NasionalPolitik

Modus Kecurangan Pilwalkot Parepare Terus Bermunculan, KPU Temukan C1 Masih Kosong Bertandatangan

BeritaNasional.id, Parepare — Modus kecurangan pada Pilwalkot Parepare terus bermunculan. Setelah ditemukan puluhan kotak surat suara yang tidak tersegel, kotak suara disegel dengan stiker biasa, kali ini muncul lagi form C1 ternyata tidak diisi dan diduga keras sengaja dikosongkan.

Parahnya lagi, form C1 yang masih kosong ternyata ditandatangani seluruh pihak yang bertugas di TPS.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Parepare, Nur Nahdiyah, saat dikonfirmasi di Kantor KPU, Jumat (29/6/2018). “Iya, saat melakukan scimming ke server KPU, kami temukan ada form C1 yang masih kosong,” ungkapnya.

Hal tersebut sangat disesalkan pihak KPU lantaran jauh sebelum pencoblosan, sudah disosialisasikan ke PPK, PPS, KPPS dan Panwaslu agar form C1 diiisi sesuai hasil rekap C1 Plano (talli) di seluruh TPS.

“Ini yang kami sesalkan, kenapa form C1 tidak diisi? Parahnya lagi, form C1 yang masih kosong justru ditandatangani seluruh pihak yang bertugas di TPS itu,” sesal Nur Nahdiyah.

KPU Parepare juga menyikapi serius soal hasil Quick Count KPU yang saat ini ditampilkan di server KPU dan memastikan data Quick Count yang saat ini ditampilkan di website KPU amburadul dan sifatnya belum final.

“Saya pastikan data yang ditampilkan di server KPU saat ini tidak bersifat final dan akan kami kroschek secara manual di tingkat PPK dan KPU,” tegasnya.

Ia menjelaskan, data yang ditampilkan di server KPU saat ini diinput dari form C1 di seluruh KPPS tanpa dilakukan kroschek apapun. “Jadi sangat memungkinkan terjadi kesalahan karena data yang ditampilkan itu dari C1 yang masuk dari KPPS dan langsung discan ke server tanpa kita lakukan kroschek apapun,” jelasnya.

Dikatakannya, beberapa data dari form C1 yang diinput ke server KPU tidak sinkron dengan data pemilih di TPS. “Kita scimming saja data dari seluruh TPS. Ada banyak yang salah, tapi kami tetap input dan tdk melakukan kroschek apapun. Sangat memungkinkan terjadi salah penjumlahan, salah tulis, dan malah ada form C1 yang kosong dan ditandatangan. Makanya itu sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai dasar penetapan,” terang dia.

Adapun yang dijadikan dasar penetapan KPU, lanjut dia, sesuai hasil rekap manual secara berjenjang ditingkat PPK dan KPU, kemudian dilakukan pleno penetapan. “Format C1 yang digunakan berhologram sesuai tingkat kecamatan dan kota,” tandasnya.

Sebelumnya, Hitung cepat KPU, yang ditampilkan pada laman infopemilu.kpu.go.id dipastikan bukan hasil resmi pilkada. Hal tersebut sesuai pada pemberitahuan yang tercantum pada bagian atas website.

‘…Data hasil pada hitung cepat berdasarkan entri Model C1 apa adanya. Hasil pada hitung cepat merupakan hasil sementara dan tidak bersifat final. Jika terdapat kesalahan pada model C1 akan dilakukan perbaikan pada proses rekapitulasi di tingkat atasnya…’ demikian tercantum.

Tim IT FAS, Andi Lutfi menjelaskan frasa apa adanya artinya semua model C1 yang masuk sekadar diinput tanpa verifikasi. Termasuk C1 yang salah hitung alias tidak akurat.

“Jadi data pada website itu, akan dibahas kembali pada rekapitulasi tingkat kecamatan, lalu tingkat kota. Dan pasti datanya berubah,” urai Lutfi. Sehingga dipastikan keliru, jika ada pihak yang menyebut data website itu adalah rujukan dan hasil resmi Pilkada.

Karena itu sangat wajar ketika banyak data pada laman KPU yang simpang siur. Mulai dari DPT, tingkat partisipasi, bahkan perolehan suara per kecamatan banyak yang saling tumpang tindih. Apalagi, server website itu sempat down beberapa waktu saat suara FAS terus menanjak. Saat server kembali normal, suara TP tiba-tiba melonjak drastis lebih dari 1 persen.

“Ini memang sangat mencurigakan. Contohnya disalah satu TPS di Bukit Harapan, C1 FAS meraih 268 suara, sementara yang diinput hanya 258 suara. Merugikan FAS kan?,” jelasnya.

“Jika merujuk pada C1 yang valid, maka dipastikan FAS menang. Itu yang kita pegang,dan saat ini kita kawal. Meski dilapangan upaya kecurangan sangat massive merugikan FAS, kita terus berupaya meminimalisir dengan mengamankan data A1 dari saksi kita,” tegas Lutfi.

Berdasarkan rekap C1 tim FAS, TP meraih 37.158 suara atau 49.69%. Sementara FAS sukses memperoleh 37.627 suara atau 50.31%. Selisih suara yang diperoleh hanya mencapai 469 suara, untuk keunggulan FAS. (ardi)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Close
Close