Ada Ayah Kandung Setubuhi Anaknya Sendiri, Wabub Garut : Itu Namanya Orang Biadab

Beritanasional.ID, GARUT – Wakil Bupati Garut dr. Helmi Budiman ikut menanggapi soal aksi bejad seorang ayah yang menyetubuhi anak kandungnya sendiri di Kabupaten Garut.
Wakil Bupati Garut Helmi Budiman menyebut perbuatan itu sebagai tindakan orang biadab dan tidak berakhlak.
Disisi lain, Ia pun berharap kejadian serupa jangan sampai terjadi kembali di Kabupaten Garut.
“Disini saya selaku Wakil Bupati Garut, ingin mengajak kepada seluruh komponen masyarakat, ulama, pembimbing, ustadz, tokoh masyarakat untuk bersama – sama melakukan upaya pencegahan, bisa berupa penyuluhan, bisa berupa pendidikan agama, bisa berupa pendidikan moral, dan sebagainya. Agar tidak terulang kembali hal yang seperti itu,” ujar Helmi Budiman. Sabtu, ( 02/7).
Menurut Helmi, perbuatan pencabulan seperti ini terkadang juga bisa disebabkan karena faktor ekonomi. Karena itu kepedulian sosial kepada masyarakt memang harus lebih ditingkatkan.
“Kita juga sebagai Pemerintah daerah ( Pemda ) Garut, akan memberikan bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat dan itu harus lebih ditingkatkan,” terangnya.
Sementara itu, Praktisi Psikologi dan Branch Manager Lembaga Psikologi Terapan Grahita Indonesia Cabang Garut, Mentari Larasati, mengatakan bahwa konidisi trauma yang dialami oleh anak yang terkena sexual abuse (pelecehan seksual) paling sulit diatasi.
“Melalui pengalaman saya selama 7 tahun, saat menemukan kasus kekerasan seksual pada anak, tentunya 90 persen paling sulit diatasi kondisi traumanya. Karena, kerugian secara psikologis sangat mempengaruhi kesehatan mental anak,” jelas Mentari.
Dia mengatakan, anak tersebut harus terus dilakukan terapi, untuk pemulihan psikologisnya. Dan, selama trauma ini membekas kepada anak tersebut, sang anak tidak diperbolehkan bertemu dengan pelakunya, dalam hal ini ayahnya sendiri.
“Mungkin nantinya, si anak tersebut tidak diperbolehkan untuk tinggal satu rumah lagi dengan si ayah pelaku pencabulan” katanya.
Selain itu, aebagai Praktisi Psikologi, dia mengharapkan untuk melakukan percepatan edukasi mengenai pentingnya kesehatan mental anak dan keluarga yang melibatkan para ahli psikologi ke seluruh wilayah Kabupaten Garut.
“Terutama di daerah – daerah yang terpencil, bersama para tokoh masyarakat disana,”imbuhnya.
Sedangkan untuk cara atau upaya lain yang perlu dilakukan adalah mengadakan konseling keluarga dan konseling pra nikah.
“Melakukan pemeriksaan psikologi setiap tahun, konseling keluarga, juga konseling pra nikah. Karena cara yang seperti ini sebagai ikhtiar menghasilkan sejumlah generasi yang lebih sehat untuk masa depannya nanti,” (Diky)



