Jawab Kekurangan Dokter Anestesi di NTT, Undana Siapkan Dua Prodi Spesialis

BeritaNasional.ID, KUPANG – Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Universitas Nusa Cendana (Undana) terus menunjukkan komitmennya dalam pengembangan pendidikan kedokteran spesialis di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hal ini ditandai dengan rencana pembukaan dua program studi baru, yakni Program Pendidikan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif.
Sebagai bagian dari proses pendirian program studi tersebut, visitasi lapangan telah dilaksanakan pada Jumat, 19 Desember 2025.
Visitasi dilakukan oleh delegasi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Tim visitasi terdiri dari Prof. Wiryawan Permadi, dan Prof. Sandra Widaty, yang ditugaskan untuk menilai kesiapan Undana dalam mendirikan program pendidikan dokter spesialis tersebut.
Dalam keterangannya, Prof. Sandra Widaty menjelaskan bahwa visitasi ini bertujuan untuk mengevaluasi kesiapan Undana, khususnya FKKH, dalam membuka Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif agar ke depan dapat menjadi sekolah spesialis di lingkungan Undana.
“Kami mengevaluasi bagaimana kesiapan Universitas Nusa Cendana dalam rencana pendirian program studi anestesi dan terapi intensif. Harapannya, ini dapat segera berdiri dan menjadi bagian dari pendidikan spesialis di Undana,” ungkapnya.
Ia menambahkan, berdasarkan penilaian awal, Undana telah menunjukkan kesiapan yang cukup baik, terutama dari sisi dokumen dan dukungan institusional.
Meski demikian, pihaknya belum mengambil kesimpulan akhir terkait hasil visitasi tersebut.
“Kami melihat kecukupan dokumen dan berbagai hal pendukung lainnya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kedua program studi ini bisa berdiri, meskipun saat ini kami belum melakukan kesimpulan resmi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Sandra menegaskan bahwa kebutuhan utama dalam pendirian program studi ini adalah ketersediaan sumber daya manusia, khususnya dosen dan dokter spesialis anestesi yang akan terlibat langsung sebagai tenaga pengajar di Undana.
Sementara itu, Prof. Wiryawan Permadi dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Undana atas kerja sama yang telah terjalin dengan sejumlah rumah sakit sebagai wahana pendidikan klinik.
Ia menekankan bahwa kolaborasi yang kuat antara universitas dan rumah sakit menjadi faktor penting dalam menjamin kualitas pendidikan dokter spesialis, terutama dalam menyediakan tempat praktik bagi peserta didik.
Namun demikian, Prof. Wiryawan juga menyampaikan pesan penting dari Kemendiktisaintek dan Kementerian Kesehatan, bahwa pembangunan pendidikan spesialis di Undana harus berorientasi pada pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan di NTT.
“Yang kita butuhkan adalah dokter-dokter anestesi yang nantinya akan bekerja di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. Setelah mereka menyelesaikan pendidikan dan lulus, kami berharap mereka dapat ditempatkan di daerah-daerah yang selama ini mengalami kekurangan dokter anestesi,” tegasnya.
Ia berharap, dengan hadirnya program pendidikan dokter spesialis anestesi dan terapi intensif di Undana, seluruh masyarakat NTT dapat merasakan manfaat pelayanan kesehatan yang lebih merata dan berkualitas.
“Seluruh masyarakat layak mendapatkan pelayanan dokter anestesi yang memadai, sehingga persoalan kekurangan tenaga medis di daerah dapat teratasi secara bertahap,” pungkasnya.
Dekan FKKH Undana, Christina Olly Lada, menjelaskan bahwa dari sisi ketersediaan dosen tetap, kedua program studi telah memenuhi persyaratan minimal.
“Untuk bidang anestesiologi, kami memiliki dua dosen tetap, sementara terapi intensif memiliki tiga dosen tetap. Dengan penambahan dosen bergelar doktor, maka kebutuhan lima dosen tetap pada masing-masing program studi telah terpenuhi. Kami berharap hal ini dapat menjadi pertimbangan positif,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa FKKH Undana tidak berjalan sendiri dalam pelaksanaan pendidikan. Undana telah menjalin kerja sama dengan sejumlah fakultas kedokteran ternama di Indonesia.
“Untuk program anestesiologi, kami bermitra dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud), sementara untuk terapi intensif kami bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair). Para mitra ini akan turut membantu dalam pelaksanaan pendidikan,” jelas Christina.
Wakil Rektor I sekaligus Pelaksana Tugas Wakil Rektor IV Undana, Prof. Annytha I. R. Detha, menegaskan bahwa pihak rektorat memberikan dukungan penuh terhadap pembukaan dua program studi baru tersebut.
“Dari pihak rektorat tentu kami mendukung penuh komitmen ini. Secara berkesinambungan, kami juga membuka peluang bagi para dokter untuk nantinya menjadi pengajar di Undana,” katanya.
Terkait kesiapan fasilitas, Prof. Annytha menegaskan bahwa Undana berkomitmen untuk terus memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pembelajaran, sejalan dengan penugasan dari kementerian.
“Dengan komitmen yang ada, Undana akan memastikan perencanaan anggaran untuk penyediaan fasilitas pendukung proses pembelajaran. Kami sangat berkomitmen,” urainya.*
Alberto/Bernas



