kupang

IAKN Kupang Paparkan Capaian Kinerja 2026 di Rakor PTKKN

 

BeritaNasional.ID, KUPANG – Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi perguruan tinggi keagamaan—mulai dari keterbatasan anggaran, persaingan memperoleh mahasiswa baru, tuntutan akreditasi, hingga kebutuhan menghasilkan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja—Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang menunjukkan satu hal penting: perubahan tidak selalu dimulai dari proyek besar, tetapi dari komitmen yang dikerjakan secara konsisten.

Hal itu terlihat dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Evaluasi Kinerja dan Anggaran Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Negeri (PTKKN) Tahun 2026 di Jakarta. Di hadapan Direktur Jenderal Bimas Kristen Kementerian Agama RI, Dr. Jeane Marie Tulung, Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, tidak sekadar menyampaikan laporan kinerja.

Paparan tersebut menggambarkan arah pembangunan kampus yang mulai bergerak dari sekadar memenuhi indikator menuju membangun budaya mutu yang berkelanjutan.

Arahan Dirjen Bimas Kristen bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan berhentinya inovasi menjadi pesan yang sangat relevan.

Di era ketika efisiensi menjadi keniscayaan, perguruan tinggi dituntut tidak hanya mengelola anggaran secara baik, tetapi juga mampu menciptakan inovasi, memperluas kolaborasi, dan menghadirkan program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dalam konteks itulah, capaian IAKN Kupang menjadi menarik untuk dicermati.

Selama ini, banyak perguruan tinggi memandang mutu hanya sebatas memperoleh nilai akreditasi yang baik. Padahal, mutu sesungguhnya adalah budaya yang harus hidup dalam setiap aktivitas akademik.

IAKN Kupang mulai menunjukkan arah tersebut. Perolehan akreditasi “Baik Sekali” bagi institusi dan tiga program studi memang patut diapresiasi. Namun, yang lebih penting adalah penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI), serta hadirnya 16 auditor mutu internal bersertifikat.

Artinya, mutu tidak berhenti pada hasil akhir, melainkan menjadi proses yang terus dievaluasi dan diperbaiki.

Langkah IAKN Kupang mengirim delapan dosen melanjutkan studi doktoral ke berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri patut dipandang sebagai investasi masa depan.

Perguruan tinggi tidak akan pernah melampaui kualitas dosennya. Ketika dosen memperoleh kesempatan belajar di Inggris, Korea Selatan, Belgia, UGM, Universitas Negeri Malang, Undiksha, maupun IAKN Ambon, sesungguhnya kampus sedang membangun fondasi akademik yang lebih kuat.

Penambahan empat Lektor Kepala hingga total menjadi delapan orang juga menunjukkan bahwa pembinaan karier dosen mulai berjalan secara sistematis.

Target menghadirkan Guru Besar bukan lagi sekadar wacana, tetapi sedang dipersiapkan melalui pendampingan yang berkelanjutan.

Perguruan tinggi sejatinya tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), sebanyak 1.028 mahasiswa diterjunkan ke 137 desa di lima kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur.

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dibawa keluar dari ruang kelas untuk menjawab persoalan nyata masyarakat.

Program pengabdian yang mengangkat isu ekoteologi dan pengentasan kemiskinan memperlihatkan bahwa IAKN Kupang berupaya mengintegrasikan nilai-nilai akademik dengan kebutuhan sosial masyarakat.

Hal lain yang patut diapresiasi adalah perhatian terhadap pembangunan karakter mahasiswa.

Di tengah meningkatnya kasus kekerasan, intoleransi, hingga perundungan di lingkungan pendidikan, pembentukan Satgas Mentality Building menjadi langkah preventif yang penting.

Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga ruang yang aman untuk bertumbuh sebagai manusia yang menghargai keberagaman, menjunjung kejujuran, dan mampu hidup berdampingan.

Survei internal yang menunjukkan indeks keberagamaan mahasiswa mencapai 89 persen menjadi modal awal yang baik, meskipun evaluasi berkelanjutan tetap diperlukan agar angka tersebut benar-benar tercermin dalam kehidupan kampus sehari-hari.

Prestasi akademik akan sulit dipertahankan tanpa tata kelola yang baik.

Komitmen menuju Zona Integritas, Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) menunjukkan bahwa IAKN Kupang menyadari pentingnya akuntabilitas dalam setiap aspek pengelolaan institusi.

Peran Satuan Pengawasan Internal (SPI) yang semakin diperkuat menjadi fondasi penting agar seluruh program berjalan secara transparan, efektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Meski berbagai capaian layak diapresiasi, pekerjaan rumah IAKN Kupang tentu belum selesai.

Persaingan antarperguruan tinggi semakin ketat. Transformasi digital terus berkembang. Dunia kerja membutuhkan lulusan dengan kompetensi yang semakin kompleks. Di sisi lain, keterbatasan anggaran tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Karena itu, menjaga konsistensi akan menjadi ujian sesungguhnya. Prestasi hari ini harus menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh, bukan alasan untuk cepat berpuas diri.

Masuknya IAKN Kupang ke peringkat 12 dari 60 perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur versi Webometrics menunjukkan bahwa kampus ini mulai memperoleh pengakuan yang lebih luas.

Namun, ukuran keberhasilan sesungguhnya bukan hanya peringkat atau jumlah mahasiswa baru. Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana lulusan mampu memberi manfaat bagi masyarakat, penelitian menghasilkan solusi, dan pengabdian benar-benar membawa perubahan.

Jika komitmen terhadap mutu, penguatan sumber daya manusia, tata kelola yang akuntabel, serta kolaborasi dengan berbagai pihak terus dipertahankan, IAKN Kupang memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi salah satu perguruan tinggi keagamaan Kristen yang unggul di Indonesia Timur.

Pada akhirnya, mutu bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan panjang yang harus dijalani dengan konsistensi, integritas, dan keberanian untuk terus berbenah.

Dari capaian yang dipaparkan dalam Rakor PTKKN 2026, IAKN Kupang tampaknya sedang menapaki jalan tersebut—jalan menuju kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dan berdampak bagi masyarakat.*

Alberto/Bernas

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button