Ragam

Melalui Calistung, Dorong Semangat Literasi Masyarakat Yalimo

image_pdf

BeritaNasional.ID, Papua — Dibandingkan daerah lainnya, Kabupaten Yalimo merupakan kabupaten yang relatif muda. Wilayah yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya pada 4 Januari 2008 berdasarkan UU RI tahun 2008 no 4. Kabupaten yang beribukotakan di Elelim ini terdiri atas 5 distrik, yaitu Distrik Abenaho, Distrik Elelim, Distrik Apalapsili, Distrik Welarek, dan Distrik Benawa serta 254 desa (sumber: id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Yalimo).

Wilayah ini perlu diberikan beberapa perhatian yang salah satunya adalah literasi yang pada tulisan ini difokuskan pada kegiatan di bidang baca, tulis, hitung (calistung). Perbagai kegiatan literasi yang kreatif inovatif perlu dilakukan agar literasi ini terus dihidupkan sebagai kegiatan sehari-hari dan pada akhirnya dapat menjadi gaya hidup masyarakat.

Calistung merupakan literasi dasar yang wajib dimiliki oleh setiap individu dalam berinteraksi secara sosial ekonomi dan memecahkan beberapa persoalan hidup yang tak luput dari kegiatan baca, tulis, dan hitung ini. Sementara itu, generasi muda Yalimo perlu disiapkan sedini mungkin pada bidang literasi karena mereka kelak akan menuntut ilmu lebih tinggi lagi dan selanjutnya merekalah yang akan menjadi pemimpin di tanah asalnya pada eranya nanti.

Tulisan ini merupakan bagian dari refleksi kegiatan PKM (Pengabdian kepada Masyarakat) Universitas Cenderawasih yang dilakukan pada bulan Agustus dan September 2019 di Kabupaten Yalimo, khususnya di Distrik Elelim dan Distrik Abenaho.

(Perlunya Berbagai Dukungan)

Berbagai dukungan diperlukan agar kegiatan literasi dapat berjalan secara berkelanjutan dan bersemangat di Kabupaten Yalimo. Selain dukungan pemerintah melalui berbagai kegiatan PLS dengan membangun PKBM, kegiatan yang dilakukan masyarakat pun amat diperlukan untuk membantu terlaksananya kegiatan literasi ini.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Yalimo, Nahor Nekwek yang didampingi Kabid PLS mengatakan inisiatif kegiatan literasi yang dilakukan oleh masyarakat diprakarsai oleh beberapa gereja yang membentuk pusat-pusat kegiatan literasi pada bidang baca, tulis, hitung, selain kegiatan literasi pada bidang pertanian dan kesehatan.

“Termasuk masyarakat melalui kelompok PKK pun atau ketokohan masyarakat membangun sanggar belajar calistung atau merelakan rumahnya untuk belajar yang ditujukan baik untuk anak-anak dan para orang tua. Misalnya, ibu Yenny Welanngen membuat sanggar belajar Yabema di Distrik Elelim dan bapak Halekombo merelakan rumahnya untuk kegiatan belajar di Dsitrik Abenaho,”ungkap Nahor Nekwek, 5 Agustus 2019, lalu.

Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat, Syul Auparay yang turut dibenarkan Yenny Welanggen menyampaikan jika kegiatan literasi ini hanya akan berjalan lancar jika ada dukungan sarana dan prasarana yang tetap dari pemerintah ataupun donatur lain. Di samping itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi merupakan faktor yang paling signifikan.

“Semewah apapun sebuah sanggar belajar dan sekreatif dan sehebat apapun tutor serta sebanyak, sebagus, dan semahal apapun buku-buku atau materi lain yang disiapkan, kegiatan literasi tak dapat berjalan jika tidak ada masyarakat yang mau belajar,”ujar, Syul Auparay.

Kata Syul Aupray menambahkan, terpenting di sini adalah membangun sebuah kesadaran para orang tua dan para generasi muda akan pentingnya calistung.

(Pelibatan Mahasiswa Universitas Cenderawasih)

Sadar akan pentingnya memotivasi semangat para orang tua dan generasi muda di Kabupaten Yalimo, maka bentuk kepedulian kami dari Tim PkM Universitas Cenderawasih adalah melibatkan beberapa mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Yalimo dalam kegiatan literasi ini.

Keterlibatan mereka dirasa penting bukan hanya karena mereka dapat berkomunikasi dalam bahasa Yali, tetapi karena mereka mempunyai “rapport” baik sehingga dengan mudah dapat memotivasi “adik-adik” mereka untuk rajin belajar sehingga mereka pun kelak akan jadi anak yang pintar dan dapat berkuliah seperti “kakak-kakak” mereka.

Bagi para orang tua, kehadiran para mahasiswa ini merupakan sebuah bukti nyata kesuksesan generasi muda Yalimo sehingga para orang tua semakin termotivasi untuk mendorong anak-anak mereka belajar dan menuntut pendidikan setinggi mungkin. Kegiatan dilakukan di Sanggar Belajar Yabema di Distrik Elelim dan rumah keluarga Halekombo di Distrik Abenaho.

Seorang mahasiswi sedang memotivasi anak-anak belajar dengan beberapa alat peraga.

