DaerahEks Keresidenan Madiun

Catatan Penting Debat Publik II Pilkada Ponorogo, Fajar Pramono ; Ipong Lebih Dominan

BeritaNasional.ID, Ponorogo – Usai debat publik kedua Pilkada Ponorogo yang disiarkan langsung tv swasta beberapa waktu lalu, ada beberapa catatan menarik dari gelaran tersebut. Pasalnya Paslon nomor urut 01 yakni Sugiri – Lisdyarita belum bisa memanfaatkan forum debat tersebut dengan baik.

Hal ini terlihat saat Paslon Ipong – Bambang melontarkan pertanyaan krusial terkait dengan visi misi paslon nomor 01 yakni Ponorogo Hebat, kemudian prestasi dan kontribusi apa untuk Ponorogo selama menjadi politisi Partai Demokrat

Menurut pengamat politik, Dr Muh Fajar Pramono, M. Si, ajang debat ini sebenarnya momen menggaet hati pemilih untuk kedua Paslon dengan memaparkan visi misinya. Namun dari beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada Paslon 01 terlihat dirinya tidak menjawabnya dengan tegas. Apalagi saat mendapat pertanyaan dari Paslon 02. Jika dijawab dengan bagus, lengkap dan terukur, mungkin akan bisa merubah keadaan. Bisa meyakinkan bahwa yang bersangkutan pantas untuk mendapat amanah itu.

“Debat kedua ini adalah momen bagus semua Paslon untuk menarik perhatian masyarakat Ponorogo untuk memilih calon pemimpin yang cerdas. Namun saya melihat Paslon nomor urut 01 kurang menguasai materi dan Paslon 02 begitu dominan sepanjang debat,” ungkap Fajar Pramono kepada Pewarta melalui sambungan telepon seluler.

Setidaknya, publik akan mudah membaca keunggulan paslon 01 jika bisa menyampaikan dan menjawab materi dengan baik. Namun sayang, kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik. Justru kembali pada performa aslinya, bias dalam visi dan misi “Pokoke Hebat dan Pokoke Kerja”, tetapi tidak kunjung tiba pada penjelasan apa kehebatan dan apa yang mau dikerjakan paslon 01 tersebut.

“Saat menjawab pertanyaan, justru sering menutupi kekurangannya dengan menyerang dan menyerang lagi, tapi secara serampangan dan menjadi blunder yang kesekian kalinya untuk paslon 01. Seperti dalam menjawab soal mengukur jalan denga rasa yang langsung dibantah Ipong bahwa mengukur jalan itu bukan dengan rasa namun dengan meter dan kilometer,” jelas Fajar Pramono yang juga merupakan dosen Universitas Darussalam (Unida) Gontor tersebut.

Menurutnya, kata rasa itu subyektif dan lebih cocok untuk kesenian dan budaya. Salah menempatkan ukuran ini bisa bahaya bagi pejabat publik. Sedangkan dirinya melihat paslon 02 sudah cukup jelas apa yang sudah dilakukan 5 tahun yang lalu dan sangat jelas apa yang akan dilakukan 5 tahun ke depan.

“Catatan penting untuk paslon 02, saat ini masyarakat membutuhkan konsistensi dan kelanjutan program dari paslon Ipong – Bambang. Dan yang sama pentingnya lagi adalah terkait sinergisitas dan kolaborasi dengan berbagai potensi yang ada di Ponorogo terutama unsur Pesantren dan Akademisi. Tidak hanya simbolis atau jargon, tetapi fungsional dan nyata. Saya pikir itu PR paslon 02 (Ipong-Bambang) ke depan,” tukasnya.

Show More

Related Articles

Back to top button
Close
Close