ACEHDaerah

Ulah Nakal “Anak cucu” Poe Teumeureuhom “Teteskan Air Mata” Pilu

BeritaNasional, Banda Aceh – Siapapun orangnya, bagaimanapun bentuk fisiknya dan apa saja jenis kelaminnya, bila terluka pasti akan merasakan perih dan pedih, tidak jarang harus menangis akibat terlalu sakit luka yang diderita. Begitulah perumpamaannya hal yang dirasakan oleh Sang Pembawa Agama Allah di Tanah Aceh, Khususnya Aceh Jaya, Poe Teumeureuhom.

Poe Teumeureuhom atau nama masyhurnya Sultan Alaidin Ri’ayat Syah, adalah Raja di Nangroe daya Lamno Aceh Jaya dan sekitarnya, pada masa kejayaan kesultanan Aceh. Poe Teumeureuhom juga sebagai pahlawan yang mengusir Protugis di Nanggroe (negeri) daya, Lamno Aceh Jaya pada abat ke 11 Meshi silam.

Makam Poe Teumeureuhom yang terletak di atas Gle (bukit) Kandang Gampong Gle Jong, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya. Salah satu wlokasi wisata religi bagi masyarakat lokal maupun luar daerah, pada setiap Idul Adha tiba. Adat Seumuleueng (menyuap nasi kepada raja- read) menjadi ritual penting yang selalu diperingati setiap tahun, pada hari pertama atau kedua idul Adha. Dihadiri oleh Para raja-raja diseluruh perguyuban kekuasaan Raja Daya (Poe Teumeureuhom) dan Kepala Daerah Kabupaten Aceh Jaya menjadi tamu istimewa di kegiatan itu.

Tapi tahun ini, Poe Teumeureuhom, meski tak berjasat lagi, tapi arwahnya pasti meronta, melihat “Anak-cucunya” yang penuh dengan kemelut memalukan.

Tangisan Arwah Sang Pemegang Adat di masa Kerajaan Aceh Sultan Iskandar Muda ini bukan disebabkan atas ketidak hadiran Bupati Aceh Jaya Drs. T Irfan TB di Haulnya nanti, tapi rasa malu atas apa yang dituduh dilakukan oleh Bupati Aceh Jaya itu telah mencoreng nama baik seluruh masyarakat Aceh Jaya, di dalam maupun yang sedang di luar daerah.

Berdasarkan pemberitaan oleh sejumlah media masa selama sepekan terakhir, berjudul “Salah seorang oknum pejabat di Kabupaten Aceh Jaya diduga telah melakukan perbuatan asusila dengan seorang perempuan non mukhrim” demikian maksud tulisan di sejumlah media lokal di Aceh.

Hal tersebut tentunya menjadi alasan kuat pilunya Sang Raja Daya itu. dalam sejumlah berita di media masa itu dirilis bahwa aksi asusila yang dilakukan mantan sekda Aceh Jaya itu sesuai pengakuan korban, sempat dilakukan berulang kali. Secara langsung saat berduan di dalam sebuah mobil yang ditumpangi maupun tidak langsung, melalui fasilitas elektronik video Call (Hp), akibatnya korban melaporkan perihal itu kepada pihak berwajib, karena merasa dilecehkan.

Meski, polisi belum membuka dan memberikan pernyataan terang kepada publik. Tapi, dua hari lalu, sebuah media merilis, inensial I yang disebut – sebut melakukan pelecehan seksual dari kalangan oknum Pejabat teras di Kabupaten Aceh Jaya itu, ternyata Bupati Aceh Jaya, Drs.T.Irfan, TB “Inensial “I” pejabat yang diduga melakukan asusila adalah Bupati Drs. T .irfan TB” tulis media tersebut.

Lagi-lagi, tamparan keras dirasakan oleh masyatakat Kabupaten Aceh Jaya, karena teka teki inensial “I” yang beredar di lingkungan publik selama ini telah bocor secara gamblang.

Ironisnya lagi, meski demikian vulgarnya diberitakan oleh media masa dan demontrasi Mahasiswa yang mengaku diri mahasiswa peduli Aceh Jaya, pada Selasa, 6 Agustus lalu di Simpang Lima Banda Aceh dan mengusung poster Bupati yang dituduh dan dibumbuhi foto bupati Drs. T. Irfan, TB, Namun hal itu tidak mendapat bantahan sama sekali dari kalangan pejabat di Kabupaten Aceh Jaya.
Bahkan salah seorang pejabat teras di Sekdakab setempat yang dicoba hubungi melalui nomor Whast Appnya, pada 5 Agustus 2019, juga tidak diresponnya.  Padahal koneksinya, on line dan tak lama kemudian WAnya off line  , hingga saat ini tidak dapat dihubungi lagi.

Peristiwa, itu bukan cuma mencoreng nama baik masyarakat Aceh Jaya, di daerah maupun di luar daerah, tapi tangis histeris juga akan terjadi di mata arwah sang tokoh pembangun negeri Daya itu  Poe Teumeureuhom. Mengapa tidak, Kabupaten Aceh Jaya yang terbentuk sejak 2002 silam itu, lahir berlandaskan inspirasi yang merujuk kepada Kecamatan Jaya (Lamno) dan Poe Teumeureuhom adalah Panutan masyarakat Aceh Jaya. khusunya terkait kekokohan agama islamnya. Celakanya, tragedi memalukam itu muncul, kasus asusila yang dilakukan oleh pejabat kelas tinggi di sana, telah membalikkan padangan masyarakat umum terhadap Kabupaten Aceh Jaya dan masyarakatnya.

Kasus tersebut bukan kali pertama terjadi di Kabupaten beribukotakan Calang itu, tapi 5 tahun silam, kasus serupa juga pernah terjadi dan dilakukan oleh Oknum yang sedang bekerja di Lembaga pemerintahan setempat. Untungnya kasus tersebut tidak seviral kali ini dan al hasil oknum Anggota legislatif bersangkutan diganti atau Pergantian Antar Waktu (PAW) oleh lembaga Legislatif setempat.

Kedua pelaku tersebut merupakan politisi usungan dari salah satu partai lokal yang unggul di daeah itu.

Kini, Kabupaten Aceh Jaya sekilas pandang dilihat, sedang membangun dengan berbagai motto yang diusung. Jalur lalu lintas yang sebelumnya memakan waktu tempuh hingga 6-7 jam, tapi sekarang dalam batas waktu 2,5 jam akan tembus menerobos jalan aspal peninggalan program BRR itu, dengan radius 130 KM. Tapi, tidak bagi marwah masyarakat Aceh Jaya, yang kini terpuruk dan lebih runyam dibandingkan hantaman Gelombang Tsunami 14 tahun silam terhadap Pusat Ibu Kota Aceh Jaya itu.

Aceh Jaya, telah hilang marwah, Aceh Jaya telah malu dengan semalu malunya di hadapan publik, bahkan saat ini kendali pemerintah tidak jelas. Entah sama siapa, apakah pada wakil Bupati atau Sekretaris daerah (Sekda) atau memang masih dikendalikan sendiri oleh Bupati Drs.T Irfan TB. Sementara informasi yang diperoleh media ini. Bupati Aceh Jaya sejak sepekan terakhir tidak berada di Aceh Jaya dan juga tidak masuk kantor. (Alan)

Show More

Related Articles

Back to top button
Close
Close