Nusa Tenggara Timur

Pemprov NTT Siapkan Rp157 Miliar, Target 50.000 Rumah Dibedah Hingga 2028

 

BeritaNasional.ID, KUPANG — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan komitmennya untuk mempercepat penurunan kemiskinan ekstrem dan stunting melalui program perbaikan 35.000 rumah tidak layak huni bagi masyarakat miskin di seluruh NTT.

Langkah ini disampaikan Gubernur Melki saat membuka kegiatan Dialog Kebangsaan Penggerakan dan Pemberdayaan Masyarakat serta Kick Off Roadmap Konsorsium Tahun 2025–2028, yang digelar oleh BKKBN/Kemendukbangga di Aula Rumah Jabatan Gubernur.

Gubernur Melki menekankan bahwa rumah bukan hanya sekadar tempat berteduh, tetapi menjadi fondasi penting dalam menciptakan kehidupan yang layak dan sehat bagi masyarakat.

“Rumah bukan sekadar tempat tinggal. Rumah adalah awal dari kehidupan layak yang bisa menurunkan angka kemiskinan ekstrem. Dengan memperbaiki rumah, kita bisa menyentuh enam dari 14 parameter kemiskinan sekaligus membantu menurunkan stunting,” ujar Gubernur Melki kepada Bernas.

Program perbaikan rumah tak layak huni ini akan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan pemerintah kabupaten/kota, pemanfaatan dana desa, serta dukungan pihak swasta.

Pemerintah Provinsi NTT telah menyiapkan anggaran sebesar Rp157 miliar untuk mendukung program tersebut.

Gubernur Melki menargetkan agar setiap desa di NTT mendapatkan bantuan minimal 10 rumah perbaikan pada tahun depan.

“Kami sudah berbicara dengan para bupati dan wali kota. Ini memang mengorbankan beberapa pos anggaran lain, tetapi kami yakin perbaikan rumah adalah prioritas utama dalam menekan kemiskinan ekstrem,” tegasnya.

Tak hanya mengandalkan anggaran pemerintah, Pemprov NTT juga menggandeng pihak swasta untuk menambah 15.000 rumah tambahan, sehingga total rumah yang akan dibedah mencapai 50.000 unit di seluruh provinsi.

Untuk memastikan bantuan perbaikan rumah benar-benar tepat sasaran, Pemprov NTT akan berkolaborasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS), Bappeda, Dinas Dukcapil, dan para pakar independen guna memverifikasi data penerima manfaat.

“Kami ingin pastikan data penerima valid dan akurat agar tidak ada yang terlewat atau salah sasaran. Tujuan kami jelas: menurunkan kemiskinan ekstrem dan stunting dengan langkah nyata,” tambah Gubernur Melki.

Lebih dari sekadar proyek pembangunan fisik, Gubernur Melki menegaskan bahwa program perbaikan rumah ini merupakan strategi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan turun-temurun di NTT.

“Kita tidak hanya membangun rumah, tapi membangun masa depan. Rumah yang layak akan menurunkan angka kemiskinan, menekan stunting, dan membuka peluang hidup lebih baik bagi masyarakat NTT,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa rumah layak huni memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kualitas kesehatan keluarga, termasuk dalam menekan angka stunting yang masih menjadi tantangan serius di NTT.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat BKKBN, Sukaryo Teguh Susanto, Staf Khusus Kemendukbangga/BKKBN Bidang Optimalisasi Aset dan Peningkatan PNPB, Noor Rachmad P.M.A. Prabowo, serta perwakilan konsorsium perguruan tinggi dan tokoh agama, termasuk Ketua Sinode GMIT, Pdt. Samuel B. Pande.

Dengan sinergi lintas sektor antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat, Gubernur Melki berharap NTT dapat keluar dari lingkaran kemiskinan ekstrem dan menjadi provinsi yang lebih sejahtera.

“Membangun NTT harus dimulai dari rumah. Ketika rumahnya layak, keluarga menjadi sehat, anak-anak tumbuh cerdas, dan masa depan NTT akan jauh lebih baik,” tutur Gubernur Melki.*

Alberto

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button