(Pentingnya Literasi Kontesktual)

Salah satu alasan utama penggunaan pembelajaran kontekstual dalam kegiatan literasi ini adalah pentingnya hubungan batin antara pembelajar dengan materi yang dipelajarinya. Hubungan batin atau yang disebut oleh Lazar (2002) sebagai “emotional ties” ini membawa atmosfir belajar yang lebih menyenangkan dan nyaman bagi para pembelajar.

Di samping itu, Tanah Papua mempunyai 275 bahasa daerah (SIL, 2015), akan tetapi jumlah bahasa daerah ini semakin berkurang karena tidak digunakan lagi oleh penuturnya, terutama para generasi muda. Sadar akan hal ini, kami ingin melakukan preservasi bahasa Yali dalam bentuk yang sederhana, yaitu melibatkannya dalam pembelajaran.

Oleh karena itu pembelajaran kontekstual ini dimulai dari topik yan paling dekat dengan para pembelajar, misalnya (1) tubuh, (2) keluarga, (3) ucapan selamat, (4) nama-nama hewan, (5) nama buah-buahan, (6) dan (7) alam.

Para orang tua yang terlibat pada kegiatan literasi.

Topik-topik ini disajikan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Yali. Hal ini bertujuan agar para peserta kegiatan merasa memiliki hubungan emosi untuk menarik minat belajar mereka. Berikut ini adalah contoh topik “tubuh/badan”.

T u b u h/B a d a n
E n e b e
Kepala
Iningguluag
Pundak
Enesanggo
Mata
Enelanggen
Hidung
Enambiang
Mulut
Enambilik
Leher
Enanggoloag
Gigi
Enayeg
Tangan
Ininggi
Jari tangan
Ininggi sele
Perut
Enagum
Kuku tangan
Ininggik ahop
Lutut
Enindi Wakal
Kaki
Eniok

Berikut ini adalah topik “alam”.

Pagi hari
Huber
Siang hari
Illingge
Sore hari
Hukmu
Malam hari
Hubanggo
Pelangi
Walobikal
Bintang
Soholoal
Bulan
Bikalem
Matahari
Mo
Awan
Ohena
Hujan
Osir
Batu
Halep

Teknik yang digunakan dalam pembelajaran kontekstual lebih bersifat “bermain sambil belajar” untuk membuat suasana yang akrab dan menyenangkan, yaitu (1) flash cards, (2) gambar, dan (3) bercerita, (4) lagu (songs). Melalui flash cards, para pembelajar diminta membaca dan menulis.

Mereka juga yang menterjemahkan kata dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa Yali. Misalnya, perut (enagum), lutut (ininggik), dan kaki (eniok). Teknik gambar yaitu menunjukkan gambar dan meminta peserta belajar untuk menyebutkan nama gambar dan menuliskannya. Mereka pun diberi kesempatan untuk menggambar benda yang ditunjuk oleh guru atau yang mereka lihat di dalam atau halaman ruang belajar, seperti meja, kursi, pohon, buah, matahari, batu, bola, dll serta menuliskan nama benda itu dalam bahasa Yali dan bahasa Indonesia.

Seorang Mahasiswa sedang mengajarkan angka.

Teknik bercerita, yaitu guru bercerita menggunakan buku cerita bergambar dan para peserta mendengar sambil melihat gambar-gambar yang ada dalam buku. Setelah itu, mereka diberi kesempatan untuk menceritakan kembali menggunakan bahasa mereka dan menuliskan nama-nama dari gambar yang mereka lihat di buku cerita.

Cerita yang diberikan juga berasal dari wilayah Yalimo atau dari daerah Papua yang lain. Teknik menyanyi (songs) amat disukai oleh anak-anak Yalimo. Mereka menyanyi lagu-lagu dalam bahasa mereka atau lagu-lagu Sekolah Minggu yang biasa mereka nyanyikan.

Mereka juga diminta untuk menulis kata-kata yang mereka nyanyikan.Dalam kegiatan pengabdian ini, tim juga berhasil membuat cerita singkat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Yali. Berikut cerita yang dimaksud:

Kebun Mama
Nisina eyabuk mu

Kebun mama besar

Nisina eyabuk mu sawon
Kebun mama bagus
Nisina eyabuk mu fano
Mama menanam petatas
Nisina oromi yaduk
Mama menanam keladi
Nisina homi yaduk
Mama menanam singkong
Nisina biribui yaduk
Mama menaman sayur lilin
Nisina wiei yaduk

Sebagai penutup, disimpulkan bahwa untuk mendorong kegiatan literasi yang berkelanjutan di Kabupaten Yalimo, perlu dukungan holistik dari pemerintah, masyarakat, organisasi keagamaan dan sosial, dan orang tua. Bentuk pendekatan yang persuasif tentang pentingnya literasi perlu dikedepankan dengan memotivasi masyarakat belajar dengan materi yang menarik dan berpihak pada mereka, misalnya pembelajaran kontekstual yang melibatkan bahasa dan kehidupan sosial-budaya Yalimo.

Selain akan membangkitkan hubungan batin antara peserta belajar dna materi yag dipelajari, pembelajaran kontekstual akan bermuara pada terciptanya individu yang cerdas, mandiri, dan tidak melupakan akan budaya sendiri. (*)

Editor : ILHAM

Show More

Related Articles

Back to top button
Close