DaerahRagam

‘Story Kedai Kopi’ Di Kota Atap Ini Ada Kue Surabi Berbagai Varian

image_pdf

BeritaNasional.ID,
BANYUWANGI – Kota Genteng benar-benar layak ketika banyak orang menyebutnya sebagai barometer kota Banyuwangi. Bahkan seringkali juga mereka menyebutnya sebagai Banyuwangi kedua. Hal itu lepas dari majunya pendidikan, sirkulasi ekonomi yang tinggi serta lengkapnya sarana perkantoran di kota atap ini.

Dan, dinamika anak mudanya juga sudah diakui oleh khalayak. Pegiat, aktivis, seniman, olahragawan, serta seabrek civitas lainnya, semuanya bisa didapati disini. Fenomena dan dinamika ini pun menarik tim poldes.net untuk mengurai sedikit dari yang banyak dimiliki oleh warga masyarakat Genteng.

Bertepatan pada Senin (5/11/18) malam, tim media yang lebih menekankan sinergitas dalam tiap liputannya ini sengaja menelusuri sebuah jalan diwilayah kecamatan yang memiliki 5 desa namun rata-rata berpotensi semuanya.

Hiruk pikuk ramainya kendaraan roda dua bahkan padatnya roda empat yang berlalu lalang Di sepanjang Jalan Raya Genteng ini menambah dinamisnya perjalanan ini. Bahkan dalam perjalanan tim poldes.net menjumpai banyaknya jajanan yang sengaja di pasarkan pada malam hari. Salah satunya yang bikin tertarik adalah jajanan tradisional ‘Kue Surabi’.

Salah satunya adalah ‘Story Kedai Kopi’ yang merupakan tempat dimana para pemuda dan anak baru gede (ABG) yang produktif berkumpul. Usaha kecil yang hanya menggunakan peralatan sederhana dan seadanya ini di gagas oleh Firman Arif (20) dan Rendi Fajar (20) serta sahabatnya yang bernama Tamsi Hamdani (23).

Usaha Kue Surabi ini berada di Jalan Hasanudin No 99 Genteng Wetan. Setiap malamnya menjadi jujugan dan tempat konkow pemuda pemudi bahkan orang dewasa. “Harga yang kita patok sangat terjangkau. Mulai dari Rp 4000, Rp 5000, Rp 6000, Rp 8000 sampai Rp 10.000 dengan berbagai varian/rasa,” ungkap Firman Arif.

Sedangkan rasa yang ditawarkan bermacam-macam. Mulai dari Surabi Original, Surabi Coklat, Pisang, Nangka, Keju, Sosis, Telur dan lain lain. “Selain jajanan itu, kedai kita juga menyediakan kopi berbagai varian juga. Termasuk mie goreng dan minuman ringan lainnya kita sediakan kok,” timpal Rendi Fajar dan Tamsi Hamdani.

Kedai yang buka setiap hari Senin-Sabtu sejak pukul 16.00 WIB hingga 24.00 WIB ini selalu antri dengan pengunjung. Meski masih muda-muda, tampilan sikap ramah dengan senyum manis, tutur sapa yang sangat sopan menjadi salah modal untuk menarik datangnya pengunjung. Sehingga, kendati sedikit lama pesanan Kue Surabi nya, pengunjung rela menunggu dengan santai. Terlebih kedai tersebut juga dilengkapi dengan fasilitas wifi gratis.

Siti Hotijah (36) warga Desa Kebaman Kecamatan Srono yang sempat membuka obrolan dengan poldes.net mengaku jika dirinya tiap kali melewati Kota Genteng selalu menyempatkan mampir di Kedai Surabi tersebut.
“Anak saya suka dengan Surabi di sini. Banyak varian yang disuguhkan, ini yang disukai anak anak saya. Dan yang pasti, harganya pahe alias paket hemat,” tuturnya sembari mengumbar senyum.

Sementara pemilik kedai yang dirintisnya sejak 7 bulan lalu ini merupakan usaha kecil-kecilan yang inspirasinya dari pengalaman saat merantau bekerja di Pulau Dewata Bali. “Berangkat dari pengalaman itu lah, saya geret beberapa teman seusia untuk ikut bergabung membuka kedai ini. Pengalaman kerja di Bali ini saya terapkan untuk usaha sendiri bersama teman teman,” papar Firman Arif.

Dan buah kerja keras anak-muda muda ini pun tidak mengecewakan, berbekal semangat yang berkobar kobar , setiap malamnya kedai ini bisa menghabiskan tepung hingga 5 kilogram. (red)

Caption : Situasi ‘Story Kedai Kopi’ di Kota Genteng yang menjadi jujugan anak-anak muda untuk bersantai sambil ber wifi

Tags
Show More

Related Articles

Close