Prof. Maxs Sanam dan Orkestrasi Perubahan Undana dalam Buku “Sang Dirigen Undana Unggul”

BeritaNasional.ID, KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) bekerja sama dengan surat kabar harian Pos Kupang dan penerbit Gramedia resmi meluncurkan sekaligus membedah buku berjudul “Sang Dirigen Undana Unggul” pada Jumat, 12 Desember 2025.
Buku ini menjadi dokumentasi komprehensif perjalanan hidup, nilai-nilai moral, serta kiprah kepemimpinan Prof. Maxs U. E. Sanam, Rektor Undana Periode 2021–2025, yang sukses mengantarkan Undana meraih predikat Akreditasi Unggul, pada 11 Februari 2025.
Peluncuran buku yang berlangsung di Kantor Berita Pos Kupang tersebut disambut antusias oleh sivitas akademika Undana, para pimpinan unit kerja, mahasiswa, serta akademisi lintas perguruan tinggi.
Suasana diskusi berlangsung hangat, mencerminkan besarnya perhatian publik akademik terhadap kepemimpinan Prof. Maxs yang dinilai berhasil menghadirkan perubahan nyata di tubuh Undana.
Buku “Sang Dirigen Undana Unggul” mengupas secara mendalam sosok Prof. Maxs Sanam, mulai dari latar belakang kehidupan sederhana, perjalanan akademik, hingga perannya sebagai pemimpin transformasional.
Nilai kesederhanaan, keteguhan prinsip moral, dan keberanian menghadapi kritik menjadi benang merah yang mewarnai kepemimpinannya.
Hal tersebut tergambar kuat melalui kutipan pada sampul buku, “Jika mau berubah bukan karena pujian, tapi karena kritik bahkan hinaan,” yang mencerminkan filosofi kepemimpinan Prof. Maxs.
Dalam sambutannya, Prof. Maxs Sanam mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasi mendalam atas lahirnya buku tersebut.
Ia menyebut buku ini sebagai “hadiah besar di penghujung pengabdian” selama memimpin Undana.
Prof. Maxs juga merefleksikan perjalanan hidupnya yang berangkat dari keluarga sederhana hingga dipercaya memimpin Undana, sebuah capaian yang menurutnya merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri.
Sesi utama bedah buku dimoderatori oleh Maria Angriani Eno Toda dan menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda, yakni Rektor Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang Prof. Godlief Frederik Neonufa, Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Kupang, Ahmad Atang, serta Pemimpin Redaksi Pos Kupang Dion D. B. Putra.
Ketiganya sepakat menilai buku ini sebagai potret kepemimpinan yang konsisten, kolaboratif, dan humanis.
Prof. Godlief Neonufa secara khusus menyoroti keberhasilan Prof. Maxs dalam mengorkestrasi perubahan besar di Undana yang berujung pada pencapaian Akreditasi Unggul.
Menurut Rektor UKAW Kupang, capaian tersebut tidak terlepas dari pembenahan tata kelola universitas, peningkatan kualitas riset, perluasan kolaborasi internasional, serta keberhasilan Undana melahirkan 36 guru besar baru selama masa kepemimpinan Prof. Maxs.
Ia menilai buku ini layak menjadi rujukan penting bagi para pimpinan perguruan tinggi dalam membangun pola kepemimpinan yang visioner dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ahmad Atang menilai buku ini tidak sekadar menjadi catatan sejarah kepemimpinan, tetapi juga sumber inspirasi bagi akademisi dan generasi muda.
Ia menekankan bahwa keberanian penulis dalam mengungkap sisi keberhasilan sekaligus kegagalan dan pergulatan batin seorang pemimpin menjadikan buku ini kaya akan pelajaran tentang integritas, ketulusan, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Sebagai editor sekaligus inisiator peluncuran, Dion D. B. Putra menjelaskan bahwa judul “Sang Dirigen” dipilih karena menggambarkan secara tepat peran Prof. Maxs dalam memimpin Undana layaknya seorang dirigen orkestra.
Melalui harmoni, disiplin, dan kerja kolektif, Prof. Maxs mampu menyatukan seluruh elemen kampus untuk bergerak menuju tujuan bersama.
Buku ini merangkum perjalanan lengkap Prof. Maxs, mulai dari kisah masa kecil hingga langkah-langkah strategis dalam transformasi manajemen dan pembangunan infrastruktur Undana.
Menutup rangkaian acara, Prof. Maxs Sanam berharap buku “Sang Dirigen Undana Unggul” dapat menjadi sumber pembelajaran tentang pentingnya integritas, kerja keras, dan keteguhan dalam memimpin.
Dengan mengutip pesan Nelson Mandela, ia mengajak generasi muda, akademisi, dan para pemimpin di Nusa Tenggara Timur untuk terus berani bermimpi besar, bekerja cerdas, dan tidak melupakan doa.*
Alberto/Bernas



