buatan.
Di bidang riset, penguatan hilirisasi menjadi fokus utama dengan target capaian dua paten atau hak kekayaan intelektual setiap tahun, sementara dari sisi pendanaan, fakultas diarahkan untuk lebih mandiri melalui peningkatan pendapatan non-UKT hingga 50 persen lewat kemitraan strategis dan optimalisasi aset.
Lebih jauh, lulusan Faperta diharapkan tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi agropreneur tersertifikasi.
Targetnya, setidaknya lima persen lulusan dapat membangun usaha mandiri di sektor pertanian dan agroindustri, sehingga memberikan dampak langsung terhadap penguatan ekonomi lokal.
Transformasi ini ditopang oleh fondasi yang menekankan tata kelola akuntabel, penguatan jejaring kolaborasi nasional dan internasional, pendidikan adaptif berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), pengembangan kewirausahaan mahasiswa berbasis komoditas lokal, serta riset unggulan di bidang lahan kering dan agroindustri.
Seluruh fondasi tersebut dirancang agar perubahan berjalan terukur dan selaras dengan indikator kinerja utama perguruan tinggi.
Dalam implementasinya, Faperta akan mengintegrasikan berbagai strategi mulai dari penguatan sistem akademik berbasis OBE-SDGs, pengembangan fasilitas seperti Smart Farming Lab dan Teaching Factory, hingga penguatan klaster riset unggulan yang berfokus pada pangan lokal, pertanian sirkular, dan climate smart agriculture.
Di saat yang sama, kemitraan strategis juga akan diperluas melalui kerja sama nasional dan internasional, termasuk pengembangan desa model pertanian lahan kering di NTT.
Pada aspek kemahasiswaan, berbagai program akan diperkuat, mulai dari sertifikasi kompetensi, magang industri, hingga kompetisi startup agro guna menciptakan lulusan yang kompeten dan adaptif terhadap dinamika dunia kerja.
Transformasi ini juga didukung oleh digitalisasi sebagai tulang punggung tata kelola, dengan target 80 persen layanan akademik telah terdigitalisasi dalam empat tahun ke depan, serta peningkatan kapasitas dosen melalui pengembangan karier akademik dan studi lanjut doktoral.
Hingga tahun 2030, Faperta Undana menargetkan capaian ambisius, di antaranya dua program studi berakreditasi internasional, dua program studi berakreditasi unggul, lebih dari 80 publikasi terindeks Scopus dalam lima tahun, serta lebih dari 20 paten dan HKI.
Selain itu, tingkat serapan lulusan cepat ditargetkan melampaui 40 persen sebagai indikator kuat relevansi pendidikan dengan kebutuhan industri.
Tomycho menegaskan bahwa cetak biru transformasi ini bukan sekadar dokumen perencanaan, melainkan komitmen nyata untuk mendorong perubahan sistematis dan berkelanjutan.
Ia optimistis, dengan arah baru ini, Faperta Undana dapat menjadi kekuatan strategis dalam pengembangan pertanian lahan kering, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga global.(*)



