Jawa Tengah

Terkesan “Amburadul”, Pengelolaan Wisata Pantai Randusanga Indah Brebes Perlu Perbaikan

BeritaNasional.ID, Brebes – Pemberlakuan otonomi daerah menjadi salah satu ajang kreatifitas bagi pemerintah daerah untuk memaksimalkan potensi pariwisata yang dimiliki dengan perencanaan yang sistematis dan terstruktur sehingga maksimal dalam penerapannya, baik secara jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.

Meskipun masih dalam kondisi pandemi Covid-19, sektor pariwisata masih mengalami perkembangan yang pesat. Namun, pengelolaan pariwisata harus mengutamakan kenyamanan pengunjung. Orang mengunjungi tempat wisata salah satunya untuk melepas kepenatan dari rutinitas sehari-hari juga ingin mengetahui lebih banyak tentang obyek wisata yang dikunjungi.

Pantai Randusanga Indah merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Brebes. Sangat disayangkan ketika pengelolaan Pantai Randusanga ternyata sangat jauh dari yang diharapkan. Padahal Pemerintah Kabupaten Brebes melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sudah menerapkan retribusi tiket masuk bagi para pengunjung sebagai pendapatan asli daerah (PAD).

Beberapa kesemrawutan yang sering terjadi diantaranya adalah tempatnya kotor, pedagang yang memaksa bahkan mengusir pengunjung jika tidak membeli dagangannya padahal di area wisata bukan di lapak pedagang, tidak adanya spot yang bisa memanjakan pengunjung, serta adanya hewan ternak yang berkeliaran bebas di area wisata.

Hal tersebut dialami oleh salah satu pengunjung dari Kabupaten Tegal, Widia yang mengeluhkan pengelolaan kurang maksimal. “Tempatnya kotor, banyak kambing masuk area pantai, pedagang juga judes padahal kita parkir di area pantai bukan di lapak dagangnnya, eeh malah diusir”, ungkapnya. Sabtu (29/8/2020).

Ketika dikonfirmasi, salah satu pengelola mengatakan bahwa kemarin habis terkena rob jadi kotor, pedagang juga sudah diberi himbauan. “Kami selaku pengelola sering mengingatkan kepada para pedagang supaya tidak memaksa, karena para pengunjung sudah membayar tiket masuk. Mungkin karena persaingan pedagang”, jelasnya.

“Selaku pengelola, kami minta maaf kepada para pengunjung atas ketidak nyamanan dalam berwisata disini. Kedepan kita perbaiki”, tambahnya.

Pengelolaan serta pengawasan perlu dibenahi agar kesan yang ditimbulkan tidak “Amburadul”. Adanya kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Desa setempat seharusnya dapat meminimalisir perilaku “arogan” masyarakat terutama pedagang agar lebih bisa membuat pengunjung lebih nyaman.*

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
Close