kupangNusa Tenggara Timur

Praktik Klinik di Surabaya Perkaya Pengalaman Mahasiswa STIKES Kupang Hadapi Tantangan Kesehatan NTT

 

BeritaNasional.ID, KUPANG – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Kupang menegaskan komitmennya untuk berkontribusi secara nyata dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Komitmen ini disampaikan Ketua Yayasan Kunci Ilmu, Laili Qudriana, yang menekankan bahwa kampus terus memperkuat peran akademik, kemitraan, dan inovasi guna mendukung program prioritas pemerintah.

Laili mengungkapkan bahwa STIKES Kupang menjadi salah satu perguruan tinggi pertama di NTT yang memiliki Program Studi S1 Gizi, sebuah langkah terdepan dalam menjawab kebutuhan tenaga gizi profesional di daerah.

Ia menyebutkan bahwa kehadiran prodi tersebut menjadi sangat strategis karena NTT masih berjuang menurunkan prevalensi stunting yang termasuk tinggi secara nasional.

“NTT membutuhkan tenaga gizi yang bukan hanya terlatih, tetapi juga memahami kultur masyarakat setempat serta mampu memberikan intervensi berbasis ilmu pengetahuan,” ujar Laili kepada Bernas.

Menurutnya, penguatan pendidikan gizi tidak hanya bagian dari kewajiban akademik, tetapi juga kontribusi konkret yayasan dalam mendukung pembangunan kesehatan jangka panjang di NTT.

STIKES Kupang terus melibatkan mahasiswa, dosen, serta tenaga ahli dalam program pengabdian masyarakat.

Kolaborasi dilakukan bersama pemerintah daerah, puskesmas, rumah sakit, hingga lembaga swasta untuk menghadirkan intervensi gizi yang sistematis dan berkelanjutan.

Salah satu inovasi unggulan kampus adalah penyediaan menu makan siang bergizi yang disusun oleh Program Studi Gizi.

Program ini tidak hanya memastikan mahasiswa mendapatkan nutrisi yang cukup selama mengikuti perkuliahan, tetapi juga menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk melatih keterampilan penyusunan menu sehat, penghitungan kalori, hingga simulasi intervensi gizi untuk balita.

“Pendidikan gizi tidak boleh berhenti pada teori. Mahasiswa harus diterjunkan langsung untuk mengaplikasikan pengetahuannya,” tegas Laili.

STIKES Kupang juga memperkuat kompetensi mahasiswa melalui program praktik klinik di rumah sakit besar di Surabaya.

Sebanyak 36 mahasiswa Program Studi Gizi saat ini sedang menjalani praktik di RSUD dr. Soetomo Surabaya, ruang layanan gizi klinik, unit perawatan intensif, dan penatalaksanaan pasien dengan masalah gizi berat.

Menurut Laili, pengalaman praktik ini akan menjadi bekal berharga sebelum para mahasiswa kembali mengabdi di NTT yang masih kekurangan tenaga ahli gizi.

Sementara itu, 24 mahasiswa Keperawatan ditempatkan di RSJ Menur Surabaya dan RSUP Kementerian Kesehatan, untuk mempelajari pelayanan keperawatan jiwa, perawatan dasar, hingga prosedur pada layanan rujukan nasional.

“Pengalaman di rumah sakit besar memberi mahasiswa pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas, sehingga mereka lebih siap bekerja di berbagai situasi lapangan,” ujar Laili.

Selain praktik lapangan, STIKES Kupang juga memperkuat riset-riset kecil yang dilakukan mahasiswa dan dosen.

Penelitian tersebut meliputi pemetaan status gizi wilayah, analisis penyebab stunting, hingga intervensi sederhana berbasis komunitas.

Laili berharap hasil riset ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan berbasis data ilmiah.

Ia mengungkapkan bahwa perguruan tinggi harus hadir sebagai mitra strategis yang memberikan kontribusi langsung terhadap solusi permasalahan kesehatan.

Laili mengapresiasi seluruh mahasiswa, dosen, dan mitra yang telah terlibat aktif dalam berbagai program intervensi.

Ia menambahkan, perubahan di masyarakat hanya dapat terwujud melalui kerja bersama yang konsisten dan berkelanjutan.

Laili menegaskan bahwa STIKES Kupang ingin memastikan setiap lulusan, baik dari Prodi Keperawatan maupun Gizi, mampu menjadi agen perubahan di daerah asal mereka.

Pendidikan kesehatan, katanya, harus mampu memberikan dampak jangka panjang bagi upaya penurunan stunting di NTT.

“NTT membutuhkan tenaga kesehatan yang adaptif, terlatih, dan berperspektif inovatif. Karena itu, seluruh program kampus dirancang untuk memberi dampak nyata bagi kesehatan generasi mendatang,” pungkasnya.*

Alberto/Bernas

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button