BondowosoDaerahJawa TimurRagam

Pemerintah Himbau Jangan Panic Buying BBM, Masyarakat Tidak Menghiraukan

BeritaNasional.ID, BONDOWOSO JATIM – Pemkab Bondowoso menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan panic buying BBM.  Karena berdasarkan koordinasi dengan Sales Branch Manager Pertamina, stok dan distribusi BBM di wilayah Bondowoso saat ini dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Saya mengajak masyarakat untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan penimbunan. Pembelian secara berlebihan justru dapat mengganggu kelancaran distribusi dan menyebabkan antrean pajang di SPBU,” kata Bupati Dr. KH. Abdul Hamid Wahid, M.Ag.

Pemkab Bondowoso, lanjut Bupati bergelar Doktor kedua setelah Bupati Mashoed ini, akan terus memantau perkembangan ketersediaan BBM dan memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.

Namun warga Bondowoso tidak mentaati Himbauan Bupati tersebut. Terbukti, ratusan warga menyerbu sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada Jumat (6/3/2026) sore hingga malam hari.

Fenomena ini dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap isu kelangkaan BBM setelah beredar informasi bahwa cadangan BBM nasional hanya tersisa 25 hari. Pantauan di lapangan menunjukkan, SPBU Grujugan menjadi salah satu titik terpadat.

Ratusan pengendara sepeda motor tampak memadati area pengisian, bahkan antrean mengular hingga ke badan jalan raya, menyebabkan kemacetan di sekitar lokasi. Situasi serupa juga terlihat di SPBU Maesan dengan panjang antrean mencapai 100 meter.

Salah seorang pengendara, Sulastri, mengaku nekat mengantre demi mengamankan kebutuhan BBM-nya. Ia mengaku resah dengan informasi yang beredar mengenai cadangan BBM yang disebut hanya tersisa 25 hari.

“Infonya dari pemerintah cadangan BBM tinggal 25 hari. Daripada kehabisan, saya beli dari sekarang. Khawatir kehabisan,” ujar Sulastri di sela-sela antrean. Hal serupa diungkapkan Hasan Basri, warga lain yang juga turut mengantre.

Setiap hari harus pulang pergi dari Lombok Kulon ke Prajekan membuatnya sangat bergantung pada kendaraan bermotor.  “Saya setiap hari naik motor dari Lombok Kulon Wonosari ke Prajekan. Kalau BBM habis saya bisa absen kerja dan gaji dipotong,” jelasnya. (Syamsul Arifin/Bernas)

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button