Kronologi Versi Yuven Kolo, Cekcok di Jalan Berujung Pengeroyokan Berdarah di Kaubele-TTU

BeritaNasional.ID, KUPANG — Peristiwa dugaan penganiayaan yang terjadi di Desa Kaubele, Kecamatan Biboki Moenleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), kini menjadi sorotan publik.
Insiden tersebut mencuat setelah salah satu pihak yang terlibat, Yuven Kolo, menyampaikan pengakuannya terkait kronologi kejadian.
Dalam keterangannya kepada Bernas, Selasa 21 April 2026, Yuven mengisahkan bahwa kejadian bermula saat dirinya bersama lima orang rekannya pergi menimbang jagung di wilayah Oemasi.
Usai aktivitas tersebut, mereka singgah di rumah warga setempat. Di lokasi itu, mereka diberikan satu botol minuman tradisional jenis sopi yang kemudian diminum bersama sebelum pulang.
Dalam perjalanan kembali, Yuven mengaku berpapasan dengan sekelompok orang, termasuk Edmundus Lopo. Sebelum bertemu, ia sempat mengambil sedikit jalur lawan saat berpapasan di jalan, meski menurutnya jarak mereka masih sekitar 40 meter.
Saat melintas, terdengar ucapan dari kelompok tersebut yang membuat Yuven berhenti. Salah satu rekan Yuven, Asten, kemudian berinisiatif menanyakan maksud ucapan tersebut. Namun situasi justru memanas ketika Edmundus Lopo diduga langsung memukul Asten tanpa penjelasan.
Yuven menduga Edmundus saat itu berada dalam kondisi dipengaruhi minuman keras. Bahkan, seorang warga lain bernama Sarus Humoen disebut turut mendapat teriakan dari kelompok tersebut di jalan.
Melihat rekannya dipukul, Yuven mendekat untuk meminta klarifikasi. Namun, ia justru ikut menjadi sasaran setelah dipukul di bagian pelipis oleh Edmundus hingga mengalami luka robek dan pendarahan.
Yuven memilih menghindari konflik dan kembali ke rumah. Namun, dalam kondisi terluka dan masih merasa tidak terima, ia kemudian meminta tiga rekannya untuk menemaninya kembali menemui Edmundus Lopo di rumah milik Gaspar Tnesi guna meminta penjelasan.
Setibanya di lokasi, emosi Yuven disebut memuncak. Dalam kondisi kepala terluka dan berdarah, ia langsung menghampiri Edmundus dan melakukan perlawanan menggunakan kursi serta melempar gelas. Aksi tersebut memicu keributan yang lebih besar.
Yuven mengaku dirinya kemudian dikeroyok oleh belasan orang hingga tak berdaya. Tiga rekannya yang datang dengan tujuan melerai juga turut menjadi korban pemukulan.
Selain itu, mereka disebut dilempari batu, yang menyebabkan Yuven mengalami luka serius di bagian kepala serta cedera pada kaki kiri hingga beberapa kali terjatuh.
Dalam kondisi lemah akibat pendarahan dan pusing, Yuven akhirnya meminta bantuan rekannya untuk segera dibawa ke Puskesmas Kaubele guna mendapatkan penanganan medis.
Yuven menegaskan bahwa dirinya tidak berniat membuat keributan. Ia mengaku hanya berupaya mencari nafkah untuk keluarganya.
“Saya sudah beristri dan punya anak, tidak mungkin setelah mabuk saya buat onar. Tujuan saya hanya mencari rupiah untuk menafkahi keluarga kecil saya,” ungkapnya.
Sementara itu, kasus ini diketahui telah dilaporkan ke Polres TTU oleh Edmundus Lopo yang berprofesi sebagai guru.
Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan guna mengungkap kronologi sebenarnya dari kedua belah pihak serta menentukan siapa yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.*
Alberto/Bernas



