Perpustakaan Undana Raih Akreditasi A, Transformasi Spektakuler di Era Prof. Markus Kleden

BeritaNasional.ID, KUPANG – Setelah lebih dari enam dekade berdiri sejak tahun 1962, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Universitas Nusa Cendana (Undana) kini menorehkan sejarah baru.
Pada tahun 2025, perpustakaan kampus terbesar di NTT ini resmi meraih akreditasi A, sebuah capaian prestisius yang menjadi simbol kebangkitan dan modernisasi layanan perpustakaan Undana.
Prestasi besar ini tidak terlepas dari sentuhan kepemimpinan Prof. Markus Kleden, yang ditunjuk oleh Rektor Undana, Prof. Maxs Sanam, untuk memimpin UPT Perpustakaan sejak tahun 2022.
Sejak saat itu, wajah perpustakaan Undana berubah drastis, baik secara fisik, layanan, hingga aktivitas mahasiswanya.
Ketika pertama kali dipercaya memimpin UPT Perpustakaan, Prof. Markus melihat kondisi yang memerlukan pembenahan serius. Jumlah pemustaka yang berkunjung setiap hari sangat rendah.
“Sebelum saya menjabat, pengunjung itu hanya sekitar 20–30 orang per hari, kadang malah lebih sedikit,” kenangnya.
Minat baca mahasiswa rendah, fasilitas belum memadai, dan perpustakaan belum dikenal secara luas di lingkungan kampus.
Melihat situasi itu, ia sadar bahwa perpustakaan Undana membutuhkan strategi besar, terukur, dan berkelanjutan.
Langkah awal yang dilakukan Prof. Markus adalah membuka diri terhadap inovasi. Ia aktif mengikuti berbagai forum dan konferensi, salah satunya Konferensi Perpustakaan Digital yang menjadi momentum penting bagi dirinya dan Undana.
“Dari konferensi itu, Undana bisa tampil lagi di level nasional. Kita sudah menjadi anggota forum, dan bekerja sama dengan berbagai perpustakaan perguruan tinggi negeri,” ujarnya.
Pada tahun yang sama, ia mendengar informasi tentang bimbingan teknis (bimtek) akreditasi perpustakaan, sebuah kesempatan yang langsung ia manfaatkan.
Prof. Markus mengikuti kegiatan tersebut bersama dua stafnya. Dengan penuh semangat, mereka mempelajari 9 komponen akreditasi perpustakaan yang menjadi tolok ukur utama penilaian nasional.
Menjelang akhir 2022, ia kembali mengikuti kegiatan pengembangan perpustakaan perguruan tinggi wilayah Nusa Tenggara.
Berbekal ilmu dan jaringan baru, Prof. Markus langsung memimpin persiapan penyusunan dokumen akreditasi untuk diajukan kepada Perpustakaan Nasional (Pupnas).
Inilah pertama kalinya dalam sejarah Undana—yang berdiri sejak 1962—UPT Perpustakaan mengajukan diri untuk diakreditasi secara resmi.
Tidak berselang lama, tim asesor Pupnas melakukan visitasi ke perpustakaan Undana. Visitasi itu menjadi tonggak sejarah perkembangan UPT Perpustakaan Undana.
Dari visitasi perdana tersebut, pada 2023 perpustakaan Undana memperoleh akreditasi C. Meskipun belum sempurna, pencapaian itu menjadi batu loncatan penting sekaligus bukti bahwa perpustakaan Undana sudah memasuki babak baru.
Prof. Markus bersama Rektor Undana, Prof. Maxs Sanam, diundang langsung untuk menerima penghargaan akreditasi tersebut.
Tidak puas dengan hasil tersebut, pada 2025 UPT Perpustakaan kembali mengajukan reakreditasi. Dengan persiapan lebih matang, fasilitas lebih baik, layanan lebih modern, dan inovasi digital yang terus dikembangkan, penilaian kali ini memberikan hasil memuaskan.
Perpustakaan Undana resmi meraih akreditasi A, peringkat tertinggi yang menandakan kualitas terbaik dalam pengelolaan perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia.
“Pengembangan perpustakaan ini sebuah komitmen. Kalau tidak sungguh-sungguh, tidak mungkin kita sampai ke tahap ini,” tegas Prof. Markus.
Salah satu gebrakan terbesar adalah pengembangan perpustakaan digital yang menyediakan ribuan koleksi e-book, e-jurnal, dan layanan akses daring untuk mendukung kebutuhan akademik mahasiswa.
Perubahan ini langsung terasa pada jumlah pengunjung harian.
“Dulu hampir tidak ada pemustaka. Sekarang kita punya 150–200 pengunjung setiap hari,” ungkapnya.
Mahasiswa pun semakin aktif membuat kartu perpustakaan karena kini perpustakaan menjadi ruang yang nyaman, modern, dan mudah diakses.
Untuk menjangkau lebih banyak mahasiswa, perpustakaan Undana kini aktif di berbagai platform media sosial seperti Facebook, TikTok, dan Instagram.
Konten kreatif perpustakaan mampu menarik perhatian mahasiswa dan meningkatkan partisipasi mereka dalam berbagai program literasi.
Perpustakaan Undana juga mendapat dukungan program CSR dari PT Pegadaian, yang membantu pengembangan sarana dan prasarana.
Transformasi yang terjadi dalam waktu singkat ini menempatkan UPT Perpustakaan Undana sebagai salah satu perpustakaan perguruan tinggi paling progresif di Indonesia timur.
Di bawah kepemimpinan Prof. Markus Kleden, perpustakaan bukan lagi sekadar ruang menyimpan buku—tetapi menjadi ruang belajar modern, pusat literasi digital, dan sumber inspirasi bagi mahasiswa Undana.*
Alberto/Bernas



